
Hari sudah mulai sore di rumah Berlin sedang menonton televisi sambil makan cemilan yang ibunya berikan padanya tadi.
"Kenapa kamu bisa sampai jatuh sih? " tanya ibunya khawatir.
"Tadi tuh aku abis dari kamar mandi, terus lantai kamar mandinya licin jadi aku kepeleset deh, " balas Desi sambil tak lepas-lepasnya mengalihkan pandangan matanya dari televisi.
"Ya sudah besok Ibu akan minta sekolah untuk bersihkan semua kamar mandinya, biar kamu gak kepeleset lagi, " ucap ibunya yang kesal pada sekolah itu.
"Jangan dong mah, aku gak papa kok, " balas Berlin sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kamu lain kali harus lebih hati-hati yah, " pinta ibunya.
"Baik bu, " balas Berlin sambil tersenyum lalu Berlin kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi.
"Ya sudah ibu ke dapur terlebih dahulu yah, " pamit ibunya sambil berjalan menuju dapur.
Sementara itu di rumah Sam ia sedang berada di kamarnya, ayahnya Sam kembali membiarkan Sam tinggal di rumahnya karena permintaan Berlin sebagai ganti dari kembalinya kerja sama antar perusahan Ayahnya Berlin dan Ayahnya Sam.
"Semakin hari kamu semakin gemesin aja, " ucap Sam sambil menatap sebuah foto Berlin yang ia ambil diam-diam.
"Andai waktu bisa ku ulang, aku benar-benar tak akan melepaskanmu, " lanjutnya sambil menidurkan tubuhnya.
Di tempat lain Daniel sudah berada di depan rumah Berlin sambil membawa makanan, ia membunyikan Bel rumah Berlin.
"Permisi, " ucap Daniel.
Seorang wanita membukakan pintu itu sambil tersenyum, " Maaf ada apa Den? " tanya wanita itu.
"Berlin nya ada? " jawab Daniel sambil tersenyum ramah.
"Ouh, mau ketemu non Berlin, masuk! saya antarkan, " balas wanita itu sambil mempersilahkan Daniel masuk.
"Tunggu di sini dulu yah, saya mau panggilkan non Berlin terlebih dahulu, " Wanita itu meminta Daniel untuk diam di ruang tamu terlebih dahulu.
Daniel pun duduk di sana sambil melihat sekeliling rumah Berlin, tak lama setelah itu Berlin pun datang dan langsung duduk di sebelah Daniel.
"Ngapain lu ke sini? " tanya Berlin sambil menatap Daniel.
"Tadi kan waktu pulang sekolah gue gak bisa anterin lu pulang, jadi mau minta maaf sekalian mau liat lu juga, " balas Daniel.
__ADS_1
"Ouh, kirain mau apa? " ujar Berlin sambil mengangguk dan memalingkan tatapannya.
"Emangnya lu mau gue ngapain ke sini? " tanya Daniel.
"Enggak kok, " balas Berlin.
"Nih, " Daniel memberikan kresek yang berisikan makanan pada Berlin.
"Buat aku? " tanya Berlin sambil menatap Daniel.
"Ya iyalah, masa aku kasihnya ke kamu tapi buat orang lain sih, " balas Daniel.
"Ya kali aja buat orang lain, eh tapi makasih yah, " ucap Berlin sambil menerima makanan itu dengan tersenyum.
Memang sudah sedaei tadi ia ingin jajan tapi ia malas untuk pergi ke luar atau pesan ke ojek online, tapi untunglah Daniel begitu pengertian padanya.
Berlin membuka isi kresek itu yang ia simpan di meja, ternyata di sana ada martabak manis, sate, kebab, cilok dan minumannya.
"Nih kamu juga harus makan, kita makannya sama-sama aja, " Berlin juga menyodorkan makanan itu ke hadapan Daniel.
Berlin mengambil dan memakan Sate sedangkan Daniel mengambil cilok. Mereka berdua pun makan semua makanan itu bersama-sama, karena makanannya tidak habis Berlin memberikan makanan itu pada pembantu rumah tangganya.
Sementara itu di tempat lain Sam sedang berjalan menuju kafe, ia ingin mencari udara segar terlebih dahulu. Sampailah pria itu di sebuah Kafe lalu ia duduk di kursi yang ada di luar kafe sambil memesan kopi latte.
Sam menatap jalan raya yang di lewati oleh banyak kendaraan dan juga orang yang berlalu-lalang, sampai matanya melihat sebuah dua anak kecil wanita dan pria sedang bermain-main sambil tertawa bahagia.
"Dulu aku pun sebahagian mereka, " gumam Sam sambil menatap kedua orang itu.
"Andai waktu tak cepat berlalu, mungkin aku pun masih sebahagian mereka, " Sam masih menatap anak itu dan tanpa sadar Sam tersenyum.
"Hey, " seseorang mengagetkan Sam.
Sam langsung menatap wanita itu dengan tatapan kesal, " Ngapain sih lu di sini? " tanya Sam datar.
Wanita itu duduk di depan Sam, " Hey, ini tempat umum jadi apa salahnya gue di sini? " tanya balik wanita itu.
Mila, yah wanita itu adalah Mila. Satu dari banyaknya orang yang cinta pada Sam, tapi sayangnya Sam tak pernah membalas cintanya sedikitpun.
"Pergi gak luh, " Sam mengusir Mila dari hadapannya.
__ADS_1
"Kalau aku gak mau gimana? udah deh Sam aku gak bakalan gangguin kamu kok, anggap aja gue gak ada, karena kan gue cuman mau mandangin elu, " balas Mila yang tak mau pergi dari sana.
"Ok, tapi dengan satu sarat, " ucap Sam sambil menatap Mila dengan tatapan yang tak mudah untuk di artikan.
"Apa? " tanya Mila girang sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Sam.
"Besok lu bakalan pindah alam, " balas Sam menakutkan dengan suara beratnya.
"Oke gue pergi, gila lu yah? emang susah sih kalau orang yang udah jahat dari lahir, " ucap Mila kesal sambil berdiri dan pergi dari hadapan Sam karena takut.
Sam kembali menatap anak-anak itu, namun bayangan masa lalu kini melintad dalam pikirannya.
Flashback on
"Hey Sam tungguin Berlin kenapa sih, " teriak Berlin yang berlari mengejar Sam.
"Ayo dong Berlin jangan nyerah, ayok kejar Sam, " balas Sam sambil tertawa melihat Berlin yang kelelahan.
"Ah Sam kamu mah jahat, aku udah capek tau. Udah ah, " Berlin malah duduk di tanah dengan nafas yang tak beraturan.
"Ih kok malah duduk sih? " tanya Sam agak kesal.
"Aku kan udah bilang capek, " balas Berlin.
Sam berjalan mendekati Berlin lalu duduk di sebelahnya, namun tiba-tiba Berlin memeluk Sam dengan erat.
"Hore aku yang menang, " teriak Berlin kegirangan.
"Ahhhhh kok kamu pelit sih? " tanya Sam kesal.
"Biarin, " balas Berlin sambil tertawa dan berdiri.
"Awas aku kejar nih? aku bakal buat kamu tersiksa, " canda Sam sambil ikut berdiri dan berlari mengejar Berlin.
Berlin masih tertawa walaupun sambil berlari untuk menghindari Sam, tapi sayang Sam dapat menangkap Berlin dengan sangat mudah. Sam langsung menggelitik Berlin sampai Berlin tertidur di tanah sambil tertawa.
"Sam udah aku capek, " teriak Berlin.
Sam pun langsung melepaskan tangannya lalu duduk dengan lutut yang ia peluk sambil menatap ke arah depan di ikuti oleh Berlin yang juga mengikuti cara duduknya Sam.
__ADS_1
"Aku berjanji pada Tuhan, untuk selalu menjadi mu, " ucap Sam sambil menatap kosong ke depan.