
Devon dan Zia masih berdebat diruangan Devon..
"Devon..cepat katakan..apa ada buktinya kalau aku berselingkuh.."
Devon mulai geram..Devon mengambil ponselnya dan menunjukkan foto kebersamaan Zia dan Alex saat direstoran dan juga lorong hotel..
"Lihat itu baik-baik...itu kamu kan.."ujar Devon dengan nada emosi..
Zia kaget dengan foto yang ditunjukkan Devon...
"Bukan...itu bukan aku...siapa yang sudah mengirimkan foto seperti ini padamu..."
"Tidak ada yang mengirimkan padaku...aku melihat dengan kedua mataku sendiri..kamu bersama Alex setelah aku mengantarmu ke hotel waktu itu...apa kamu tau bagaimana perasaanku Zia,Aku mengantar kekasihku kepada selingkuhannya,betapa bodohnya aku Zia...."
"Devon...sayang ini tidak seperti yang kamu lihat..."
"Kamu masih ingin menyangkalnya.....kamu merayakan hari jadi kalian yang kelima bulan kan....aku melihat semua Zia.Yang tidak aku habis pikir...kamu chek in bersama Alex dihotel."Devon membuang muka sambil tersenyum kecut.
"Apa kurangnya aku padamu Zia,kamu meminta ini itu..sudah aku turuti...tapi kamu masih tega selingkuhin aku...
katakan Zia.."teriak Devon.
"Ya...aku selingkuhin kamu...asal kamu tau..aku lebih bahagia saat bersama Alex.."
"Apa kamu tau kalau Alex itu sudah punya istri...Alex itu sudah beristri.."
"Ya aku juga tahu kalau Alex sudah mempunyai istri...tapi Alex dan aku saling mencintai..."
"Wanita macam apa kamu Zia,yang tega menyakiti hati wanita lain..."ujar Devon sambil berjalan keluar ruangannya.
"Semoga kamu segera sadar Zia..."ujar Devon sebelum menutup pintu ruangannya.
***
Acara pernikahan Melda telah selesai dan sekarang semua saudara dan keluarga sudah berkumpul diruang tamu.
"Safa...kapan kamu akan menyusul Melda.."ujar salah seorang saudara Safa.
__ADS_1
"Ngapain aku menyusul Melda,dia kan sekarang tinggal sama suaminya..aku takut dimarahi suaminya nanti kalau aku susul Melda kesana..."
"Iiihh..bukan itu maksudku...kapan kamu menyusul menikah..seperti Melda.."
"Safa masih belum memikirkan soal pernikahan...Safa masih ingin bersama keluarga..."
"Tapi Sa...umur kamu itu sudah waktu untuk menikah..."
"Kesiapan untuk menikah itu bukan tentang umur paman...tapi kemantapan hati dan fikiran...."
"Susah kalau ngomong sama kamu Sa..."
"Safa masih ingin membahagiakan ibu.."
"Sayang...jika melihat kamu menikah..itu adalah kebahagiaan ibu terbesar Sa..."ibu Safa tiba-tiba datang dari belakang.
"Kalau kamu sudah ada calon...bisa kamu perkenalkan pada kami Sa..."
"Calon Safa itu...masih menata kehidupan..kehidupan pribadi,pekerjaan dan hatinya..."
"Memangnya sudah ada Sa..."tanya sepupu Safa yang lain..
"Ya...kirain.."sepupu Safa melihat Safa dengan mata jengah...
"Jadi semua itu khayalan kamu saja.." Bibir Safa menyeringai..
Semua keluarga telah bubar,hanya tinggal tante Safa yang selama ini merawat ibu Safa..
"Tante..sebenarnya bagaimana keadaan ibu.."
Tante Safa melihat kesana kemari..seperti takut ada orang yang tau..
"Sa...sakit ibu kamu semakin parah...kata dokter..diperkirakan usia ibu kamu tidak lebih dari dua tahun,tapi itu hanya perkiraan dokter.Dokter juga mengatakan kalau sehat tidaknya pasien itu tergantung pasien itu sendiri.Jika pasien terus bersemangat untuk sembuh maka penyakit apapun bisa sembuh...tapi ibu kamu justru sebaliknya.."
Dengan apa yang dikatakan tante Safa,membuat Safa menangis sedih.
"Maafin Safa bu...Safa masih belum bisa membahagiakan ibu.Safa masih belum mampu membawa ibu berobat dengan baik..."Hati Safa menjerit sedih.
__ADS_1
***
Keesokan harinya,Safa menghampiri ibunya yang sedang duduk diteras rumah.
"Buk..."sapa Safa.
"Sa...ada apa sayang.."
Safa duduk disamping ibunya.
"Bagaimana keadaan ibu.."
"Ibu baik-baik saja sayang,memangnya ada apa..."
"ibu..ibu jangan bohong sama Safa....ibu tidak mau dirawat dirumah sakit kan..."ujar Safa sedih..
Ibu Safa mengusap rambut Safa..
"Sa...ibu sudah tua...ibu tidak ingin menyusahkan kamu..kamu anak ibu satu-satunya..ibu tidak ingin menjadi beban buat kamu.."
"Bu...ibu itu bukan beban buat Safa,justru Safa ingin ibu itu bahagia,ibu itu sehat.apapun akan Safa lakukan agar ibu bisa sehat dan bahagia lagi..."
"Satu-satunya yang kebahagiaan ibu itu..melihatmu menikah Sa..."
"Bu...Safa belum memikirkan soal pernikahan dulu..Safa masih ingin fokus dengan kesembuhan ibu.."
"Terus kapan kamu itu akan memikirkan soal pasangan,..ibu sudah semakin tua...jika ibu meninggal nanti siapa yang akan menjagamu.."
"Bu...ibu jangan bilang seperti itu.."
"Ibu ini hanya tinggal menunggu saat dipanggil Sa..ibu hanya ingin melihatmu menikah sebelum ibu meninggal..."
"Buk.."Safa meringkuk dipangkuan ibunya dengan airmata yang yang terus mengalir sedari tadi.
"Bu...jangan bicara seperti itu..Safa cuma punya ibu...apapun akan Safa lakukan agar bisa membawa ibu berobat...Apapun itu bu...Safa janji.."
"Ya...tapi jangan sampai kamu bekerja yang tidak baik...ibu nggak mau..kamu bekerja yang tidak halal..."
__ADS_1
"Mudah-mudahan tidak sampai bu.."