
Bel masuk kembali berbunyi mereka bertiga pun langsung menyelesaikan makannya dan bergegas menuju kelasnya kembali, tapi di perjalanan Berlin mendadak menghentikan langkahnya.
"Kenapa sih? " tanya Anggun sambil ikut menghentikan langkahnya dan menatap Berlin.
"Aku mau ke kamar mandi dulu yah, kebelet nih. Kalian pergi duluan aja ke kelas, " balas Berlin sambil berlari menuju kamar mandi.
Daniel dan Anggun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas, sedangkan Berlin saat ini sudah berada di kamar mandi. Setelah selesai buang air kecil tiba-tiba Desi terpeleset di depan pintu, ia berteriak kaget.
Sam yang sedang berjalan di depan kamar mandi pun langsung bergegas masuk ke kamar mandi itu, ia sebenarnya tak tau kalau itu adalah Berlin. Saat sudah berada di kamar mandi ia langsung menatap Berlin yang sedang terduduk sambil menegang kakinya yang kesakitan.
Sam berjalan dan berjongkok di hadapan Berlin, " Kenapa? " tanya Sam datar.
Berlin yang mengenali suara pria ini langsung menatap Sam dengan tatapan yang susah di artikan, " Ngapain sih kamu ke sini? " tanya Berlin sinis.
"Jangan geer, saya cuman datang gara-gara mendengar orang yang teriak, kalau saya tau itu anda saya pun tak akan menolongnya, " balas Sam sambil membantu Berlin untuk berdiri.
"Jangan pegang gue, " ucap Berlin yang tak mau di pegang oleh Sam, gadis itu langsung melepaskan tangan Sam yang berada di lengannya.
Sam melepaskan tangannya lalu berdiri dan membiarkan Berlin berdiri sendiri, tapi gadis itu memang benar-benar tak bisa berdiri sendiri kakinya terlalu sakit untuk ia gunakan sebagai penopang tubuhnya.
"Jangan bawel, " ucap Sam yang langsung memangku Berlin dan membawa gadis itu ke ruang UKS untuk di periksa.
Semua mata menatap mereka karena Sam keluar dari kamar mandi wanita dan itu membuat mereka bertanya-tanya, sebenarnya Sam tidak peduli dengan tatapan mereka namun ia kasihan pada Berlin, jadi ia mencepatkan jalannya.
Sampailah ia di ruang UKS, Sam langsung menidurkan Berlin di tempat tidur yang berada di sana. Para petugas PMR pun langsung memeriksa keadaan Berlin, saat petugas PMR menegang kakinya Berlin merintis kesakitan.
"Jangan di pegang sakit tau, " ucap Berlin.
Sam menunggu Berlin di sofa yang berada di ruangan itu sampai-sampai ia tak kuasa menahan tawanya melihat Berlin yang kesakitan, bukannya apa-apa melihat Berlin seperti ini tuh benar-benar lucu menurut nya.
"Hey, jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, " ucap Berlin sambil menunjuk Sam dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ahhh sakit-sakit SAKIIIIITTT, " Teriak Berlin sambil memukul PMRnya.
__ADS_1
"Kan namanya juga di obatin, " balas salah satu PMRnya.
"Tapikan sakit, bisa gak pelan-pelan? " Berlin meminta mereka untuk pelan-pelan.
"Eh bawel, gak usah banyak bicara tau gak, mereka lagi obatin luka lu, " ucap Sam yang kesal mendengar Berlin yang terlalu banyak bicara.
"Berisik lu, kalau lu gak mau denger ucapan gue. Tinggal keluar aja bisa kan? " balas Berlin.
"Gue gak mau keluar, masih mau liat muka tersiksa lu, " ucap Sam sambil melipat tanganya di dada dan menatap ke arah Berlin.
"Ih jahat lu, " balas Berlin sambil memalingkan tatapannya, jujur saja walaupun kesal tapi Berlin bahagia Sam berada di sampingnya.
Ia memang akan melupakan Sam, namun bukan sebagai sahabat melaikan melupakan Sam sebagai pacar, ia akan tetap menganggap Sam sebagai sahabatnya apapun yang terjadi.
Daniel dan Anggun tiba-tiba datang dengan keadaan nafas yang tak beraturan, mereka pun langsung menatap ke arah Daniel dan Anggun yang baru datang dengan tatapan heran.
"Abis di kejar hantu? " tanya Berlin sambil menatap mereka berdua.
Sam berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan itu, " Gak seru, ada pengganggu, " sindir Sam pada Daniel.
Berlin menatap kepergian Sam dengan sedikit kecewa, namun ia juga tidak mungkin menyalahkan Daniel ataupun Anggun. Jadi ya sudahlah memang jadi manusia yang baik itu harus terus sabar.
Daniel dan Anggun berjalan mendekati Berlin yang sudah selesai di perban, " Lu kenapa harus sama dia? " tanya Daniel yang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Jadi gini, tadi tuh aku jatuh di kamar mandi, eh pas teriak Sam yang nyamperin aku. Ya udah deh jadinya dia yang bawa aku ke sini, " balas Berlin ia tak mengatakan semuanya.
"Ouh, gue pikir dia yang buat lu kayak gini, " ucap Anggun sambil menganggukan kepalanya.
"Enggak kok, " balas Berlin sambil mengibaskan tangannya.
"Eh, terus ngapain dia tadi nungguin lu? " Tanya Daniel.
"Tau ah gue gak mikirin soal begituan, lagian gue gak peduli alasannya apa, itukan bukan urusan gue juga, " balas Berlin yang merasa itu tak penting bagi mereka ketahui.
__ADS_1
Dalam persahabatan pun tak perlu terlalu mengumbar apa yang terjadi pada diri kita setiap waktu bahkan sampai setiap detik. Jujur saja itu benar-benar tak perlu di lakukan.
"Kalian masuk aja ke kelas, aku di sini sendirian aja. Eh lagian ada petugas PMR juga, " ucap Berlin yang menyuruh mereka untuk masuk kelas saja.
"Tapikan gue gak enak sama lu, " balas Anggun.
"Alah bilang aja lu males masuk kelas, " Berlin tau kalau ucapan yang Anggun berikan itu hanyalah alasan agar Anggun tak masuk kelas.
"Pinter juga lu jadi orang, " balas Anggun sambil cengengesan.
"Ya udah kalau gitu gue ke kelas dulu yah, " pamit Daniel yang mau masuk kelas.
"Tu liat si Daniel, walaupun pria dia mau kok masuk kelas, " sindir Berlin pada Anggun.
"Ya udah deh gue masuk kelas, " balas Anggun yang akhirnya memutuskan untuk masuk kelas saja.
Berlin tersenyum melihat mereka yang kini sudah berjalan menjauh dari dirinya. Setelah Berlin tak dapat melihat mereka berdua kembali, Berlin langsung menidurkan tubuhnya di sana sambil menatap langit-langit dan melamun.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu UKS itu tanpa perasaan sampai-sampai membuat Berlin terkejut dan langsung menatap pria itu dengan tatapan kesal dan marah.
"Lu kalau mau masuk bisakan pelan-pelan buka pintunya, atau lu salam dulu gitu? gimana kalau penyakit jantung gue kambuh, terus mati? tau rasa luh, " ucap Berlin kesal.
Berlin memegang dadanya, detak jantunya tadi sempat berdetak kencang karena kaget namun akhirnya detak jantunya kembali turun.
"Tapi buktinya lu gak mati juga kan? " balas pria itu sambil menampilkan wajah tanpa dosa.
"Kayaknya lu pengen banget yah gue mati, " ucap Berlin sambil tersenyum kecut.
"Kalau gue mau ku mati, ngapain gu susah-susah lakuin hal kayak gini, " gumam pria itu pelan.
"Ngomong apa sih luh? " tanya Berlin.
"Ngomong bahasa alien, " balas pria itu sinis sambil duduk di sofa.
__ADS_1