
hati ku gelisah, apa yang harus ku lakukan? menjawab panggilan tanpa nama yang sedari tadi terus berbunyi itu? mungkin kah yang menelfon ku ini adalah andika karena sebelum tadi siang kami berpisah di loby kampus dia sempat bilang kalau mau menelfon setelah selesai kuliah, "ah.. tapi bukannya aku save nomernya andika? atau kah dia ganti nomer? mungkin saja ini penting" gumam ku dalam hati, sebelum panggilan itu berakhir buru-buru aku menjawab panggilan tak di kenal itu.
"assalamualaikum... " terdengar suara asing dari ujung telfon, suaranya terdengar merdu meski hanya ucapan salam yang terucap, hati ku bergetar mendengarnya seperti ada sesuatu yang masuk menusuk hati ku
"waalaikum salam.." jawabku pada suara yang memberikan salam tadi
"benar ini dengan kayla salsabila ahmad? " tanyanya membuatku penasaran " dari mana dia tau nama ku? sedangkan aku mengenal suaranya pun tidak pernah apa lagi mengenal orangnya" tanya ku dalam hati
"iya benar, ini dengan siapa? " jawab ku balas bertanya
"muhammad rayhan maulana" jawabnya membuatku sedikit kaget, inikah pemilik suara orang yang di jodohkan dengan ku?
"ray... han? " tanya ku terbata karena gugup, ini baru pertama kalinya aku berbicara dengannya setelah tau kalau aku sudah di jodohkan dengan pria ini
"iya benar.. saya hanya mau minta maaf karena di pertemuan kemarin saya harus pulang dan tidak jadi bertemu kamu" ucapnya
"iya, tidak apa-apa" ucap ku masih gugup
"lain kali tidak akan saya ulangi" ucapnya membuatku bertanya dalam hati "lain kali? berarti dia masih ingin berjumpa dengan ku? bagaimana ini apakah yang harus ku lakukan? menolaknya atau mengiyakannya
ah... lebih baik aku bilang saja kalau aku sudah mempunyai orang yang kusukai, mungkin dia akan menerimanya? sepertinya dia orang yang bijak sana.
__ADS_1
"baiklah" jawabku
" sudah dulu ya kayla, saya masih ada kerjaan
assalamualaikum" pamitnya
"iya, waalaikum salam" jawabku sambil menutup telfon, belum selesai aku mengusap dada karena teleponnya sudah di matikan tiba-tiba
"siapa kay? " tanya wanita berambut pendek yang sedari tadi memperhatikan ku mengobrol di telfon
"pria yang di jodohkan dengan ku" jawabku membuatnya penasaran
"huh, kamu menerimanya kay? sejak kapan? kok kamu gak cerita? lalu bagaimana dengan andika?" tanya nya cerewet
"heee... kirain udah di terima" sambil mengusap-usap kepalanya dengan tangannya
kruuuukkk... kruuuukk
suara yang semakin terdengar jelas dan nyaring yang tak lain adalah bunyi perut mila yang nampaknya sudah mulai keroncongan karena kelamaan menunggu ku
"ayok, aku sudah lapar sekali" ajaknya sambil memegang perutnya
__ADS_1
"ya udah ayok" tak butuh waktu lama kami pun sampai di warung bakso pak jono, mila yang sudah kelaparan langsung memesan bakso ekstra jumbo dan satu lontong sedangkan aku hanya memesan semangkuk bakso yang seperti biasa tampa ada imbuhan lontong
"kay, dika di mana ya? kok belum datang? aku makan duluan saja kay? " ucap mila menanyakan keberadaan andika karena dia lah yang mengajak kami untuk makan di warung pak jono sehabis kuliah
"masih ada kelas mungkin" jawabku berfikir positif
"mungkin" ucap mila sambil melahap bakso ekstra jumbo di hadapannya.
lima menit pun berlalu bakso ku dan mila sudah habis separuh dan tiba-tiba
"maaf, tadi aku masih ada rapat senat"
ucap pria yang berdiri di depan ku yang tak lain adalah andika
"iya ga apa-apa dik, maaf aku dan kayla makan duluan soal nya aku dari tadi siang belom makan" ucap mila pada andika sedangkan aku hanya bisa terdiam seribu bahasa
"iya ga apa- apa mil, santai saja" jawab andika,
"oiya kay bagaimana kamu sudah ada jawaban atas pertanyaan ku? " tanya andika menagih jawaban atas pertanyaan nya dalam surat yang dia titipkan pada mila tempo hari yang lalu.
deg...
__ADS_1
bersambung...