
Selama beberapa hari...Devon terlihat selalu menemui Safa,hanya untuk sekedar bertemu dan sedikit bercerita.Terkadang Devon menghampiri Devon di cafe atau mencari Safa di club tempat Safa bekerja.
Meski Devon dan Safa berteman tetapi mereka sampai sekarang belum bertukar nomor telfon.Devon yang nota benenya hanya ingin memanfaatkan Safa,dan juga Safa seorang wanita yang tidak gampang percaya begitu saja dengan seorang laki-laki membuat mereka tidak saling bertanya soal nomor telfon.
Jika memang membutuhkan nomor telfon Safa,tidak perlu lama-lama buat Devon mendapatkannya.
Devon mendatangi Safa lagi.
"Safa...nanti malam kamu kerja di klub lagi.."
"Tentu saja...memangnya kenapa.."
"Tidak apa-apa..".
***
Klub malam memiliki daya tarik yang aneh dan beragam bagi sebagian orang.Cahaya lampu disco seperti lampu kehidupan bagi beberapa orang yang menahan dan menenggelamkan permasalahan hidupnya,tak terkecuali Devon.
Sejak berpisah dan mengetahui perselingkuhan Zia,klub menjadi tempat melupakan segalanya untuk sementara bagi Devon.
Devon duduk disofa yang ada di dalam klub.Seorang pelayan datang menghampiri..
"Apa yang bisa saya sediakan untuk anda tuan.."Pelayan seksi itu menawarkan pelayanan untuk Devon,tapi Devon hanya melirik dan menyunggingkan senyumnya.
"Tolong panggilkan Safa..."
"Safa...gadis itu tidak ada menarik-narik nya tuan..."
"Menarik atau tidak...itu hanya aku yang bisa menilai..cepat panggilkan dia...kau jangan menggangguku.."
Gadis itu pergi dengan rasa dongkol dihati.
Gadis tadi memanggil Safa..Safa mendatangi Devon..
"Ada apa.."tanya Safa ketus.
"Temani aku.."
"Hei..selama beberapa hari aku sudah menemanimu...dan sekarang aku sedang bekerja jadi aku tidak bisa menemanimu...."Safa berbalik ingin pergi.
"Kalau kau tidak mau menemaniku...aku akan mengacak-acak tempat ini..."
"Dasar fikiran orang mabuk.."Safa menggerutu.
"Baiklah..dari pada nanti aku yang terkena masalah..."
Safa menemani Devon untuk bercerita,sampai akhirnya Devon bercerita tentang Zia.Safa merasa iba mendengar cerita Devon.
"Lalu apa yang kamu lakukan setelah mengetahui perselingkuhan kekasihmu..."
"Apa yang aku lakukan....
Aku meninggalkannya dan membuat hidupku lebih baik seperti sekarang ini.."
"Lalu setelah kau membuktikan kesuksesanmu...kenapa kamu masih pergi ketempat seperti ini..."
"Karena dia..mulai mendekatiku lagi.."
Safa mengangkat alisnya..
__ADS_1
"Apa sebenarnya kamu masih cinta sama dia..."
Devon menarik ujung bibirnya.
"Jika terus digoda olehnya mungkin aku akan terjatuh kepelukannya lagi,dan aku tidak mau itu terjadi..."
"Jadi kamu masih ada rasa untuknya walau sedikit..."
Devon mengangguk..
"Aku ingin kau membantuku.."
"Membantumu dengan apa.."
"Jadilah kekasihku...agar dia menjauhiku.."
Safa terkejut dan langsung berdiri..
"Apa kamu bilang...Jadi kekasihmu.."
Devon mengangguk..
"Kamu gila ya...aku tidak mau..cari saja wanita lain....aku tidak mau kau jadikan alat untuk balas dendammu ..."
"Aku akan membayarmu.."
Plak...
Sebuah tamparan melayang dipipi Devon..
"Apa kau fikir aku wanita murahan yang bisa kau bayar dengan menjadi kekasih sementaramu...jangan berfikiran sempit tentangku...Aku bukan wanita yang mudah kau rayu dengan uang tuan...
Devon berdiri dari duduknya...
"Berani sekali kau menamparku didepan orang banyak..."
"Kenapa..apa kau malu...seharusnya tamparan itu aku ulangi beberapa kali..."
Safa mengangkat tangannya untuk menampar Devon kembali,tapi ia urungkan..
"Percuma jika aku menamparmu..itu hanya akan menyakiti kulitmu saja...sedangkan yang bersalah adalah hati dan fikiranmu..."
"Kau.._"
"Maaf...hubungan pertemanan kita sudah berakhir...dan kau jangan menemuiku lagi.."Safa meninggalkan Devon..
Safa berjalan dengan menitikkan air mata..
"Mungkin kau berfikran aku hanya gadis pekerja malam...hingga kau berfikiran..aku akan gampang kau manfaatkan...jika bukan karena terpaksa..aku juga ingin bekerja ditempat yang lebih baik...ternyata tidak ada orang kaya yang ingin berteman dengan orang miskin secara tulus..."
Safa terus berjalan sambil sesekali mengusap airmata dipipinya.
Semua orang yang melihat kejadian tadi hanya berbisik lalu melanjutkan kesenangan mereka.Sedangkan Devon keluar dari klub setelah bertengkar dengan Safa.
"Aku akan memaksamu Safa bagaimanapun caranya.Hanya kamu satu-satunya wanita yang kukenal yang tidak tergoda oleh harta dan kemewahanku...Apapun caranya aku akan lakukan..agar kau mau membantuku.."
Hari-haripun berlalu..Devon mengirim seseorang untuk mengikuti kemanapun Safa pergi dan melaporkannya pada Devon..
"Jika Safa tidak punya kekasih..lalu apa yang membuatnya menolakku..."Devon berbicara sendiri didepan cermin.
__ADS_1
Devon menyuruh orang mengikuti Safa hanya ingin tahu..apakah Safa mempunyai kekasih atau tidak..sehingga dia bisa menolak seorang Devon.
"Kelemahan gadis itu..adalah ibunya..apa aku harus mendatangi ibunya..."
Devon berfikir..
"Ah..tidak..diakan hanya akan membantuku...kenapa harus melibatkan orang tua..."
***
"Safaaa....."suara teriakan didepan kostan Safa..
"Iya buk..."ujar Safa sambil tersenyum lebar..
"Sudah berapa bulan kamu tidak bayar ini kosan..."
"Berapa ya buk...mungkin dua bulan..."
"Dua bulan...dua bulan dari hongkong...kamu sudah telat hampir empat bulan Safa...Jika malam ini tidak kamu lunasi...kamu bereskan barang-barang kamu..kamu keluar dari rumah saya...mengerti..."
"Yah...yah...jangan dong buk...masak ibuk enggak kasihan sama saya....beri saya waktu lagi ya..."
"Tidak bisa...saya sudah tidak bisa mentolerir kamu lagi....ingat kalau kamu tidak segera membayar..kamu harus angkat kaki dari sini....paham.."
"Paham..buk..paham.."
Ibu kost Safa pergi setelah marah-marah dengan Safa..
"Hufft...hampir saja.."Safa membuang nafas kasar.
Keesokannya Safa masih tertidur tapi suara gaduh sudah terdengar...
"Suara apaan sih itu...berisik sekali..."Safa masih memejamkan matanya...
Bruk...suara sesuatu dilempar keluar..
"Cepat bangun..."ibu kost Safa menarik selimut Safa.Safa terperanjat.
"Ibu...ada apa ibuk pagi-pagi sudah ada dikostan saya..."
"Kau lupa apa yang aku katakan tadi malam..."
Safa membuka matanya lebar...seperti mengingat sesuatu..
"Tapi buk..."Safa ditarik keluar dari kamar kost.
"Aku sudah bilang...tidak ada waktu lagi buat kamu..."
"Terus malam ini aku harus tidur dimana buk..."
"Terserah kamu...aku tidak perduli..."Ujar ibu kost lalu menutup pintu.
Safa berjalan dengan membawa tas koper yang berisi baju-bajunya.
"Aku harus pergi kemana sekarang.."
Safa terus berjalan..
"Lebih baik aku nanti malam tidur dicafe saja..."ujar Safa lalu tersenyum berjalan menuju ketempat kerjanya.
__ADS_1