Kehilangan Mengajarkan Ku

Kehilangan Mengajarkan Ku
Hanya Kau Yang Dapat Membuat Ku Tenang


__ADS_3

Daniel yang melihat itu langsung berdiri dan pergi dari ruangan ini, Anggun yang melihat Daniel pergi ikut pergi. Sedangkan Bayu dan Jeremy pun ikut keluar, mereka berdua berniat memberikan waktu untuk berdua pada Sama dan Berlin.


"Kok pada pergi sih? " tanya Berlin pada yang pergi.


Tapi mereka tak menjawab ucapan Berlin mereka malah menutup pintu ruangan itu.


"Lepasin, " ucap Berlin sambil melepaskan tangan Sam yang masih memegang tangannya.


Berlin duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur yang saat ini Sam duduki, ia mengeluarkan ponselnya lalu memainkan ponsel itu. Sedangkan Sam baru selesai makan dan kini ia kembali menyimpan tempat makannya ke meja samping.


"Ke kantin yuk, males gue di sini, " ajak Sam yang tak mau berada di tempat ini.


"Yuk, gue juga males kali berduaan sama luh, kalau gue jatuh cinta lagi sama lu kan berabe tau gak, " balas Berlin sambil berdiri dan berjalan mendahului Sam.


"Hey gue kan masih lemes tungguin napa, jalannya juga jangan cepet-cepet bisakan? " tanya Sam.


Berlin pun diam menunggu Sam untuk mensejajarkan langkahnya, " Lu kan laki, masa gitu aja lemes sih? " balas Berlin.


"Hey mau laki mau cewek juga kalau gak makan mah ya lemes lah, " ucap Sam ngotot.


"Dah lah, " Setelah sejajar kini mereka berjalan berdampingan keluar UKS, semua mata wanita yang berada di sana langsung menatap Sam dan Berlin dengan tatapan iri.


Mereka juga ingin berada di samping Sam saat ini, tapi mereka tidak bisa karena Sam itu adalah pria yang galaknya minta ampun.


"Gue sekarang males tau gak ada di samping lu, karena gue gak suka di tatap sinis sama penggemar lu, " ucap Berlin pelan.


"Biarin, biar lu di benci semua wanita yang ada di sini, " balas Sam santai.


"Jahat lu, " ucap Berlin kesal.


"Kan emang udah jahat dari lahir, " balas Sam kembali.


"Pantes kalau gitu, " ujar Berlin.


Mereka saat ini sudah sampai di kantin dan duduk di sebuah meja paling pojok kanan, Berlin sedari tadi tak melepaskan matanya dari ponsel. Namun seseorang membuatnya melepaskan tatapan matanya dari ponsel itu.


"Anggun, " panggil Berlin yang melihat Anggun, Daniel, Bayu dan Jeremy yang berada di kantin juga.


Mereka langsung menatap ke arah Berlin dan juga Sam yang terlihat cuek.


"Sini, " Berlin meminta mereka untuk bergabung.


Mereka pun berjalan dan duduk di kursi itu dengan Daniel yang duduk di sebelah Berlin sedangkan Sam duduk di depan Berlin.


"Kenapa gak istirahat aja sih? " tanya Bayu pada Sam.

__ADS_1


"Gue pingsan cuman karena kelaparan bukan karena sakit keras, jadi kan tadi udah makan. Ya udah gak papa lagi, " balas Sam sinis.


"Alah tadi bilangnya masih lemes, " sindir Berlin.


"Eh itukan tadi bukan sekarang, " balas Sam sambil menatap Berlin dengan tatapan sinis.


"Iya deh iya, biasa aja kali natap nya. Kayak yang mau makan gue aja, " ucap Berlin.


"Dah jangan ribut mulu ah, mau pesen makan atau minum apa? " tanya Daniel sambil menatap Berlin dengan tatapan hangat.


"Jus alpukat sama apa aja deh, " balas Berlin.


"Dih nanyanya cuman sama si Berlin doang, kita gak di tanya apa mau beli apaan, " sindir Jeremy.


"Pesen aja sendiri, " balas Daniel acuh.


"Tau ni orang, mentang-mentang sama si Berlin, " Anggun pun ikut menyindir Daniel.


Sementara Sam hanya menatap Daniel dengan tatapan yang kurang suka, sebelum akhirnya ia memalingkan tatapannya pada ponsel.


"Ya udah lu semua mau pesen apa? biar gue yang pesen, " tanya Berlin.


"Samain aja lah, " balas Jeremy.


"Lu mau apa? " tanya Berlin sambil melihat Bayu.


"Kalau lu? " tanya Berlin sambil menatap Anggun.


"Sama juga, " balas Anggun.


"Hey, lu mau pesen apa? " tanya Berlin sambil menepuk pelan tangannya Sam.


Sam langsung menatap Berlin dengan tatapan dingin, " Jus buah, " balas Sam, setelah itu ia kembali menatap ponselnya.


Berlin pun berdiri namun Daniel memintanya untuk kembali duduk, " Biar gue aja, lu tunggu di sini yah, " Daniel berjalan menuju penjaga kantin.


"HM kayaknya ada yang jatuh cinta nih, " sindir Bayu sambil tertawa.


"Siapa? " tanya Berlin kebingungan.


"Si Daniel lah, lu gak sadar kalau dia suka sama lu? dari tatapan matanya aja udah nunjukin kalau dia suka tau gak, " balas Jeremy.


"Lah kalian ini gimana sih? gue yakin kok kalau Daniel tuh bakalan jadian sama Anggun iya gak? " tanya Berlin sambil menatap Anggun.


"Kok gue sih? kagak bakalan mungkin, " balas Anggun sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kalian semua bisa diem gak? kalau enggak gue pergi ajalah, " ucap Sam sambil berdiri dan berjalan menjauh dari sana.


"Lu semua sih, " ujar Berlin kesal.


"Mau kemana? " tanya Anggun yang melihat Berlin berlari mengejar Sam.


"Gue mau bawa Sam ke sini lagi, " balas Berlin sambil berlari.


"Kayaknya si Berlin masih suka deh sama Sam, " ujar Bayu sambil menatap kepergian Sam dan Berlin.


"Itu sih udah pasti, " setuju Jeremy.


"Gue rasa mereka bakalan deket lagi deh kayaknya, " balas Anggun.


"Iya, gue juga ngerasa kalau Sam sebenarnya punya perasaan sama Berlin cuman gengsi aja, " ucap Bayu.


"Kalau menurut gue sih bukan karena gengsi, Sam pasti punya alasan lain. Ngapain gengsi pacaran sama Berlin, diakan cantik, baik, orang kayak lagi. Gue juga mau kalau Berlin nya mau mah, " ujar Jeremy sambil tersenyum.


"Ahhhh lu mah, " balas Anggun sambil menatap Jeremy dengan tatapan sinis.


"Ouh iya, ngomong-ngomong ini yang pesen makanan kok lama banget yah, " sambung Anggun sambil menatap ke arah kantin.


Sementara itu di tempat lain Berlin sudah sampai di depan kelas namun tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, Berlin menegang dadanya sambil terduduk di lantai.


Sam yang melihat itu langsung berjalan ke arah Berlin dan menahan tubuhnya agar kalau Berlin pingsan tak membentur lantai.


"Lu kenapa sih? " tanya Sam cemas.


"Sakit Sam sakit, " balas Berlin sambil memegang tangan Sam dengan erat, untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan.


"Tarik nafasnya dalam-dalam, abis itu lu tenang yah, " ucap Sam.


Semua murid langsung mengerumuni mereka ingin melihat keadaan Berlin.


"Lu semua bubar gak? kalau enggak gue abisin lu semua setelah ini, " ucap Sam sambil marah-marah.


Mereka yang berada di sekitar sana langsung berjalan menjauh dari Sam dan hanya dapat melihat Berlin dari kejauhan saja.


Berlin rupanya masih sadar hanya saja ia masih lemas, jantungnya sudah mulai berjalan dengan benar. Nafasnya pun sudah kembali normal, Sam memeluk Berlin dengan sangat erat ia tak mau apapun terjadi pada gadisnya.


"Sam, " panggil Berlin perlahan.


Sam melepas pelukannya lalu menatap Berlin, " Kamu udah gak papa? " tanya Sam.


"Aku gak papa kok, berkat kamu. Makasih yah udah mau peluk aku, aku jadi ngerasa tenang kalau ada di samping kamu, " balas Berlin sambil kembali memeluknya.

__ADS_1


"Beneran lu udah gak papa? " tanya Sam sekali lagi.


"Aku beneran udah gak papa, " balas Berlin.


__ADS_2