
Devon menyandarkan Safa dimeja kerjanya.
"Kenapa kamu memalingkan mukamu..."ujar Devon.
"Aku..aku ingin melihat-lihat sekeliling ruangan kerjamu.."ujar Safa sambil melihat kekanan kekiri.
Devon memegang dagu Safa..Mata Safa yang lebar dengan bulu mata yang lentik alami,memandang mata Devon yang sedikit sipit.
"Apa kau tahu..mata lebar dan bulu mata yang lentik ini..pasti akan membuatku gelisah dikantor nanti.."
"Kenapa bisa seperti itu.."
"Karena aku pasti akan merindukanmu.."
"Devon..nanti kamu telat berangkat kekantornya.."
"Aku tidak akan telat Sa..aku kan bosnya..apa kamu ingin segera aku cium.."
Safa menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kenapa kau menutup mulutmu rapat-rapat.."ujar Devon yang ingin menjebak Safa agar membuka mulutnya.
"Tadi...hhhmmpp"Sebelum Safa melanjutkan perkataannya,Devon segera mencium bibir Safa.
Setelah puas mencium bibir Safa,Devon melepaskan sambil tersenyum licik.
"Makanya jangan coba-coba menghindar..."ujar Devon.
Devon mengambil tas kerjanya lalu mengusap kepala Safa.
"Aku berangkat kerja dulu ya istriku tersayang.."
Safa kembali terdiam terpaku.
Sopir pribadi Devon sudah siap dengan mobilnya untuk mengantar sang bos.Didalam mobil sudah ada asisten Devon,Andi.
Devon meminta beberapa berkas yang sudah diurus oleh Andi selama Devon tidak kekantor.
Devon sibuk dengan berkas yang ada dihadapannya.Selama didalam mobil,Devon tidak lepas dari laptop dan ponselnya.
"Bagaimana kabar pasar hari ini.."tanya Devon pada Andi yang sedang fokus dengan jalanan yang mulai macet.
"Kabar pasar masih stabil belum ada peningkatan apapun sejak kemarin.."ujar Andi.
"Lalu apa hari ini ada meeting penting.."
"Ada presdir.Ada beberapa meeting dengan perusahaan asing..."
"Perusahaan asing.."
"Ya presdir..ada meeting dengan klien yang dari Jerman..."
"Dari Jerman..."
"Ya presdir..perusahaan yang dipimpin oleh Tuan Alex.."
"Meeting kita nanti akan membahas tentang apa.."
"Kerja sama dengan perusahaan tuan Alex.."
Devon menutup laptopnya.
"Tolong kamu cari tahu semua tentang Alex.Latar belakang dan keluarganya.."
__ADS_1
"Baik presdir.."
Devon diam sejenak..dia mengingat tentang Alex dari bos G grup dan Zia.
"Ooohh...jadi dia sekarang akan mengincar perusahaanku.."Batin Devon.
Sesampainya dikantor seperti biasa semua karyawan akan memberi hormat setiap bertemu Devon.
Devon masuk keruangannya...ternyata disana sudah ada Zia.
"Selamat pagi presdir.."
"Pagi nona Zia..sedang apa anda disini.."ujar Devon.
"Saya mempersiapkan meja anda presdir.."
"Sudah ada sekretaris yang akan merapikan mejaku.."
Devon terlihat angkuh didepan Zia.
"Ya saya tahu presdir..tapi tadi sekretaris anda belum sampai.."
Devon melihat sekretarisnya yang duduk tepat diluar ruangan Devon.
"Terima kasih nona Zia,sekarang anda bisa keluar dari ruangan saya..karena saya ada sesuatu yang harus dibahas dengan asisten saya..."ujar Devon sambil tangannya mempersilahkan Zia untuk keluar dari ruangan Devon.
Andi membukakan pintu untuk Zia.
Sebenarnya Zia merasa kecewa dengan penolakan dari Devon.Tapi karena Zia memang pandai menyembunyikan perasaannya,sehingga dia terlihat tenang.
"Baik presdir saya permisi keluar dulu.."
Zia keluar dari ruangan Devon dengan mengepalkan tangannya.
"Tetap semangat.."ujar Zia menyemangati diri sendiri.
Diruangan Devon..
"Kenapa Zia bisa berada diperusahaan ini...bukankah dia seharusnya yang mengurus perusahaan cabang.."Tanya Devon.
"Maaf presdir..saya lupa memberi tahu anda..nona Zia sekarang sudah pindah keperusahaan ini...karena kita akan menjalankan proyek dengannya..jadi akan lebih mudah menjalankannya.."
Devon terdiam..
"Nanti jadwalkan meeting dengan Alex di restoran Angkasa.."
"Baik presdir.."
Meskipun kini Devon mulai menyukai Safa,Devon masih memikirkan perasaan Zia jika nanti bertemu Alex diperusahaannya.
Waktu menunjukkan pukul sembilan,Devon dan Andi beserta sekretaris Devon sudah mulai bersiap menyiapkan materi yang akan dibahas dengan Alex.
Saat melewati lorong perusahaan Devon berpapasan dengan Zia.
"Kalian mau kemana.."tanya Zia..
"Kami ada.."ujar Andi tapi terhenti saat Devon mengangkat jarinya..
"Saya sedang ada tinjauan diluar..."
"Tinjauan....tinjuan apa.."
"Maaf nona Zia..ini tidak ada hubungannya dengan proyek kita..jadi anda tidak perlu mengetahuinya.."ujar Devon dingin.
__ADS_1
Zia merasa kecewa dengan ucapan Devon..
"Baik presdir..saya minta maaf.."
Devon mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya.
Devon sampai lebih dulu direstoran.Dia memesan tempat pribadi..agar nyaman saat berbincang dengan Alex.
Selang beberapa saat,Alex datang.dia membawa seorang anak kecil bersamanya dan sepertinya bersama babysitternya.
"Selamat siang tuan Devon..."sapa Alex sambil menjulurkan tangannya.
Devon berdiri dan menyambut uluran tangan Alex.
Alex dan Devon mulai membicarakan bisnis mereka.Devon dan Alex akan bekerja sama dalam bidang perhotelan dan Resto.
"Apakah anda sudah memiliki tempat yang bagus untuk memulai bisnis kita ini.."ujar Alex.
"Saya ada beberapa tempat yang saya miliki...nanti biar asisten dan sekretaris saya yang akan menjelaskan..bagaimana.."
"Baiklah..."
"Kalau begitu..saya permisi lebih dulu.."
"Ya...terima kasih dan semoga kerja sama kita bisa membuat perusahaan kita berkembang.."Devon dan Alex saling berjabat tangan sebelum Devon meninggalkan restoran.
Waktu menunjukkan jam makan siang.
Devon menyetir mobil sendiri..
"Safa sedang apa hari ini...apa lebih baik aku pulang saja..ini juga tidak jauh dari mansion.."Devon berbicara sendiri.
Devon menyetir dengan kecepatan sedang.
Sesampainya dirumah,Devon melihat Zia yang sedang duduk melamun dibalkon mansion.
Devon turun dari mobil dan memberi tahu pelayan untuk mengantarkan makan siangnya ke balkon.
Safa masih duduk termenung sambil memandang kedepan.Angin yang terasa sepoi-sepoi..membuat anak rambut Safa berantakan diterpa angin.
Devon menutup mata Safa dengan kedua tangannya.
Safa tidak bereaksi,dia hanya melepaskan dekapan dimatanya dengan pelan..Safa melihat ke belakang..
"Kamu kok gak terkejut..ada apa duduk disini sendirian.."tanya Devon.
Safa hanya tersenyum..
"Kenapa kamu terlihat sedih..."ujar Devon.
"Aku hanya ingat sama ibu.."
"Sudah dong..jangan terus-terusan sedih..disana ibu sudah tenang,sudah tidak merasakan sakit lagi.."
"Kamu benar...tapi aku masih belum sempat membahagiakan ibu..."
"Ibu juga tidak akan bahagia saat melihatmu seperti ini...jadilah Safa yang dulu..Safa yang ceria..Safa yang penuh semangat dan selalu tersenyum pada siapapun.."
"Apa kamu dulu melihatku seperti itu.."
"Tentu saja.."
Safa tersenyum kecut.
__ADS_1
"Sekarang kita makan siang..setelah itu kamu tidak boleh sedih lagi...oke.."