keikhlasan cinta kayla

keikhlasan cinta kayla
persiapan


__ADS_3

semua nampak bahagia dengan pertunangan ku dan rayhan, kulihat dari wajah bunda dan kayra yang sedari tadi tak hentinya memperlihatkan senyuman termanis mereka oh.. tuhan betapa bahagianya diriku melihat mereka sebahagia ini namun tidak pada hati kecil ku, meskipun aku mau tapi aku tetap tidak bisa menuruti hatiku sendiri ikhlaskan aku tuhan ucap ku dalam hati


"kay, ini bagus tidak"? tanya bunda sambil memperlihatkan gaun berwarna navy dengan kombinasi biru di sebagian bawah serta atasnya


" bagus bun" jawabku sambil memperlihatkan senyum palsuku


"oiya kay, bagaimana dengan gaun mu? apakah kau menyukainya? " tanya bunda lagi


"kak kayla pasti suka bun, itukan pemberian dari calon imam" ucap kayra menyela pembicaraan ku dengan bunda meskipun tidak ku pungkiri aku menyukai gaun yang di berikan rayhan padaku


"hus, kamu jangan menggoda kakak mu terus ra lihat tuh pipi kakak mu sudah kayak tomat rebus" ucap bunda sambil menunjuk pada ku


"apaan sih bun, kayla biasa saja kok" ucap ku lirih


"kak, apa isi suratnya" tanya kayra penasaran


"surat apa ra? " tanya bunda pada kayra

__ADS_1


"surat cinta kali bun" jawab kayra menggoda ku


"bukan surat apa-apa kok bun, hanya surat biasa " ucapku mengelak


"ya sudah, jangan di bahas lagi" ucap bunda membuatku sedikit lega karena tidak harus panjang lebar mencari alasan


"yah.... bunda ga seru " ucap kayra lesu


aku hanya bisa tersenyum manis mengejek kayra yang nampaknya sangat penasaran dengan isi surat dari rayhan


"kay, semua persiapan pertunangan mu sudah di siapkan oleh rayhan dan tante dinda" ucap bunda


"aku kan ga minta itu semua kemauan mereka" ucapku membela diri


"kamu patut bersyukur kay, karena rayhan sangat perhatian dan peduli padamu" ucap bunda


"iya bun " ucap ku lirih sambil melihat beberapa gaun yang dikirim rayhan untuk bunda dan kayra

__ADS_1


***


hari ini bukan hanya aku saja yang tampak lesu sepertinya matahari juga demikian karena sinarnya tak seterang kemarin, mungkin matahari juga merasakan apa yang kurasakan gelisah dan bimbang, bagaimana tidak sebentar lagi aku akan terikat dengan orang yang belum bertatap muka dengan ku sama sekali, seperti apakah dia? baik kah? hitam atau putih? tinggi atau pendek? entahlah aku tak bisa membayangkannya karena memikirkannya membuatku hatiku sesak dan ingin teriak sekeras-kerasnya namun tak bisa kulakukan.


jam menunjukkan pukul 20:45 aku semakin gelisah memikirkan hidupku karena tinggal malam ini saja aku bebas sebab mulai malam berikutnya aku sudah akan menjadi milik orang asing yang masih misterius menurutku, kulihat langit malam dengan tatapan kosong tak ada bintang di situ bahkan bulan pun enggan menampakkan sinarnya sepertinya mereka juga meratapi nasibku


"kay, kamu belum istirahat? " tanya bunda yang sedang berjalan menghampiri ku di balkon rumah, ya balkon adalah tempatku biasa menyendiri dan merenung


"belum ngantuk bun" jawabku


"kamu harus cepat istirahat biar besok kamu fress" pinta bunda padaku


"ya bun, bentar lagi kayla hanya ingin menikmati angin malam sebentar" jawab ku


"jangan lama-lama ya, angin malam ga baik buat kesehatan mu" perintah bunda


"siap bun" ucap ku meyakinkan bunda

__ADS_1


"bunda masuk duluan ya" pamit bunda sambil mengelus lembut rambutku dan pergi meninggalkanku sendirian menikmati malam


__ADS_2