
Saat ini Berlin, Anggun dan Daniel sedang berada di supermarket mereka sudah siap untuk membeli beberapa barang untuk mereka pergi perkemahan nanti.
"Mau beli apa aja? " tanya Berlin sambil menatap ke arah Daniel dan Anggun bergantian.
"Sebentar, " balas Anggun sambil menyimpan telunjuknya di kepala, ia juga menatap ke arah atas, sedang berusaha memikirkan apa saja yang akan mereka butuhkan nanti.
"Ah lama luh, " ujar Berlin sambil menyenggol Anggun menggunakan sikut tangannya.
"Kita beli makanan ringan dulu yuk, " ajak Daniel.
"Ide bagus tuh, " setuju anggun yang langsung menatap Daniel.
Mereka kini berjalan menuju tempat makanan ringan, dan mereka juga langsung memasukan makanan ringan itu ke keranjang belanjaannya yang di bawa oleh Anggun.
"Terus beli apa lagi? " tanya Anggun.
"Beli mie instan sama minumannya yuk, " balas Daniel sambil menunjuk ke rak mie instan.
"Iya juga, " setuju Berlin, saat ini Berlin mulai berjalan menuju ke sana.
Di tempat lain Sam saat ini sedang berada di rumahnya, bukannya di sambut dengan hangat oleh kedua orang tuanya Sam malah langsung di tarik masuk dengan kasar oleh ayahnya sendiri.
Sam di tarik dan dihempaskan ke tembok, " Anak kurang ajar, kamu tuh tidak tau di untung, saya sudah bilang pada anda. Jangan berbuat kasar pada Berlin, " bentak ayahnya sambil menunjuk dan menatapnya tajam.
Sam hanya terdiam sambil memegang tangannya yang kesakitan karena terbentur tembok, ia tidak punya kata-kata untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
"Anak yang tidak tau di untung, kamu tau gara-gara anda dia saat ini kondisinya semakin kritis, " Bentak ayahnya kembali sambil menampar Sam.
Sam langsung menatap ke arah ayahnya ia tidak tau apapun tentang kondisi berlin, ia hanya tau kalau berlin saat ini baik-baik saja, atau maksudnya kondisinya saat ini tidak terlalu berbahaya.
__ADS_1
"Kamu lihat, " ayahnya melempar kertas tes milik Berlin ke wajahnya Sam, lalu setelah itu ia pergi meninggalkan Sam sambil memegang kepalanya yang pusing.
Sam berjongkok dan mengambil amplop coklat itu lalu ia kembali berdiri dan berjalan ke kamarnya, setelah sampai di kamar Sam langsung membuka amplop itu dan duduk di tempat tidur nya. Tiba-tiba wajahnya terlihat sedih, ia tidak tau apakah keputusannya selama ini salah atau kah benar.
Sam melempar kertas itu ke sembarang arah, lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur sambil menatap ke langit-langit kamar, jujur saat ini Sam sedang berada dalam kebingungan yang luar biasa.
Namun akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi keluar saja, untuk mencari angin segar, mungkin saja ia akan mendapatkan solusi kalau saja ia keluar berjalan-jalan.
Kini ia sudah berada di pinggir jalan, ia malas membawa mobil ataupun motor, jadi ia akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri kota ini, ia berjalan sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
"Sam? " seorang wanita memanggil Sam dari arah belakang.
Sam yang merasa namanya di panggil oleh seseorang langsung berbalik dan menatap datar wanita yang memanggilnya. Wanita itu langsung menghampiri Sam dan berdiri di samping Sam.
"Gue gak tau maksud lu apa dengan semua ini? tapi gue yakin kalau lu masih suka sama Berlin, " ucap wanita itu sambil menatap ke arah depan.
Sam menghentikan langkahnya sambil menatap datar ke arah wanita yang berada di sampingnya, " Maksud lu apa? gak usah sok yakin deh sama kehidupan gue, " balas Sam tak Terima, ia rasa wanita ini sok tau dengan hidupnya.
Tiba-tiba Sam tak dapat berkata-kata, ia benar-benar tidak tau harus bilang apa, karena apa yang di katakan Anggun ada benarnya juga. Bukannya semakin membaik tapi Berlin malah semakin memburuk.
"Sam gue gak tau alasan lu apa? sampai-sampai lu ninggalin Berlin, tapi gue minta lu perbaiki semuanya sekarang, sebelum lu menyesal, " ujar Anggun sambil kembali ke samping Sam.
"Ke cafe yuk, " ajak Sam, ia masih perlu berbicara banyak hal dengan Anggun namun tidak di jalan.
"Baiklah, " Anggun setuju dengan ajakan Sam. Kini mereka berdua berjalan menuju cafe terdekat dari sana.
Sementara itu Berlin saat ini sudah berada di depan pintu rumahnya bersama dengan Daniel, sedangkan Anggun tadi pamit pulang duluan karena ada hal yang penting, gadis itu tidak memberikan alasan yang detail.
"Kamu mau masuk dulu gak? " tanya Berlin sambil menatap Daniel.
__ADS_1
"Gak usah, aku pulang dulu yah, soalnya masih banyak hal yang perlu aku kerjain, " balas Daniel.
Saat Daniel akan pergi tiba-tiba ibunya Berlin keluar dari rumahnya dan langsung merangkul berlin dan juga tersenyum pada Daniel.
"Eh ada tamu, " ucap Ibunya Berlin sambil tersenyum ramah pada Daniel.
"Mah kenalin ini temen aku, " Berlin mengenalkan Daniel pada ibunya.
"Daniel tante, " Daniel menundukkan kepalanya.
"Gak mau masuk dulu gitu, kita makan dulu, " tawar ibunya Berlin pada Daniel.
"Gak usah tante saya masih banyak pekerjaan, nanti saja kalau saya tidak sibuk saya akan main ke sini, " balas Daniel sambil membalas senyuman ibunya Berlin.
"Ya sudah kalau begitu, makasih yah udah mau nganterin anak saya pulang. "
"Iya sama-sama tante, kalau begitu saya pamit pulang dulu yah, " pamit Daniel sambil berjalan meniggalkan rumah itu.
Berlin dan ibunya pun langsung masuk ke rumah itu, dan pergi menuju ruang utama dan duduk di sofa.
"Siapa dia? pacar kamu? " tanya ibunya.
"Apaan sih mah, aku kan udah bilang dia cuman temen aku, " balas Berlin meyakinkan ibunya kalau dia hanyalah temannya.
"Kamu lebih cocok sama dia tau, daripada sama Sam, " ibunya melihat kalau Daniel adalah pemuda yang baik, dan tidak kasar seperti Sam.
"Buk aku udah bilang kalau dia adalah teman aku, aku tetap suka sama Sam apapun yang terjadi, namun untuk saat ini aku hanya sedang beristirahat saja dengan hatiku, " Balas Berlin tak Terima, ia tidak suka kalau Sam di banding-bandingkan dengan siapapun.
Berlin berjalan menuju kamarnya, ia juga sudah mulai lelah ia butuh istirahat saat ini.
__ADS_1
Terkadang bersikap kasar dan cuek itu tidak menutup kemungkinan kalau orang itu benar-benar benci sama kita, ada halnya mereka melakukan itu karena ada sebuah alasan yang pada dasarnya tidak bisa ia katakan pada siapapun.