
Semua murid sudah berkumpul di lapangan, mereka sudah tadi baru saja selesai sarapan dan pada kali ini mereka sudah bersiap untuk pergi melakukan kegiatan lintas alam di hutan.
Para panitia kemarin sudah menyimpan beberapa petunjuk di pohon-pohon yang berada di hutan tersebut. Untuk mempermudah para peserta mencari jalan pulang dan agar para peserta tidak nyasar.
"Kamu yakin mau ikut? " tanya Anggun pada Berlin yang saat ini masih berada di sampingnya, mereka belum di perintah untuk berkumpul bersama kelompoknya.
Kebetulan teman wanita di kelompok Berlin tak bisa ikut karena dia sakit dan harus segera di bawa pulang ke Jakarta, jadi saat ini mereka hanya bertiga Berlin, Sam dan juga Daniel saja.
"Aku gak papa kok, " balas Berlin meyakinkan Anggun bahwa dirinya tidaklah kenapa-napa.
"Baiklah anak-anak kalian sekarang harus berkumpul bersama dengan kelompok kalian masing-masing, " teriak seorang panitia di depan panggung menggunakan pengeras suara.
"Aku pergi dulu yah, " pamit Berlin pada Anggun, ia ingin mencari kedua rekan sekelompok nya.
Baru saja Berlin akan mencari keberadaan mereka, tiba-tiba Sam menarik tangannya Berlin agar gadis itu mengikuti dirinya berbaris bersama Daniel di barisan kelompok nya.
"Kau habis darimana saja? " tanya Sam datar tanpa menatap ke arah Berlin.
"Kau mencari ku? " tanya balik Berlin, bukannya menjawab Berlin malah balik bertanya pada Sam.
"Sudahlah aku tidak ingin menjawab ucapan mu, kau pasti sudah tau apa jawabannya, " balas Sam yang kini sudah sampai di barisannya. Sam menempatkan Berlin di barisan paling depan, sedangkan dirinya berada di belakang Berlin, lalu Daniel berada di barisan paling belakang.
"Benarkah kau pada akhirnya mencari ku kembali? sudah lama aku tidak pernah kau cari, " ucap Berlin sambil menghadapkan wajahnya ke hadapan Sam.
"Sudah jangan banyak bicara, " balas Sam sambil kembali menghadapkan wajahnya Berlin agar menatap ke arah depan.
"Anak-anak jangan pada ribut yah, saya akan menjelaskan beberapa hal yang mesti kalian lakukan nanti di sana, " ucap panitia yang tadi.
"Dengarkan orang itu baik-baik, soalnya setiap hal kamu pasti selalu salah melakukannya. Walaupun kau sudah mendengarkannya, " ledek Sam sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Berlin langsung menatap Sam dengan tatapan kecut, " Benarkah? bagaimana kalau kita buktikan saat ini, siapa yang paling tidak bisa melakukan suatu hal dengan benar, " tantang Berlin sambil menghadapkan tubuhnya kembali ke hadapan Sam.
"Aku akan menerima tantangan kamu, begini jika sampai kau saat ini dapat mengingat apa yang dia sampaikan sampai nanti di berjalan. Aku berjanji akan menuruti semua permintaan mu, tapi kalau kau gagal makan kau yang harus mengabulkan permintaan ku, " balas Sam yang menyetujui permintaan Berlin.
Berlin mengacungkan jari kelingking nya ke hadapan Sam, untuk mengikat perjanjian mereka. Sebelum Sam membalas itu ia sempat menatap jarinya Berlin sebentar saja.
"HM, lu berdua pikir gue ini nyamuk atau penonton kalian apa? sampai-sampai sedari tadi kalian hanya cuek padaku, " kesal Daniel yang merasa tidak di anggap.
Baru saja Berlin akan membalas ucapan Daniel, namun Sam melarangnya dan membuat Berlin kembali fokus dengan apa yang panitia itu katakan tentang apapun yang akan mereka temukan di sana. Berlin mendengarkan itu semua dengan sangat seksama, ia ingin Sam menuruti satu permintaan nya.
Yaitu jangan pernah kembali berubah, hanya itu yang Berlin inginkan dari sesosok pria di depannya ini. Namun Sam tau kalau pada akhirnya dirinya akan menang, dan perjanjian ini sudah ia atur, ia juga sudah tau apa permintaan yang akan Berlin minta pada dirinya. Tapi ia pastikan permintaan itu tidak akan terwujud, atau bisa terwujud namun dengan kemungkinan yang kecil saja.
Para peserta sudah mulai berangkat satu persatu menyesuaikan dengan kelompoknya dan kali ini sudah bagian kelompok Berlin, namun tadi panitia menambahkan satu perempuan ke kelompok ini yang bernama Distin. Alasannya dia di masukan ke kelompok ini ya karena kelompok kita hanya bertiga sedangkan kelompok nya berlima.
Jadi untuk membuatnya seimbang panitia meminta nya untuk pindah kelompok saja, tapi untuk kegiatan ini saja. Untuk yang lainnya masih sama kelompok nya dengan kelompok pertama dirinya.
Sam dan yang lainnya sudah mulai keluar dari bumi perkemahan, saat ini mereka sedang menelusuri kebun teh yang amat sangat lua. Tapi sayangnya di sini sangat curam jadi tidak di memperbolehkan untuk membawa anak kecil ke kawasan ini, tempat ini khusus hanya untuk orang dewasa saja.
"Benarkah kita di sini hanya di tugaskan untuk mendengarkan ucapan mereka? " sindir Daniel kesal sambil tersenyum kecut dan menatap ke arah lain.
Berlin tersenyum manis mendengar ucapan Daniel yang ia tau pasti itu ditujukan padanya dan juga Sam, Sam seperti nya ingin memanas-manasi Daniel dengan memegang tangannya Berlin lalu menatapnya.
"Jangan dengarkan orang bodoh yang bisanya cuman ngoceh tidak jelas itu, " pinta Sam sambil menyindir Daniel.
Daniel mendengar itu sangatlah kesal, " Ingat aku tidaklah sebodoh yang kalian pikirkan, " ucap Daniel sambil berjalan ke arah tengah-tengah mereka dan melepaskan tangannya Sam yang memegang Berlin.
Distin yang merasa dirinya sendirian kemudian berjalan mengikuti Daniel dan kembali duduk di sebelahnya Daniel.
"Jangan tinggalkan aku sendirian, " ucap Distin sambil menatap Daniel kesal karena telah meninggalkannya.
__ADS_1
Berlin mendadak menghentikan langkahnya sambil menatap jalan yang akan mereka lalui saat ini. Sam yang sedang memegang tangan Berlin pun ikut menghentikan langkahnya sambil menatap ke arah Berlin.
"Benarkah ini jalannya? aku tidak akan kuat jalan kalau begini, " ucap Berlin sambil melepaskan tangannya lalu duduk di tanah seperti anak kecil yang tidak di beri uang jajan saja.
"Aku akan menggendong mu, " ucap Sam sambil berjongkok di hadapan Berlin.
"Aku tidak mau di gendong, aku mau jalan. Aku kuat kok, " balas Berlin yang kembali berdiri, ia juga tidak akan tega jika harus melihat Sam kecapean karena menggendong dirinya.
"Sam ku yang manis, aku lebih baik mati daripada melihatmu menderita karena ku, " gumam Berlin sambil menatap hangat ke mata Sam.
"Hey jangan buat hal gila dengan mengatakan kalau kamu tidak akan kenapa-napa ketika berjalan menaiki tebing itu, " ucap Daniel agak nyolot.
"Hey jangan berbicara seperti itu padaku, " balas Berlin tak Terima, " Memangnya aku selemah itu dengan tidak bisa berjalan ke sana, " sambung Berlin sambil menatap kesal ke arah Daniel.
Berlin berjalan mendahului mereka, lalu mereka langsung mengejarnya dan membujuk gadis itu untuk di gendong saja.
"Kamu lihat tanda itu? " Sam yang sudah berada di samping Berlin pun menunjuk sebuah pita berwarna kuning yang terikat di pohon itu.
Berlin menghentikan langkah nya sambil menepuk keningnya perlahan, " Yang benar saja aku lupa akan hal itu, kenapa aku ini sangat-sangat bodoh dengan tidak mengingatnya, " gumam Berlin dalam hati.
"Aku sudah pastikan kalau kamu akan lupa dengan hal itu, jadi kamu akan menuruti permintaan ku, " ucap Sam sambil mengangkat kan alis kanannya.
"Hey kalian berdua, kalian mau menyelesaikan ini apa berpacaran? yang benar saja, " teriak Daniel yang sudah agak jauh berada di depan Sam dan juga Berlin.
"Diam dulu napa sih, " balas Berlin sambil menatap tajam ke arah Daniel. Berlin kembali berbalik dan menatap ke arah Sam sembari cengengesan.
"Iya aku lupa, ya sudah nanti aku akan kabulkan satu permintaan mu, " balas Berlin.
Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, namun setelah perjalan mereka cukup jauh tiba-tiba Berlin kembali menghentikan langkahnya sambil memegang dadanya.
__ADS_1
Alat pendeteksi detak jantung nya yang berada di tangan kanannya berbunyi begitu cepat membuat Sam yang berada di samping nya langsung menahan tubuhnya Berlin, ia hanya takut jika tubuhnya mendadak rubuh.