
Kini sudah waktunya hari dimana perkemahan itu di adakan, namun saat Berlin baru saja sampai di sekolah ia langsung di tarik oleh Sam menuju taman belakang.
"Aku minta jangan ikut perkemahan ini, tapi ingat jangan salah paham. Aku hanya tidak mau kau kembali drop, " ucap Sam sambil menatap tajam pada Berlin.
"Kenapa? memangnya kau masih peduli dengan ku? " tantang Berlin sambil kembali menatap tajam ke arah Sam.
"Aku hanya tidak mau kau kenapa-napa, " balas Sam sambil memalingkan tatapannya.
"Kenapa kau tak mau menatap mataku kembali, aku tau Sam kamu pasti masih peduli sama aku. Tapi kamu tak mau jujur dengan hatimu, " balas Berlin menunjuk dadanya Sam.
Sam menatap tangan Berlin yang berada di dadanya, lalu setelah itu ia menatap matanya Berlin yang sudah berlinangan air mata.
"Kalau kamu masih gak mau mengakui semuanya, aku gak papa kok. Cuman satu hal yang perlu kamu tau, aku hidup hanya untuk mu, " ucap Berlin sambil memeluk Sam, lalu setelah itu ia pergi meninggalkan Sam yang masih mematung akibat apa yang Berlin katakan.
Sam menyenderkan punggungnya ke tembok lalu memegang keningnya.
"Woy, makannya jangan egois. Pusing sendiri kan sekarang, " Tiba-tiba seorang wanita mengagetkan Sam.
Sam langsung berdiri tegak sembari menatap ke arah Anggun, "Apaan sih? kaget gue, " balas Sam kesal.
"Makannya kan gue udah bilang sama luh, jangan buat lu pusing sendiri bambang, " ujar Anggun.
"Udah ah, ke lapangan sana. Udah mau pada berangkat, " sambung Anggun yang kembali melanjutkan langkahnya karena terhenti akibat melihat Sam dan Berlin sedang mengobrol.
Sam akhirnya melangkahkan kakinya di belakang Anggun, saat ini Anggun pergi ke arah Berlin yang sudah bersama dengan Daniel saja.
"Hey, udah berduaan aja, " ledek Anggun sambil menyenggol Berlin yang sedang bercanda dengan Daniel.
__ADS_1
Berlin yang sedang bicara langsung menghentikan pembicaraan nya, lalu setelah itu ia menatap kesal pada Anggun. Namun saat menatap Anggun Berlin tak sengaja berpapasan dengan tatapan Sam yang berada di samping Anggun.
Dengan cepat Berlin langsung menatap Anggun, " Biarin aja, emangnya kenapa? ada yang salah, " balas Berlin sambil mengangkat kan sebelah alisnya.
"Kagak ada sih, " balas Anggun sambil membelakangi Berlin. Namun tiba-tiba Anggun kaget saat melihat Sam sedang berada di sebelahnya.
"Lu bikin gue jantungan aja, " kesal Anggun sambil memukul lengan kanan Sam.
"Ngapain kanu di sini? " tanya Daniel yang merasa tak suka Sam berada di sana.
"Memangnya ini tempat anda, sampai-sampai saya harus bicara alasan saya kenapa saya menginjakan kaki di sini? " tanya balik Sam sambil menatapnya dingin.
Tanpa bicara terlebih dahulu Sam langsung menarik tangan Berlin untuk berdiri di sebelahnya, semua mata memandang ke arah mereka saat ini. Apa yang di lakukan Sam saat ini benar-benar membuat mereka kaget sekaligus sedih, pacar mereka saat ini sudah menggandeng tangan wanita lain.
Jujur hati Berlin saat ini antara bahagia dan juga bingung, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang saat ini muncul di kepalanya tentang kelakuan Sam terhadapnya.
Tapikan hati manusia dapat berubah dengan sangat mudah, bisa saja jika Daniel terus berusaha pada akhirnya Berlin akan memindahkan hatinya kepada dirinya.
Kini panitia penyelenggara perkemahan sudah datang bersama dua mobil bis yang akan menjadi kendaraan mereka menuju tempat perkemahan. Para peserta berbaris untuk masuk ke dalam bis tersebut dengan tertib.
"Baiklah anak-anak, kalian harus tertib masuk ke dalam bis nya, " ucap seorang panitia yang membantu mereka masuk ke dalam Bis.
Mereka hanya menggunakan dua bis di karenakan murid nya tidak ikut semua dengan berbagai alasan yang membuatnya tak bisa ikut perkemahan ini. Dan juga pada dasarnya ini bukan kegiatan wajib sekolah, jadi para murid juga tidak wajib ikut perkemahan. Ini hanya kegiatan hiburan saja, agar tidak bosan berada di sekolah terus menerus.
Sam mendudukkan Berlin di sampingnya Berlin duduk di dekat jendela, sementara Daniel dan Anggun duduk di kursi yang berada di depan kursi nya Sam dan Berlin, sedangkan di belakang Sam ada Jeremy dan juga Bayu sahabatnya Sam.
"Kamu bawa apa di tas? kok kayaknya isinya cuman dikit, " tanya Berlin yang melihat tasnya Sam.
__ADS_1
"Cuman bawa baju, " balas Sam datar tanpa menatap ke arah Berlin.
"Oh, kamu gak bawa makanan gitu? " tanya kembali Berlin, ia khawatir Sam akan kelaparan di sana kalau saja ia tidak membawa makanan.
"Gak, berat, " balas Sam singkat.
"Ya udah sini tas kamu, " Berlin meminta tasnya Sam.
Sam menatapnya datar sambil memberikan tas yang ia gendong ke Berlin, " Buat apa sih, " tanya Sam heran.
Berlin juga mengambil tasnya lalu memasukan makanan yang ia bawa ke tasnya Sam, tapi tidak semuanya hanya setengahnya saja, " Aku gak mau kamu mati kelaparan, " balas Berlin, setelah memasukan setengah makanan ringan dan juga beberapa roti ke tasnya Sam, Berlin kembali menutupnya dan memberikannya ke Sam.
"Ternyata kamu masih belum berubah yah, aku jadi rindu saat-saat kamu dulu mencemaskan aku, " gumam Sam sambil melebarkan senyumannya.
Namun karena Sam tidak mau menggendong tasnya karena sekarang akan menjadi semakin berat, ia melemparkan tasnya ke Jeremy, " Ambil tas gue, nanti lu tolong bawain yah, berat gue gak mau bawa, " ujar Sam sambil menatap ke arah jeremy yang seperti nya kaget karena Sam melemparkan tasnya dengan tiba-tiba.
"Gak mau, gue juga bawa tas tau, " balas Jeremy yang tak mau membawakan tasnya Sam.
Berlin berdiri lalu menatap ke arah Jeremy, " Ya udah biar aku aja yang bawain, " saut Berlin sambil meminta tasnya Sam.
Jeremy tidak tega kalau sampai Berlin yang harus membawakannya, " Ya udah biar gue aja deh, " balas Jeremy pasrah.
"Makasih, " ujar Sam yang kembali duduk dengan benar di kursi nya.
Bus sekolah pun berjalan dan para murid yang lainnya sudah mulai bernyanyi dan bersorak, melambai-lambaikan tangannya sambil tertawa ria.
"Makasih yah Tuhan, jika kau memang akan kembalikan Sam yang dulu padaku, " gumam Berlin sambil menatap ke arah luar kaca jendela mobil.
__ADS_1
Rupanya gadis ini senang jika sampai Sam akan kembali lagi padanya, ia berharap Sam akan seperti ini padanya untuk selamanya. Ia tidak mau melepaskan Sam. Ia yakin penantiannya selama ini akan membuahkan hasil yang baik.