Kehilangan Mengajarkan Ku

Kehilangan Mengajarkan Ku
Mengorbankan Sesuatu Untuk Mendapatkan Sesuatu


__ADS_3

"Emangnya apa yang pengen lu sampaikan ke gue? " tanya Sam yang juga mengalihkan tatapannya.


"Banyak, tapi ada satu hal bener-bener pengen gue ucapin sama lu, " balas Daniel, yah orang itu adalah Daniel.


"Apa emangnya? " tanya Sam sambil kembali menatap Daniel.


"Lu suka menukar sesuatu dengan sesuatu yah? kalau lu lagi doa sama Tuhan, " ucap Daniel sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi.


"Bukan urusan loh, " balas Sam yang tak mau bicara apapun tentang ini pada siapapun itu.


"Ini urusan gue lah, karena orang yang lu doakan itu adalah orang yang gue cinta, " ujar Daniel yang jujur dengan perasaannya pada Sam.


"Gue tau kok kalau lu cinta sama dia, jadi gue mohon jagain dia, " balas Sam sambil berdiri dan pergi dari samping Daniel.


"Lu mau kemana lagi sih? " tanya Daniel sambil ikut berdiri.


Sam yang sedang berjalan pun menghentikan langkahnya tanpa berbalik, " Bukan urusan lo juga, " balas Sam, setelah itu Sam kembali melanjutkan perjalanan nya.


Daniel pun ikut berjalan ke arah yang berbeda, karena ia ingin pulang saat ini. Percuma saja soalnya jika sampai Daniel mengejar Sam untuk menanyakan itu karena pada akhirnya Sam tetap tak akan pernah berkata apapun tentang hal ini.


Daniel naik kembali ke mobilnya yang ia simpan di pinggir jalan, lalu setelah itu ia langsung menyalakan mobil itu dan pergi ke rumahnya.


Sedangkan saat ini Sam tengah berjalan menuju apartemen yang ibunya dulu belikan untuknya, setelah sampai pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Kamar apartemen ini sangat wangi lavender, aroma parfum kesukaan ibunya dan Berlin.


"Aku rindu kalian, " gumam Sam sambil menutup kepalanya menggunakan bantal.

__ADS_1


Sedangkan saat ini di rumah sakit Berlin sudah diperbolehkan untuk pulang, kini Berlin sudah berada dalam mobil ayahnya dan akan pulang ke rumahnya. Selama di perjalanan Berlin terus saja menatap ke arah luar jendela mobil, memandang kendaraan yang berlalu-lalang.


"Sam apa salahku? sampai-sampai kau dengan teganya meninggalkan ku di saat aku benar-benar membutuhkan mu, " tanya Berlin dalam hati pada Tuhan.


"Apakah ini memang karena penyakit ku? Sam aku juga gak mau berada dalam posisi yang seperti ini Sam, aku gak mau, " ucapnya lagi.


"Sayang, " panggil ibunya Berlin sambil menatap Berlin yang sedang melamun.


"Iya mah, " saut Berlin yang langsung menatap ibunya.


"Sayang, kamu yang sabar yah, mamah tau ini berat tapi kamu harus bisa keluar dari semua ini. Mulai saat ini kau lupakan Sam yah? " pinta Ibunya Berlin yang tak mau anaknya terluka terus-menerus karena Sam.


"Bu kalau aku bisa melupakan dia, sudah ku lupakan sedari dulu, tapi sayangnya aku gak bisa bu, " balas Berlin yang memang tak bisa melupakan Sam dari ingatan dan hatinya.


"Ibu yakin dengan berjalannya waktu kamu akan bisa melupakan Sam, " ucap ibunya yakin.


Beberapa menit kemudian Berlin dan keluarganya sampai di rumah. Mereka langsung saja masuk ke rumah itu, Berlin pergi ke kamarnya sedangkan kedua orang tuanya pergi dan duduk di ruang tamu.


Di kamar Berlin langsung membaringkan tubuhnya menatap ke atas, " Berlin lupakan Sam, aku mohon lupakan dia, " ucap Berlin sambil menegang kepalanya dengan kedua tangan


"Ahhhhh, tapi aku gak bisa. Sam aku gak bisa lupain kamu, malah makin inget, " teriak Berlin sambil mengguling-gulingkan tubuhnya.


"Sayang kamu kenapa? " tanya ibunya dari lantai bawah, karena teriakan Berlin sampai ke lantai bawah.


"Aku gak papa kok, " balas Berlin sambil menutup wajahnya menggunakan bantal.

__ADS_1


"Ok, " ujar ibunya kembali.


"Ok Sam, aku tetep bakalan ngejar kamu, aku yakin kamu pasti punya alasan akan semua hal ini, " gumam Berlin sambil membuka bantal yang menghalangi wajahnya lalu tersenyum.


Di tempat lain Anggun saat ini juga sedang berada di rumahnya sambil memandang foto seseorang, " Aku malah jatuh cinta padamu, " ucap Anggun sambil menatap Foto itu sambil tersenyum.


"Aku gak tau harus bagaimana? aku sebenarnya tak mau jatuh cinta padamu, tapi hatiku malah memilihmu, " gumam Anggun sambil memeluk foto itu.


"Apakah aku harus merelakan mu demi Berlin? apakah aku harus memperjuangkan cintaku padamu? Ah sudahlah aku pusing, " ucap Anggun sambil menidurkan tubuhnya di kasur.


Saat ini keempat orang itu sedang berada pada situasi yang benar-benar tak pernah ia inginkan sejak dulu, semuanya sedang kebingungan dengan situasi mereka masing-masing.


Di sisi lain mereka bahagia, tapi di sisi lainnya lagi ia tau akibat kebahagiaan yang saat ini mereka dapatkan. Mereka harus menerima konsekuensi, mereka harus menerima akibat dari kebahagiaan mereka semua.


Daniel sedang berada di ruang tamu rumahnya sambil menatap kosong ke arah depan, ia bahagia jika Berlin kini menjadi tanggung jawabnya. Karena Sam sudah menyerahkan Berlin padanya, tapi ia harus sedih karena pada dasarnya ia tau kalau yang berada di hatinya Berlin adalah Sam, aku ulangin sekali lagi.


Yang berada di hatinya Berlin hanyalah Sam, sampai kapan Daniel akan menerima kenyataan ini? ia pun tak tau.


"Aku cinta dia Tuhan, aku cinta dia, " ucap Daniel sambil memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya.


"Tapi aku tak bisa membuatnya jatuh cinta padaku, aku harus apa Tuhan? aku harus apa? " Tanya Daniel pada Tuhan sambil menundukkan kepalanya.


"Saat ini aku tak tau harus apa? " lanjutnya.


Daniel adalah pria yang mudah sakit hati jika itu sudah berurusan dengan orang yang ia sayang, ada hal yang dulu pernah ia lakukan pada mantan kekasihnya yang pada akhirnya membuat Daniel lemah dalam urusan mencintai.

__ADS_1


Daniel berdiri lalu berjalan menuju kamarnya, ia sedang ingin tidur sore ini. Hari sudah mulai sore, sebenarnya ia ingin main keluar untuk mencari angin segar, tapi ia malas untuk melakukan itu sendirian.


__ADS_2