Kehilangan Mengajarkan Ku

Kehilangan Mengajarkan Ku
Terimakasih Telah Hadir Dalam Hidupku


__ADS_3

Sekarang mereka kembali berkumpul di ruang rawat Berlin dengan wajah penuh kebahagiaan, tak ada lagi dendam dan rasa tak di butuhkan dalam hati mereka semua untuk saat ini.


"Aku sadar ternyata kita harus kehilangan dulu, baru kita akan mengerti arti sebuah kebersamaan yang sesungguhnya, " ucap Berlin memecahkan keheningan di ruangan itu.


"Besok aku akan pulang ke rumah, tapi sebelum pulang aku boleh gak minta satu hal? " tanya Berlin sambil menatap Sam dan orang tuanya bergantian.


"Mau minta apa sayang? " tanya Ibunya.


"Mau jalan dulu sama Sam, ke taman dimana awal mula sebuah kisah persahabatan kecil kita di mulai, " balas Berlin.


"Boleh dong sayang, " ucap ibunya yang pasti mengabulkan permintaan kecil anaknya ini.


"Kamu mau kan Sam? " tanya Ayahnya Berlin sambil menepuk pundak Sam.


"Pasti lah Om, saya mau, " balas Sam sambil tersenyum dan menatap Berlin.


"Baiklah kalau begitu kalian pulang saja, biarkan om dan tante yang jagain Berlin, " ucap Ibunya Berlin.


"Gak papa tante, biar saya saja. Mending tante sama om juga pulang aja, nanti tante sama om sakit lagi karena kecapean, " balas Sam.


"Tapi masa kamu di sini sendirian sih? " tanya Ibunya Berlin.


"Sama aku aja mah, " ucap Tio yang juga mau menjaga adiknya ini.


"Kamu beneran mau jagain Berlin? " tanya ayahnya.


"Beneran lah pa, masa aku bohong sih, " balas Tio.


"Ya udah kita pulang dulu yah, besok kita ke sini lagi, " pamit ibunya sambil berjalan keluar bersama dengan ayahnya Berlin.


"Kita juga pulang dulu yah, " pamit Daniel sambil memegang tangannya Anggun.


"Baiklah, Hati-hati di jalan yah, " balas Berlin.

__ADS_1


"Kita juga pulang aja yah, " Pamit Bayu dan juga Jeremy yang mau pulang.


"Iya, " balas Berlin.


Setelah di ruangan itu hanya tinggal tersisa dua orang saja, Tio langsung duduk di kursi yang berada di pinggir tempat tidur Berlin.


"Gimana udah baikan? " tanya Tio.


"Udah kok kak, " balas Berlin sambil menatap kakaknya.


"Ya udah kamu istirahat dulu aja, tidur yang nyaman yah, " ucap Tio sambil mengelus rambutnya Berlin.


"Baik kakak ku yang tampan, " balas Berlin yang setelah itu langsung memejamkan matanya.


"Lu kalau mau pulang, pulang aja, biar Berlin gue yang jagain, " ucap Tio pada Sam.


"Gak ah mau di sini aja, udah lama aku gak jagain Berlin, " balas Sam sambil duduk di sofa.


"Gue jadi ngerasa bersalah banget selama ini, gue ngerasa jadi kakak yang bodoh tau gak, " ucap Tio.


"Iya sih, gue emang udah salah besar tapi gak baik juga menyesali semaunya yang telah terjadi dengan berlebihan, " setuju Tio.


"Nah itu lu tau, " balas Sam sambil membaringkan tubuhnya yang sudah pegal di sofa sambil menatap ke arah langit-langit.


Sementara itu di tempat lain Daniel sedang bersama dengan Anggun menuju rumahnya Daniel, mereka akan membawa ibunya Daniel ke rumah sakit untuk mengurus operasinya.


"Tapi kamu punya uang sebanyak itu dari mana? " tanya ibunya yang heran kenapa anaknya bisa dapat uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat.


"Ibu tenang aja yah, aku dapatin uang ini halal kok Bu, " balas Daniel sambil membantu ibunya masuk ke dalam mobil Anggun.


"Iyah tante, tante tenang aja. Ini semua demi kesembuhan tante, " timpa Anggun yang juga membantu ibunya Daniel.


"Kamu pacarnya Daniel? " tanya ibunya Daniel sambil menatap Anggun.

__ADS_1


"Doakan saja bu, Semoga kita jadi pacar, " balas Daniel.


Anggun yang mendengar itu semakin senang dan tak tau harus bagaimana lagi mengeluarkan kebahagiaannya ini. "Kita gak pacaran kok tante, " balas Anggun.


"Tapi akan, " timpa Daniel.


"Apaan sih kamu ini, " balas Anggun malu.


"Sudah kalian ini malah berantem, kalau kalian berantem terus bisa-bisa jadi jodoh tau gak, " ucap ibunya.


"Kan emang maunya gitu, " balas Daniel sambil tersenyum.


"Iya nanti ibu doakan yang terbaik untuk kalian berdua sana, " ucap ibunya.


Kini ibunya Daniel sudah berada di dalam mobil, Daniel yang kali ini menyetir mobilnya. Di perjalan Ibunya Daniel terus saja mengajak Anggun bicara, ibunya Daniel pun merasa cocok dengan Anggun ini.


Setelah beberapa menit sampailah mereka di rumah sakit, Daniel dan Anggun langsung membereskan surat-surat dan juga administrasi nya. Setelah pengecekan tubuh akhirnya dapat di putuskan kalau besok akan dilakukan operasi pada ibunya Daniel.


Ayahnya Daniel entah pergi kemana tak ada yang tau, sepertinya dia memang sudah tak peduli lagi dengan Keluarga nya ini.


"Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Aku nungguin ibuku sendiri aja, " ucap Daniel.


"Aku pulang dulu yah, nanti malam aku ke sini lagi. Sekalian mau mandi sama ganti pakaian dulu, " balas Anggun.


"Baiklah, tapi kalau kamu capek lebih baik tidak usah ke sini lagi saja, " ucap Daniel.


"Enggak kok, aku kan kuat, " balas Anggun sambil tersenyum.


"Baiklah terserah kamu, " ucap Daniel.


"Ya sudah Dahh, " pamit Anggun sambil berjalan keluar dari rumah sakit itu.


"Aku akan segera melupakan Berlin jika ada kamu di sampingku, " gumam Daniel sambil menatap kepergian Anggun.

__ADS_1


"Terimakasih telah hadir ke hidupku, yah mungkin emang jalan cinta ku harus seperti kayaknya, " sambung Daniel.


__ADS_2