
Berlin sudah turun dari mobil Tio tapi saat ia akan masuk ke halaman rumah Sam, ia malah melihat Sam sedang di marahi oleh ayahnya. Di sana pun ada ibunya Sam yang berdiri dan terlihat sedang mencoba menenangkan suaminya.
"Ada apa sih? " tanya Berlin yang malah bersembunyi dan menguping pembicaraan mereka.
"Saya sudah bilang jika kau masih ingin jadi anakku, maka bersikap baiklah pada Berlin. Kau tidak tau apa saya bekerja keras untuk mendapatkan semuanya, kau malah menghancurkan dalam satu hari, " ucap ayahnya Sam.
Sam hanya terdiam sambil menunduk terlihat wajahnya sudah memar mungkin tadi Sam sempat di pukul oleh ayahnya sendiri.
"Apa? ini semua gara-gara aku? aku tidak pernah tau kalau Sam selalu di perlakukan seperti hanya karena aku? " ucap Berlin sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Saya sudah bilang juga pada anda, kalau anda harus memperbaiki semuanya, tapi apa? tak ada yang kau lakukan, " bentak ayahnya kembali, kali ini ayahnya berjalan melepaskan tangan ibunya Sam.
Pria itu mengambil sebuah rotan yang berada tak jauh dari sana, saat ayahnya Sam akan memukul Sam. Bahkan Sam pun sudah pasrah dan memejamkan matanya, untuk menahan rasa sakit itu, Tiba-tiba seseorang berteriak dari arah gerbang masuk.
"Tunguuuuuu, Om jangan gitu sama Sam dong, kan kasian, " teriak Berlin yang berlari menghampiri Sam dan berdiri di hadapan Sam sambil merentangkan tangannya.
"Kamu kenapa ada di sini? " tanya Ayahnya Sam yang kaget melihat Berlin berada di sana.
Sam menarik nafasnya lega, akhirnya ayahnya tak memukul dirinya untuk saat ini.
"Om, om gak bisa lakuin ini sama anak om hanya karena om gak dapet kerja sama dengan ayahku, soal itu aku akan bicara sama ayahku. Om tenang saja, tapi janji padaku, jangan pernah lakukan itu pada Sam lagi, " ucap Berlin kesal. Jujur saja kalau yang berada di depannya ini bukan ayahnya Sam mungkin ia sudah memakinya.
Ayahnya Sam masuk ke rumahnya, " Makasih yah sayang, " ucap ibunya Sam yang ikut mengikuti langkah suaminya.
Berlin langsung berbalik dan menatap Sam, "Kamu gak papa? " tanya Berlin khawatir.
"Ngapain ke sini sih? " tanya balik Sam sambil berjalan menuju kursi dan duduk di sana.
Berlin ikut duduk di kursi yang berada di samping Sam, " Nih mau balikin ponsel kamu yang ketinggalan, " balas Berlin sambil memberikan ponselnya Sam.
"Makasih, " balas Sam sambil mengambil ponsel itu dari tangan Berlin dengan kasar.
"Biasa aja kali, " ucap Berlin sambil menatap sinis Sam.
__ADS_1
"Kenapa? mau bilang orang tua kamu kalau aku kasarin kamu? " tanya Sam sambil menatap Berlin dengan tatapan menantang.
"Eh, kenapa gak bilang sih kalau ayahmu suka kayak gitu sama kamu? tau gitu kan aku tinggal bilang sama papah, " balas Berlin yang merasa bersalah.
"Ngapain juga bilang sama lu? " ucap Sam ketus.
"Hey bambang, lu mah ngeselin tau gak, " balas Berlin kesal sambil melipat kedua tanganya di dada.
"Ya udah sekarang lu udah tau juga kan? ngapain gue mesti susah-susah bilang sama lu? gue bukan pengemis yang meminta belas kasihan seseorang untuk kebahagian gue, " ucap Sam tegas.
"Ah banyak bicara banget sih, " balas Berlin sambil mengeluarkan kotak obat yang berada di tasnya.
"Sini, " Berlin menarik dagu Sam untuk melihat luka lebam di wajah Sam.
"Mau ngapain sih? " tanya Sam ketus.
"Mau di obatin lah masa mau gue cium, " balas Berlin yang langsung mengobati luka Sam.
Sam pun terdiam sambil sesekali meringis kesakitan karena lukanya yang sedang di obati Berlin.
"Ya udah kalau udah mah, " balas Sam acuh sambil memalingkan tatapannya.
"Ok kalau gitu gue pulang dulu yah, lagian kan gue ke sini cuman mau nganterin ponsel lu yang ketinggalan aja, " pamit Berlin sambil berdiri.
"Tunggu gue anterin, " ucap Sam sambil ikut berdiri dan berjalan menuju mobilnya.
"Tapi inget jangan kegeeran, gue nganterin lu cuman sebagai tanda terimakasih aja, " sambung Sam.
"Iya-iya bawel banget sih, " balas Berlin yang mengikuti langkah Sam.
Mereka saat ini sudah berada dalam mobil, sedari tadi tak ada sepatah katapun yang mereka keluarkan. Sepertinya mereka sudah mulai terjebak pada pikirannya masing-masing, Berlin bahagian bisa bersama Sam walau pun tak bisa memeluknya.
Tapi setidaknya Berlin masih bisa menatapnya dan melihat senyuman manis dari bibirnya yang indah itu, beberapa menit kemudian mereka sampailah di rumahnya Berlin.
__ADS_1
Gadis itu langsung turun dari mobil Sam dan berpamitan pada pria itu, " Bay, gak mau mampir dulu gitu? " tanya Berlin.
"Gak mau, " balas Sam datar sambil memajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Berlin.
"Dasar si hati batu, " umpat Berlin sambil masuk ke rumahnya dan pergi menghampiri ayahnya.
Ia sudah tak sabar ingin bicara pada ayahnya itu, " Papah, " teriak Berlin mencari ayahnya.
"Apa sayang, " saut ayahnya yang berada di ruangan kerja.
Berlin berlari ke arah ruang kerja ayahnya, "Pah aku boleh masuk? " tanya Berlin manja sambil menempelkan tubuhnya ke pintu masuk.
"Masuk saja, " balas ayahnya.
Berlin pun masuk dan duduk di hadapan ayahnya dengan senyuman termanis yang ia punya, "Mah, " panggil Berlin manja.
"Apa sayang? " tanya ayahnya sambil menutup leptopnya.
"Boleh gak aku minta satu permintaan? " tanya balik Berlin.
"Boleh, memangnya kamu mau apa? "
"Pah, jangan batalkan semua kerja sama papah sama perusahaan ayahnya Sam yah? aku mohon, " balas Berlin sambil menampilkan wajah memelas nya.
"Kamu di paksa yah sama Sam? " tanya ayahnya, khawatir anaknya di ancam oleh Sam.
"Tidak-tidak Sam enggak paksa aku kok, aku bahagia hari ini Sam baik sama aku, dia kayaknya udah mau berubah deh. Tadi aku juga lihat ayahnya Sam main tangan sama Sam, aku kasihan, " Berlin menjelaskan apa yang terjadi.
"Benarkah? " tanya ayahnya Berlin tak percaya kalau ayahnya Sam sampai setega itu pada anaknya.
"Iya tadi aku liat dengan mata kepalaku sendiri, " balas Berlin.
"Baiklah besok aku akan bicarakan ini pada ayahnya Sam, kamu tenang aja yah, " ayahnya Berlin mengabulkan permintaan putrinya tersebut.
__ADS_1
"Makasih yah papah, " balas Berlin sambil mengecup kening ayahnya lalu setelah itu Berlin pergi dari sana sambil tersenyum.
Berlin pergi ke kamarnya untuk menidurkan tubuhnya yang sudah mulai butuh istirahat.