
Berlin sudah sampai di rumahnya dengan keadaan antara bahagia dan sedih, entahlah rasanya semua rasa dalam tubuhnya tercampur aduk hari ini. Berlin sudah masuk ke dalam rumahnya ia saat ini sedang duduk di ruang tengah dengan mata yang ia pejamkan menghadap ke atas.
"Sayang kamu sudah pulang? " tanya ibunya yang duduk di samping Berlin.
Berlin membuka matanya lalu menatap ke arah ibunya, " Sejak kapan mamah ada di sini? " tanya balik Berlin yang merasa kalau tadi di sebelahnya tak ada ibunya.
"Sejak barusan, " balas ibunya.
"Ouh, aku capek mah hari ini, " ucap Berlin sambil menyenderkan kepalanya di pundak ibunya.
"Kamu capek habis ngapain? " tanya ibunya sambil mengelus rambut anaknya.
"Habis liatin Sam, " balas Berlin sambil tersenyum manis.
"Kebiasaan deh, " ucap ibunya.
"Mah, aku kayaknya masih suka deh sama Sam, ternyata susah juga yah lupain dia, " ujar Berlin yang merasa lagi-lagi gagal melupakan Sam dari ingatan dan hatinya.
"Mamah cuman mau pesan satu hal sama kamu, " ucap ibunya.
Berlin langsung mengubah posisi duduknya jadi menghadap ke arah ibunya, " Mau pesan apa mah? aku akan mendengarkan dengan sangat baik, " tanya Berlin kegirangan.
"Mamah cuman mau bilang, kamu boleh aja suka sama Sam, tapi kamu harus ingat satu hal. Jangan pernah terlalu dalam berharap pada seseorang karena semakin besar harapan kita maka akan semakin besar juga resiko kecewa yang akan kita dapatkan, " itulah pesan ibunya Berlin untuk anaknya ini.
Bukannya langsung menanggapi ucapan ibunya Berlin malah langsung memeluk ibunya lalu tersenyum dalam pelukannya, "Aku akan selalu mengingat apa yang mamah katakan, " balas Berlin manis.
"Ya sudah sekarang kamu mandi yah, udah bau tau, " ibunya melepaskan pelukan Berlin lalu meminta Berlin untuk mandi.
Berlin melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah beberapa menit Berlin akhirnya selesai menganti pakaiannya, ia berjalan menuju meja makan.
Entah kenapa hari ini ia sangat lapar sekali, saat di perjalanan ia melihat kakaknya sedang menonton televisi di ruang keluarga. Jadi ia menyempatkan waktu untuk pergi ke arah kakaknya terlebih dahulu.
"Kak lagi ngapain sih? serius amat liatin televisi nya, " tanya Berlin sambil menatap Tio.
__ADS_1
"Lu bisa liat kan gue lagi ngapain, " balas Tio sinis.
Berlin duduk di samping kakaknya, " Kak bisa gak? gak usah sinis sama aku satu hari aja, " ucap Berlin sambil menatap Tio yang sedang menatap layar televisi.
"Gak, " balas Tio sinis.
"Ouh gitu yah, kak aku cuman mau bilang kalau misalnya aku nanti pergi tolong jagain mamah sama papah yah? soalnya kemarin kata dokter aku gak bakalan tinggal lama lagi di dunia ini. Padahal ni yah cita-citaku belum terkabul tapi ya sudahlah pada dasarnya cita-citaku memang tidak akan pernah di kabulkan, " ucap Berlin, setelah itu Berlin kembali berdiri dan pergi ke meja makan.
Tio yang mendengar itu langsung menatap kepergian adiknya, ada hal yang benar-benar menyentuh hatinya saat ini. Ia benar-benar tidak tau kalau adiknya memang tidak punya banyak waktu di dunia ini, apakah Tio memang egois? entahlah aku pun tak tau.
"Mah, " panggil Berlin yang langsung memeluk ibunya.
"Sayang mau makan? " tanya ibunya sambil mengecup kening Berlin.
"Enggak, cuman mau ngemil aja, " balas Berlin yang memang tak mau makan-makanan yang berat.
"Ya sudah tunggu di sini, mamah ambilkan makanan untuk mu, " ibunya Berlin langsung mengambilkan makanan ringan untuk anaknya itu.
"Nih, " ucap ibunya sambil menyimpan makanan itu di depan anaknya, ia juga ikut duduk di samping Berlin.
"Makasih mah, " balas Berlin yang langsung memakannya.
Sementara itu di tempat lain Daniel baru saja pulang ke rumahnya, baru saja pria itu menginjakkan kakinya di lantai rumahnya seseorang sudah memaki dan memarahinya.
"Dasar anak tak tau di untung, darimana saja kamu jam segini baru pulang, " bentak seorang pria yang menghalangi jalan masuk Daniel.
"Pah sudah, anakmu itu baru pulang sekolah. Jangan lah kau marahi dia, " teriak seorang wanita yang langsung berdiri di hadapan Daniel.
"Bu sudahlah, jangan membela ku, " ucap Daniel yang meminta ibunya untuk diam saja.
"Tidak, ibu tidak bisa diam, " balas ibunya.
"Kau ini bagaimana sih? minggir, " ayahnya Daniel mendorong ibunya Daniel sampai ia tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Pah jangan pernah sentuh ibuku, kalau kau mau marah, marah saja padaku. Jangan pada ibuku, " bentak Daniel sambil membantu ibunya untuk bangun.
"Mana uang yang kau janjikan kemarin? " tanya ayahnya sambil menyodorkan tanganya.
Daniel membuka tasnya lalu mengeluarkan amplop coklat, " Kau ambil itu semua, " Daniel melemparkan uang itu ke hadapan ayahnya, setelah itu ia menuntun ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar anak tidak tau diri, " bentak ayahnya sambil mengambil uang yang berceceran.
Di kamar Daniel langsung menidurkan ibunya di kasur, " Mah, mamah gak papa kan? " tanya Daniel cemas.
"Enggak mamah gak papa kok. Tapi kamu dapat uang sebanyak itu dari mana? " tanya ibunya yang heran kenapa anaknya bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
"Mah sudahlah jangan memikirkan aku dapat uang sebanyak itu dari mana, sekarang yang perlu mamah tau adalah besok aku ada pertandingan basket mamah do'akan aku yah supaya aku menang, " balas Daniel yang tak mau memberi tau dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu.
"Tapi kamu gak mencuri kan? " tanya ibunya kembali.
"Mah sebutuh-butuhnya aku, aku gak mungkin lakuin hal itu mah, aku masih tau kok kalau itu tidak baik, " balas Daniel sambil tersenyum.
"Syukur deh kalau begitu. Mamah janji akan do'akan kamu supaya besok menang, " ucap ibunya sambil membalas senyuman anaknya.
"Lumayan aja mah, uangnya bisa aku gunain untuk nambahin uang oprasi mamah, " balas Daniel.
"Sayang jangan mikirin mamah yah, sekarang itu yang perlu kamu pikirin adalah sekolah kamu, " ucap ibunya yang tak mau anaknya terlalu memikirkan penyakitnya.
"Tapi mah, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mamah, " balas Daniel.
"Sudah yah, sekarang mamah lebih baik tidur saja, " Daniel meminta ibunya untuk tidur saja.
Sedangkan dirinya setelah itu langsung pergi ke kamarnya, ia benar-benar bingung harus mencari uang di mana lagi untuk biaya oprasi ibunya. Sedangkan motor nya sudah ia jual, tapi mobilnya masih belum ia jual karena belum ada yang mau membeli mobilnya.
Setiap pulang sekolah terkadang ia suka kerja part time di beberapa tempat untuk menghidupi keluarga sambil menabung untuk biaya oprasi ibunya. Walaupun ia terkadang mengeluh tapi jujur saja kalau dirinya mengeluh dan menyerah maka ia akan kehilangan semuanya.
Jadi sebisa mungkin kali ini ia berjuang menghidupi keluarganya.
__ADS_1