
Malam ini ada acara pementasan karya seni yang akan di laksanakan oleh panitia penyelenggara. Dan pada malam ini juga ada pembagian kelompok untuk acara besok, yaitu penjelajahan.
Berlin dan yang lainnya sudah duduk bersama peserta lain di depan tenda mereka masing-masing menatap ke arah sebuah panggung yang di buat tadi sore di depan tenda ketua penanggung jawab acara ini.
"Baiklah anak-anak sebelum acaranya kita mulai, saya akan memberitahukan kelompok kalian terlebih dahulu. Semuanya di larang protes, ini sudah saya atas sedemikian rupa, " ucap pria yang berada di atas panggung itu sambil mengambil kertas.
"Baiklah, " balas semua peserta yang berada di bawah panggung.
"Kelompok pertama, Anggun, Bayu, Rara dan Jeremy. "
"Kelompok kedua, Berlin, Daniel, Sam, dan Laura, " orang itu menyebutkan semua kelompok nya.
Berlin menatap ke Arah Daniel yang berada di sampingnya sambil tersenyum, " Kita satu kelompok, " ucap nya kegirangan.
"Iya aku juga senang, " balas Daniel yang juga senang kalau dirinya bisa satu kelompok dengan Daniel.
Sam tidak ada di sana, entahlah pria itu tak tau kemana. Sedari tadi sore Berlin tak dapat lagi menatap batang hidungnya, bahkan tadi Berlin ke tendanya pun Sam tidak ada di sana.
"Yah kita gak satu tim, " ucap Anggun agak kecewa karena dirinya tak bisa bersama dengan Berlin dan juga Daniel.
"Gak papa, kitakan cuman gak satu tim buat acara besok doang kan? " balas Berlin sambil berbalik menatap ke arah Anggun.
"Siapa bilang cuman besok doang? kelompok itu buat kita sampai semua perkemahan ini selesai, " jelas Anggun.
"Yang bener? " tanya Berlin.
"Tapi gak papa lah kalau emang kayak gitu juga, aku jadi bisa lama-lamaan sama Sam dong, " sambung Berlin sambil kembali menatap ke arah depan dan membayangkan akhirnya ia dapat kembali bersama Sam.
"Bisa aja kalau lu ngomong, " balas Anggun sambil menyenggol tangan Berlin kemudian menatap ke arah Daniel yang pastinya agak sedih mendengar ucapan Berlin barusan.
Daniel mengisyaratkan kalau dirinya baik-baik saja pada Anggun. Acara karya seni pun di mulai, para panitia satu-persatu menampilkan karya seni mereka ada yang menari bernyanyi dan ada juga yang mementaskan musikalisasi puisi.
__ADS_1
Berlin sangat menikmati itu semua, " Sejak dulu aku pengen banget bisa nyanyi, " ucap Berlin tanpa menatap ke arah Anggun maupun Daniel.
"Nyanyi mah nyanyi aja kali, " balas Anggun yang juga tanpa menatap ke arah Berlin, mereka terlalu menikmati musik yang dinyanyikan.
"Maksud aku itu nyanyi di depan banyak orang. Kalau nyanyi sendirian mah di WC juga tiap hari aku nyanyi terus, " jawab Berlin.
"Gimana kalau kita nanti latihan musik buat pementasan acara perpisahan di sekolah, " ujar Daniel sambil menatap ke arah Berlin, ia ingin Berlin mewujudkan apa yang ia inginkan.
"Tapi aku malu, " balas Berlin sambil menatap Daniel dan tersenyum malu-malu.
"Kenapa harus malu, kan nanti aku temenin kamu di sana, " usul Daniel sambil menaikkan satu alis kanannya.
"Baiklah nanti aku akan pikirkan lagi itu kedepannya, " balas Berlin yang akan berpikir dulu.
"Nih, " Daniel menyodorkan botol minuman pada Berlin.
"HM, disini juga ada gue kali. Masa iya lu cuman nawarin sama satu orang aja, " sindir Anggun sambil mengusap lehernya dan menatap sinis ke arah Daniel yang sedang menyodorkan minuman pada Berlin.
Anggun menerimanya sambil tersenyum, " Emang lu sahabat gue paling baik deh, " balas Anggun yang langsung membuka botol minum itu.
Saat Anggun akan meminum itu tiba-tiba Daniel merebutnya dan menggantinya dengan yang baru, " Jangan yang ini, ini buat Berlin. Kamu yang itu aja yah, " ujar Daniel sambil kembali mengembalikan minuman itu pada Berlin.
Berlin tertawa sedangkan Anggun cemberut, " ok baiklah kalau itu mau mu, " balas Anggun yang langsung membuka botol itu dan meminum nya dengan kasar.
"Terus aja kacangin gue, " ledek Anggun sambil menatap ke arah depan.
"Apaan sih? siapa yang kacangin elu? " tanya Berlin sambil menarik Anggun agar mendekati wajahnya.
"Alah lepasin luh, " balas Anggun sambil melepaskan tarikan tangan Berlin.
"Cie yang marah, makannya lain kali lu cari pacar jangan ngejomblo terus, " ledek Daniel.
__ADS_1
"Dih sorry yah gue gak mau dulu pacaran, kata ibu gue jangan dulu pacaran. Soalnya nanti bakal merusak kecerdasan gue yang tingkat dewa ini, " balas Anggun angkuh.
"Emang lu cerdas? kebodohan tingkat dewa iya, " ledek Berlin sambil tertawa.
"Ah lu mah, " kesal Anggun.
Tiba-tiba Sam datang dan menarik tangan Berlin untuk pergi dari sana. Namun Daniel malah menahan Berlin agar tidak ikut dengan Daniel, Sam langsung menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Daniel.
"Maksud lu apa? " tanya Sam datar.
"Lu bisa kan tarik tangannya Berlin pelan aja, " balas Daniel yang masih memegang tangan Berlin.
"Emangnya urusan lu apa? " bukannya menjawab ucapan Daniel, Sam malah bertanya kembali.
"Gue bilangin sama lu yah, gue sahabatnya dia. Jadi kalau sampai dia kenapa-napa, gue yang akan maju paling depan, " balas Daniel sambil menatap Sam tak mau kalah.
Mereka berdua saat ini melayangkan tatapan yang sama tajamnya, semua murid yang berada di sana langsung menatap ke arah mereka bertiga. Terlebih lagi di sana ada pangeran mereka, jadi mau tidak mau mereka harus menatap pangeran mereka yang sedang kena masalah.
"Udah, jangan pada ribut kenapa sih? " Berlin mencoba memisahkan Daniel dan juga Sam. Ia tidak mau kalau mereka sampai berantem.
"Daniel aku gak papa kok, aku mau pergi sama Sam dulu yah, " Berlin memang merasa kelakuan Daniel terlalu berlebihan padahal Sam hanya menariknya.
"Kamu beneran mau sama ni orang? " tanya Daniel tak habis pikir.
"Daniel aku gak papa, beneran. Kamu tunggu di sini aja yah, gak enak di liat banyak orang, " balas Berlin.
Bukannya menjawab ucapan Berlin Daniel malah menatap Berlin tanpa berkedip. Sam langsung melepaskan tangannya Daniel yang berada di tangan Berlin sambil menarik Berlin agar berdiri di belakangnya Sam.
"Udah jelaskan kalau Berlin gak papa? lagian lu kenapa sih cuman jadi sahabatnya ribet banget. Lu tau apa tentang Berlin? jangan jadi orang yang paling penting deh di hidupnya Berlin, " ujar Sam sambil menepuk pundaknya Daniel dan pergi dari hadapannya Daniel membawa Berlin.
Berlin sebenarnya tidak tega melihat Daniel, tapi ia juga ingin bersama dengan Sam untuk malam ini saja. Karena ia tidak tau sampai kapan ia akan dapat menatap Sam, ia tidak tau sampai kapan nafasnya ini akan terus bernafas dan matanya akan terus terbuka.
__ADS_1