
Betul saja saat ini Berlin benar-benar sudah kehilangan kesadarannya ia langsung menggendong Berlin untuk kembali ke perkemahan. Daniel menatap kecemasan yang berada di wajah Sam sangat tau kalau sebenarnya Sam sangat mencintai Berlin.
Lalu apa alasan kuat ia meninggalkan Berlin dan membuat Berlin terluka. Sam Berlari dengan sekuat tangganya ia tidak mau semuanya terlambat.
"Hey kamu mau diam saja di sini atau pergi mengikuti mereka? " tanya Distin sambil menatap Daniel yang malah melamun melihat Sam yang tengah berlari.
"Ah iya juga yah, " balas Daniel yang baru ingat, setelah itu Daniel berjalan mengejar Sam hanya ingin memastikan kalau Berlin tidak kenapa-napa.
"Terus gue ditinggalin sendiri di sini, " ucap Distin sambil menunjuk dirinya sendiri dan bingung mau memilih jalan yang mana. Antara meneruskan jalannya atau pulang berasa mereka.
"Ah aku pulang saja lah, nanti yang ada aku nyasar lagi, " ucap Distin sambil mengejar dua pria yang sudah berada jauh di depannya.
"Hey tunggu aku ikut, lagian aku juga takut kalau harus melanjutkan perjalanan ku sendiri, " sambung Distin.
Beberapa menit kemudian mereka bertempat sampai di tempat perkemahan itu dengan nafas yang sudah hampir putus, apalagi melihat Sam yang sudah sangat memprihatinkan.
"Sudahlah Berlin adalah orang yang kuat, kau tidak perlu terlalu menghawatirkan nya. Lagipula biasanya juga kamu yang buat dia kayak gini, " ucap Daniel memberikan semangat sekaligus menyindir Sam.
Panita PMR langsung menyuruh Sam membawa Berlin ke tenda mereka dan mereka akan memeriksanya. Daniel juga menghubungi Anggun kalau Berlin saat ini sedang drop dan pingsan.
Setelah waktu menunggu yang amat sangat lama bagi Sam akhirnya waktu itu selesai, para petugas keluar dari tendanya dan memberikan kabar buruk pada mereka yang menunggu Berlin di luar tenda.
"Ada apa? " tanya Sam yang sudah melihat raut wajah para PMR itu tidak akan memberikannya kabar baik untuknya.
"Kita harus bawa Berlin ke Jakarta, kondisinya sangat buruk, " balas salah satu petugas PMR itu.
"Ya sudah biar aku saja yang membawanya pulang, " ucap Sam tegas.
Tapi tiba-tiba tangannya Sam di tarik oleh seorang guru yang kebetulan bertugas sebagai panitia di perkemahan ini.
"Tenang dulu, kau tidak bisa membawa nya dengan kemarahan, " ucap guru itu sambil menenangkan Sam yang saat ini sedang hilang kendali.
"Lalu aku harus apa? melihatnya sekarat di depan mataku? " tanya Sam ngegas.
__ADS_1
"Daniel kau nyang menyetir mobil, ini kunci mobil saya. Kau bawa mereka ke rumah sakit, saya tidak yakin kalau Sam akan membawa mobil dengan tenang, " pak Budi memberikan kunci mobilnya pada Daniel dan meminta Daniel yang menyetir nya.
"Baiklah, " balas Daniel, jujur saja ia senang mendapatkan tugas seperti ini. Jadi ia bisa tau perkembangan Berlin.
Tiba-tiba Anggun datang dengan nafas yang mungkin sudah hampir putus, " Ka-kalian ma-mau bawa Berlin ke-ke Jakarta? " tanya Anggun yang saat ini berdiri di samping Daniel.
"Iya, " balas Daniel sambil menatap Anggun.
"Aku ikut ya pak dia kan sahabat sejati ku, " pinta Anggun sambil melebay-lebay kan ucapannya.
"Sudahlah, cepat kalian pergi. Setelah di sana tolong hubungi orang tuanya, " balas Pada Budi yang mengijinkan Anggun ikut ke Jakarta.
"Tapi nanti barang-barang kita siapa yang bawa pak? " tanya Anggun yang khawatir dengan barang-barang nya.
"Kau tenang saja, " balas Budi.
Sedangkan saat ini Sam sudah membawa Berlin masuk ke dalam mobilnya pak Budi mereka duduk di bangku belakang, sementara yang nyetir adalah Daniel dan yang duduk di samping Daniel ada Anggun.
"Tuhan aku tau aku telah melanggar janjiku tapi aku kali ini berjanji jika kau kembali memberikan dia kesempatan maka aku akan meninggalkannya, " gumam Sam dalam hati.
Jadi sebenarnya hal utama yang membuat dirinya menjauh dari Berlin adalah karena dulu ia pernah berjanji pada Tuhan saat Berlin sedang sangat kritis. Dulu ia berjanji kalau sampai Tuhan membukakan matanya Berlin maka ia akan menjauh dari Berlin untuk selamanya.
Mereka tidak tau saja seberapa sakit Sam juga melalui hidupnya dengan harus membenci orang yang ia cintai, di tambah dulu ada seorang peramal yang mengatakan kalau hidupnya Sam hanya akan membuat orang lain susah.
Dan itu benar-benar terjadi, ibunya meninggal karena dirinya di tambah dulu sahabat kecilnya juga meninggal karena dirinya. Makannya ia tidak mau Berlin pergi dari dunia ini karena dirinya, ia tidak mau itu kembali terjadi.
Sudah terlalu sakit ia melalui semuanya dengan kehilangan orang yang paling dekat dengannya. Sesekali Daniel memperhatikan Sam lewat kaca spion mobil itu dan kini ia benar-benar tau jika memang cintanya Sam sangatlah besar.
Bahkan melebihi cintanya Berlin pada Sam, itulah yang berada di pikirannya Daniel saat ini. Rupanya Anggun juga dapat merasakannya, ia tau kalau Sam punya alasan atas semua perbuatan menjijikan nya itu pad Berlin.
"Kau bisa cepat tidak? kalau tidak biarkan aku yang membawanya, " ucap Sam kesal karena pikirnya Daniel terlalu lambat membawa mobil ini, padahal ini sudah benar-benar cepat.
"Kau mau kita mati? " tanya balik Daniel.
__ADS_1
"Sudahlah Sam kau duduk di sana dan jaga Berlin, jangan banyak protes, " timpa Anggun yang malas mendengarkan bentakan Sam yang suka membuatnya kesal.
Beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang berada di Jakarta dan langsung membawa Berlin ke ruang UGD bersama dengan perawat yang menjaganya di sana.
Setelah berada di depan pintu masuk ke ruang UGD mereka di minta untuk menunggunya di depan ruangan ini sampai mereka selesai memeriksa Berlin.
Sam sedari tadi tak mau duduk kelakuannya hanya mundar-mandir tidak jelas di depan pintu masuk, " Sam kau duduk dulu, " titah Anggun yang melihat Sam saat ini sangat panik.
"Iya lagian kamu gak capek apa dari tadi berdiri mulu? " setuju Daniel.
Sam tidak menjawab ucapan mereka Sam hanya menatap mereka dengan tatapan dingin nya lalu Sam duduk di samping Daniel.
"Setelah dia bangun nanti, tolong jaga Berlin untukku, " pinta Sam yang membuat Daniel kaget.
Daniel langsung menatap ke arah Sam, Anggun pun sama.
"Maksudnya apa? " tanya Daniel yang tidak mengerti.
"Daniel, kamu bukan lagi anak kelas satu SD yang harus aku jelaskan lagi maksud dari perkataannya, " balas Sam sinis.
"Lu mau pergi kemana setelah Berlin bangun? " tanya Anggun yang tau sedikit maksud dari ucapan Sam.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, tapi tolong jaga dia untukku. Katakan kalau aku tadi meninggalkannya di hutan dan tidak memperdulikannya, " jelas Sam.
Tiba-tiba dokter keluar dari dalam ruangan UGD tersebut dan memberikan kalau Berlin hampir saja tidak tertolong, tapi ada sebuah keajaiban dari Tuhan. Tanpa menunggu apapun lagi kini Sam masuk hanya untuk menatap wajahnya Berlin dari jarak dekat untuk terakhir kalinya.
"Berlin aku minta maaf karena gak bisa bareng sama kamu lagi, aku minta maaf, " Sam tiba-tiba menjatuhkan air matanya, ia benar-benar sedih harus kembali seperti kemarin-kemarin.
Tapi inilah yang harus ia lakukan, ia tidak mau melanggar janjinya pada Tuhan lagi.
"Terimakasih untuk dua hari ini Tuhan, kau membiarkanku bersama dengan Berlin. Aku sangat mensyukurinya, " ucapnya sambil mengecup keningnya Berlin.
"Aku pergi yah, kamu udah punya Daniel yang pasti dapat melindungi mu jauh lebih baik daripada aku, " ucapan terakhir Sam sebelum akhirnya pergi meninggalkan Berlin.
__ADS_1