
Setelah berganti hari Sam akhirnya baru pulang ke rumahnya dengan keadaan wajah yang benar-benar sangat kusut dan tidak bersemangat. Baru saja Sam sampai di depan pintu rumahnya, Sam sudah di hantam oleh ayahnya sendiri sampai membentur pintu.
"GARA-GARA KAMU AYAH JADI KEHILANGAN KESEMPATAN AYAH UNTUK KEMBALI MEMBANGKITKAN PERUSAHAAN AYAH, " ucap ayahnya Sam sambil menatap Sam dengan tatapan tajam.
Sam hanya dapat memegang luka di bibirnya yang saat ini sudah mengeluarkan darah karena pukulan dari ayahnya sendiri, " Aku hanya melakukan apa yang aku tau, " balas Sam.
"JANGAN PERNAH BERANI-BERANINYA BICARA HAL MENJIJIKKAN ITU LAGI DI DEPANKU, " bentak ayahnya kembali.
Kini ayahnya Sam menendang perut Sam sampai-sampai Sam mengeluarkan darah dari mulutnya, Sam saat ini hanya bisa merintis kesakitan.
"KAU SUDAH MEMBUAT KU MALU, APAKAH ITU SEMUA YANG KAU INGINKAN? " tanya ayahnya sambil beranjak mengambil kursi yang berada di ruang tamu.
Saat ayah Sam akan menghantam Sam menggunakan kursi tiba-tiba adiknya Sam datang dan menghalangi ayahnya agar ia tidak memukul Sam.
"Pa sudahlah, ini tidak perlu. Apakah perlu papah mengorbankan nyawa anak papah hanya demi perusahaan? " tanya adiknya Sam.
"Jika itu perlu akan ku lakukan, " balas ayahnya dengan senang hati.
"Sudahlah sayang, " tiba-tiba ibunya Sam datang dan mencoba menangkan ayahnya Sam.
"Jangan pernah kau muncul di hadapanku lagi, " ucap ayahnya Sam sambil menunjuk Sam.
Sam saat ini masih merasakan rasa sakitnya, tanpa peduli hal lain. Sebenarnya rasa sakit yang berada di hatinya jauh lebih besar dari yang ia rasakan saat ini.
"Ikut dengan ku yuk kak, " adik nya Sam membawa Sam ke taman belakang dan mendudukkan Sam di kursi putih panjang yang berada di sana.
__ADS_1
"Kakak tunggu di sini dulu yah, " Adiknya Sam pernah terlebih dahulu ke dalam untuk mengambil kotak obat. Ia ingin mengobati luka nya Sam.
Setelah beberapa menit akhirnya ia kembali dengan mengambil kotak itu dan mulai membukanya, " Kak aku tau kakak punya alasan, " ucap Adiknya sambil terus mengobati lukanya Sam.
"Aku heran kenapa Ayah tidak pernah mau mendengarkan alasanku? kenapa ia hanya ingin di dengarkan bukannya mendengarkan? " balas Sam yang juga tidak mengerti dengan pemikiran ayahnya sendiri.
"Itu sifat kebanyakan manusia kak. Mereka hanya ingin di dengarkan tanpa mau mendengarkan, mereka juga hanya mau di mengerti tanpa mau mengerti, " ucap Adiknya Sam.
Sementara itu saat ini Daniel dan Anggun sedang berada di kamarnya Berlin bersama dengan Berlin nya, saat ini Berlin sudah pulang ke rumahnya.
"Aku sedih kenapa pada saat itu aku harus drop, kalau tidak Sam pasti masih berada di samping ku, " ucap Berlin sedih sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, aku tau Sam punya alasan kenapa ia meninggalkan mu saat itu juga, " balas Anggun sambil memegang tangan kanannya Berlin.
"Alasan apa yang membuat dia meninggalkan ku? alasan apa? kenapa ia harus baik padaku saat ini jika pada kenyataannya ia akan kembali meniggalkan ku? ia hanya ingin mempermainkan ku saja? ia hanya ingin membuatku menderita saja? iya begitu? " jujur saja berbagai pertanyaan saat ini bermunculan dalam pikirannya.
"Aku tidak tau salahku apa padanya, apa yang membuatnya tega padaku? saat itu aku sudah mulai melupakannya, aku sudah mulai terbiasa hidup tanpanya. Tapi hanya dengan beberapa hari ia menghancurkan semua itu, kalian semua tau? saat ini aku sudah benar-benar Gila, " balas Berlin yang sudah merasa kalau dirinya sudah gila.
"Aku senang saat ini Sam menjauh dari Berlin, tapi aku juga tidak bisa melihat Berlin terluka lebih baik aku melihat Berlin bahagia walaupun bersama orang lain. Daripada aku harus melihatnya menderita di depan mataku sedangkan aku tak dapat berbuat apapun, jujur itu bahkan hampir membuat hatiku hancur, " gumam Daniel dalam hati.
"Berlin udah yah, lelaki itu banyak bukan cuman Sam saja, " Anggun kembali menenangkan Berlin.
"Kamu istirahat saja, " Daniel meminta Berlin untuk tidur saja.
"Baiklah, mungkin dengan tidur aku bisa melupakan Sam untuk sementara waktu, " balas Berlin sambil membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
Anggun dan Daniel pun keluar dari kamarnya Berlin untuk memberikan Berlin waktu sendiri. Saat mereka berdua keluar Ayah dan ibunya Berlin rupanya sudah menunggu mereka di ruang tamu, mereka benar-benar khawatir dengan kondisinya Berlin saat ini.
"Bagaimana kondisinya Berlin? " tanya Berlian.
"Dia sudah tidak papa, udah agak tenang kok, " balas Anggun.
"Apakah aku perlu memaksa Sam untuk datang kemari? " tanya ayahnya Berlin dingin, pria ini masih kesal dengan Sam yang tidak mau bertanggung Jawab.
"Tidak usah, saya minta jangan salahkan Sam dalam hal ini. Dia terpaksa melakukan ini, " balas Daniel.
"Terpaksa apanya? dia dengan sengaja membuat anakku seperti ini, " ayahnya Berlin tidak setuju dengan pernyataan Daniel.
"Om tante, saya tau siapa Sam yang sebenarnya. Ia pria yang tidak mungkin melukai sahabat kecilnya apalagi dia sangat menyayangi Berlin, dia hanya butuh waktu dan juga pikiran yang tenang. Dia emang orang yang agak egois, " Anggun tidak mau Sam kembali kena dampak semua ini.
Walaupun ia tau memang apa yang Sam lakukan ini salah, tapi itu dikarenakan Sam tidak tau apa yang harus ia lakukan. Anggun akan membantu Sam menemukan jawaban yang selama ini ada dalam hidupnya Sam.
"Sudah yah tante aku mau pulang dulu, " pamit Anggun sambil berdiri.
"Aku juga mau pulang dulu, " timpa Daniel sambil ikut berdiri.
Sementara itu Sam saat ini sedang berada di taman yang berada tak jauh dari rumahnya ia sendirian di sana. Ia sebenarnya ingin istirahat di rumahnya, tapi karena ayahnya mengusir Sam ia jadi tak bisa masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Saat ini Sam sedang berusaha menenangkan pikirannya yang benar-benar sedang kacau ini. Namun tiba-tiba seseorang duduk di samping dirinya.
"Kenapa kau ada di sini? " tanya Sam pada orang yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Aku sedang dalam perjalanan pulang, tapi tak sengaja melihatmu di sini aku jadi ingin bertemu dengan mu. Ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan padamu saat ini, " balas orang itu tanpa menatap ke arah Sam.