Kehilangan Mengajarkan Ku

Kehilangan Mengajarkan Ku
7, Kehilangan Buku


__ADS_3

Bel pulang pun berbunyi saat ini Berlin sudah menunggu kedatangan kakak nya, namun rupanya kakaknya tak kunjung juga datar, Tiba-tiba Berlin melihat Sam berjalan menuju kendaraan nya, Berlin awalnya berniat untuk meminta antar pada Sam.


"Sam? " panggil Berlin sambil berlari ke arah Sam dan melambaikan tangannya.


Sam menghentikan langkahnya, " Apa, " saut Sam.


"Anterin aku pulang yuk, " pinta Berlin sambil menatap Sam dengan penuh harap.


"Gak, " balas Sam, singkat, padat dan jelas.


"Sam, kakak ku gak jemput aku, " pinta Berlin sambil memegang tangan Sam.


"Gak, aku bilang enggak ya enggak, " bentak Sam sambil melepas tangan Berlin dengan kasar.


"Kamu kok gitu sih? " tanya Berlin sambil memegang tangannya.


"Aku bilang gak mau, kamu tuh kenapa sih gak pernah ngerti kalau aku udah ngomong sekali? perlu banget gitu yah aku teriak-teriak dulu di depan kamu biar kamu ngerti dengan ucapan ku, " bentak Sam sambil menatap tajam Berlin.


Berlin berusaha menahan rasa sakitnya, ia nerusaha juga menahan air matanya yang sudah siap terjun ke pipi indahnya itu. Saat Sam akan kembali bicara tiba-tiba ada seorang pria yang berdiri di hadapan Berlin, sambil menatap tajam Sam.

__ADS_1


"Mau apa lu? " tanya Sam kasar.


"Kalau gak mau nganterin bisa kan ngomongnya baik-baik? " ucap pria itu sambil menggenggam tangan Berlin, berusaha menenangkan Berlin.


"Lu siapa? " tanya Sam.


"Gue siapa itu bukan urusan lu, yang perlu lu tau saat ini adalah, kalau lu gak mau gak usah bentak-bentak cewek di depan umum juga, " final, itu adalah ucapan terakhir yang pria itu katakan pada Sam, setelah itu pria itu lergi meninggalkan Sam sambil menarik tangan Berlin untuk menuju mobilnya.


"Kamu gak papa kan? " tanya Daniel saat sudah berada di mobil bersama dengan Berlin.


"Gak papa kok, itu udah biasa, dia emang gitu orang nya, " balas Berlin sambil menggeleng.


Berlin pun mengangguk, lalu Daniel langsung menajukan mobilnya dan pergi mengantar Berlin pulang ke rumah nya. Sementara itu di tempat lain Sam tengah menatap kepergian mobil Daniel dengan tersenyum kecut, setelah puas memandang mobil Daniel kini Sam masuk ke mobilnya.


"Dasar cewek rese, " gumamnya sambil mulai memajukan mobilnya, ia membawa mobilnya untuk pulang, rasanya hari ini ia benar-benar butuh istirahat.


Sementara itu Anggun saat ini sedang berada di perjalanan pulang, namun tiba-tiba ia ingin sekali pergi ke supermarket untuk membeli beberapa barang yang ia butuhkan, ia turun dari mobilnya laku masuk ke sebuah tempat perbelanjaan, namun tiba-tiba ia mengehentikan langkahnya saat melihat seorang pria tengah berdiri di sebuah toko buku sambil tersenyum menatap sebuah buku kanak-kanak.


Dengan hati-hati Anggun berjalan mendekat ke arah pria itu, ia berpura-pura ikut mencari buku dan dengan sengaja ia menyenggol pria itu, " Sorry gue gak sengaja, " ucap Anggun sambil menunduk.

__ADS_1


Pria itu langsung menyimpan buku itu ke rak nya kembali, lalu berjalan meninggalkan Anggun di sana, namun tiba-tiba ia menjatuhkan salah satu buku dari beberapa buku yang ia pegang, Anggun berniat untuk memberi tahu orang itu namun setelah mengambil buku yang jatuhnya ia malah kehilangan orang itu, jadi saat ini ia berniat untuk mengembalikan nya besok saaj di Sekolah.


Beberapa menit berlalu Anggun telah selesai membeli beberapa makanan, kini ia kembali masuk ke mobilnya, namun ia benar-benar kepo dengan apa yang ada di dalam buku yang terlihat sudah mulai usang ini. Dengan sangat hati-hati ia membuka buku itu, dan ia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang ia lihat di buku itu.


"Bagaimana bisa ini? " ucap Anggun tak percaya.


"Kalau misalkan benci pada Berlin lalu untuk apa Sam masih menyimpan buku tua ini, bahkan ini sudah tidak dapat di sebut sebagai buku lagi, " gumam Anggun sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Di dalam itu terdapat beberapa poto Sam dan Berlin saat kecil, di tambah di sana juga terdapat beberapa coretan tangan Berlin dan juga Sam, tentang sebuah kehidupan dan juga persahabatan. Bahkan Anggun membacanya sambil menangis ia benar-benar terharu dengan persahabatan mereka.


Lalu saat ini yang ada di pikiran Anggun adalah, jika Sam benar-benar sayang pada Berlin sesuai dengan apa yang ada dalam tulisan di buku itu, lalu apa alasan yang membuat Sam menjauh dari Berlin, bukannya seharusnya Sam berada di samping Berlin saat ini, orangtua Berlin juga pasti memberikan kondisi kesehatannya pada Sam.


Ini benar-benar lebih pusing dari rumus matematika, akhirnya Anggun menyimpan buku itu di tasnya, lalu melanjutkan kembali perjalanannya. Di tempat lain Sam sedang kebingungan karena bukunya hilang.


"Kemana lagi, " Sam sudah mencarinya ke tempat terakhir ia datangi, namun ia tetap tidak menemukan buku itu.


"Aduh, " Sam masuk kembali ke dalam mobilnya sambil memegang kepalanya, itu adalah barang terakhir yang ia punya yang di berikan langsung oleh Berlin padanya.


Sam benar-benar sedih jika benar buku itu benar-benar sampai hilang, ia tidak tau harus bagaimana lagi mencari buku itu, kacaunya lagi jika sedang gelisah Sam tidak dapat berpikir secara jernih.

__ADS_1


__ADS_2