
matahari sudah semakin terik menampakkan sinarnya, sepertinya dia sedang terbakar atau sedang bahagia entahlah yang aku tau hati ku sangatlah resah, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan? jawaban apa yang harus aku berikan kepada andika atau pertanyaan nya dalam surat berwarna biru langit itu? di satu sisi ada bunda dan di sisi lain ada hati ku, akan kah bisa aku memilih? ah rasanya tak mungkin ini terlalu rumit lebih rumit dari pelajaran matematika yang tidak pernah aku sukai, ah... mungkin aku tidak harus memilih salah satu dari keduanya agar tidak ada yang bahagia dan tidak pula ada yang terluka? mungkin ini jalan terbaik,
***
jarum jam sudah menunjukkan pukul 13:54 hari ini aku berangkat lebih cepat dari biasanya untuk menghindari andika yang biasanya masih nongkrong dengan abay di depan gerbang kampus sebelum kuliah di mulai, entahlah mungkin hanya hari ini aku berusaha menghindari andika karena biasanya aku selalu yang berharap berpapasan dengan nya bahkan kalau tidak melihatnya hati ku rasanya kurang puas dan gelisah, ku langkahkan kaki ku menuju lobi kampus yang kelihatannya sudah mulai ramai dengan mahasiswa yang berdatangan, ada yang berlari kecil, ada juga yang santai sambil menyenderkan punggungnya ke tembok yang ada di belakangnya
"kay, di cari-cari ternyata di sini" terdengar suara yang tidak asing lagi bagi ku, nampaknya sumber suara itu berasal dari belakang ku tak butuh waktu lama orang yang mempunyai suara itu sudah menjejerkan jalannya tepat di sampingku
"ngagetin aku aja kamu mil" protes ku pada mila yang nampak sangat ceria hari ini seceria sinar mentari
"heee, maaf"sambil memperlihatkan barisan giginya yang nampak rapi dan putih
"hmm" jawabku sambil celingak-celinguk ke kanan-kiri
"kamu kenapa kay? " tanya mila nampak seperti orang yang sedang penasaran
__ADS_1
"aku lagi menghindari andika mil" curhatku tak sengaja
"huh, kenapa? oiya aku jadi ingat tentang surat yang di kasih dika kemaren, itu surat apa kay? "
tanyanya lagi, mungkin dia penasaran dengan isi surat yang di titipkan andika pada nya kemaren
"dia melamar aku mil, dan dia minta jawabannya hari ini" jawabku jujur karena hanya pada mila lah saat ini aku bisa menceritakan apa yang terjadi pada ku akhir-akhir ini
"huh, lamar? andika ngelamar kamu" ucap mila dengan nada yang agak keras dan nyaring sehingga semua mata yang berada di loby memusatkan perhatiannya padaku dan mila
"maaf, maaf.... tapi aku tidak salah dengar kan kay? " tanya nya serius
"tidak kok kamu tidak salah dengar itu memang isi surat yang andika kasih ke aku kemaren" papar ku pada mila
"trus kenapa kamu menghindar? bukannya kamu juga suka dika yaa? ah.. pasti kamu malu yaaa? ledek mila pada ku membuat pipiku memerah seperti udang rebus kerena malu
__ADS_1
"aku sudah di jodohkan" jawab ku spontan
"huh, di jodohkan?" tanya mila dengan suara yang lebih keras dan nyaring dari sebelumnya dan lagi-lagi membuat banyak mata yang berada lorong itu sekali lagi memusatkan perhatiannya pada kami
"sstt" ucapku sambil menutup mulut mila dengan telunjukku ku
"sorry, kay aku kaget, abis kamu sih ngasih kabar kok anih-anih semua dadakan lagi?
pertama di lamar dan kedua di jodohkan" tanya nya heran
"siapa yang di jodohkan mil?? " terdengar suara laki-laki yang sudah tak asing lagi di telinga ku sepertinya asal suara itu dari belakang ku dan mila, tak butuh waktu lama untuk ku dan mila berbalik ke arah belakang dan dengan sangat jelas sudah berdiri dengan tegap di depan kami sesosok pria yang sedari tadi aku hindari itu.
"andika" ucapku dan mila kaget...
bersambung...
__ADS_1