
"Andi...kamu naik mobil yang lain...aku sedang ada urusan dan aku akan menyetir mobil sendiri...kamu tidak perlu ikut"ujar Devon pada asistennya.
"Anda mau kemana presdir.."
"Sudah kamu tak perlu tau..yang terpenting cepat urus berkas yang tadi dibicarakan saat meeting..."
"Baik presdir...anda jaga diri baik-baik dan berhati-hatilah..."
Devon mengangguk.
Devon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Entah mengapa bayangan soal masa lalu itu tidak bisa hilang dari ingatanku..."Devon berbicara sendiri.
"Kurang ajar kamu Zia...kau membuat hidupku sangat menderita selama ini....sudah hampir dua tahun aku mencoba melupakan penghianatanmu...tapi ingatan itu tidak bisa hilang...Sial..."Devon beberapa kali memukul kemudinya..
Mobil Devon berhenti didepan bar yang cukup mewah.Seorang juru parkir membukakan pintu untuk Devon.Devon duduk di kursi bar.
Devon memesan minuman pada bartender pria.Tak lama minuman disiapkan.Devon menyesapi setiap tetes minuman yang masuk kedalam tenggorokannya.Seorang wanita malam menghampiri Devon.
"Hai...mau aku temani minum..."ujar wanita seksi itu.
Devon melihat wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.Devon tersenyum sinis.
"Kau bukan seleraku..."ujar Devon.
"Disini tidak ada ukuran selera atau tidak...asal kita cocok ya kita bisa bergabung..."
Devon masih menyesapi minumannya tanpa menghiraukan wanita disampingnya.
"Kau kesini..apa karena penghianatan cinta...."ujar wanita itu.
Devon melihat sekilas wanita itu.
"Jika benar...kenapa kamu tidak membalasnya..."
Devon berfikir sejenak..
"Caranya..."ujar Devon.
"Kau balas dengan menghianatinya juga...kau carilah wanita yang lebih baik darinya.."
Devon memikirkan ucapan wanita malam itu.Melihat Devon sedang memikirkan sesuatu,wanita itu tersenyum.
"Jika kau mau..aku akan dengan senang hati membantumu..."
Devon melihat wanita itu.
"Tidak mungkin aku denganmu.Dia sama sepertimu...aku ingin cari yang lebih dari ini..."Devon menunjuk wanita itu dari atas sampai bawah..
Wanita itu terlihat tidak senang saat direndahkan oleh Devon.
Devon turun dari kursinya dan ingin pergi dari bar.Saat Devon berjalan tanpa sengaja menabrak seorang pelayan bar,Seketika nampan yang dibawa si pelayan yang berisi beberapa gelas kosong jatuh berserakan dan pecah.
"Maaf...maaf..."ucap Devon.
"Huufftt....ya ampun..kalau mau mabuk jangan pergi sendiri dong..."ujar si pelayan sambil membersihkan pecahan gelas.
"Eh...siapa yang mabuk...kamu saja yang tidak fokus..."ujar Devon.
__ADS_1
"Hei...anda itu sudah tau salah...malah menyalahkan orang lain..."Pelayan berdiri sambil marah-marah pada Devon.
Devon mengernyitkan dahinya.
"Kamu....kamu wanita yang dulu pernah membantuku saat ada di club Qing bar....kamu sekarang bekerja disini.."
"Maaf...saya tidak mengenal anda..."pelayan tersebut melanjutkan pekerjaannya.
Devon masih mencoba mengingat nama pelayan itu.
"SAFA...."teriak Devon pada pelayan tadi.seketika pelayan itu menoleh..dan kembali ke depan Devon...
"Bagaimana kamu tahu namaku..."
"Dulu kamu memberi tahu namamu...dan aku masih mengingatnya..."
"Hhmmm...rupanya kamu mempunyai ingatan yang sangat bagus ya..tapi sayang saya tidak mengingat anda..."Safa kembali ke meja bartender.
Devon mengejar Safa.
"Hei..aku Devon..masa kamu lupa.."
"Maaf tuan...saya lupa..."Safa terus melanjutkan pekerjaannya sambil mengelap meja.
"Kamu dulu pernah mendengarkan curhatanku..."
"Yang curhat tentang masalah hidupnya bukan cuma anda saja tuan....banyak orang yang cerita pada saya...saat mereka mabuk..."
"Tapi dulu kamu pernah.._"
"Sudahlah tuan...saya sibuk jangan ganggu saya..."
"Hei.."sapa Devon pada Safa.
"Kamu masih disini..."
"Aku menunggu kamu..."
"Menungguku.."
"Ya..."
"Ada apa kau menungguku...
Jangan macam-macam..aku bukan wanita murahan..."Safa menyilangkan tangannya didadanya.
"Bodoh...siapa juga yang tertarik dengan tubuh kurusmu..."Devon mengejek Safa.
"Lalu untuk apa kau menungguku...apa aku punya hutang padamu..."kata Safa,dia berbicara sambil berjalan meninggalkan Devon.
Devon mengejar Safa.
"Hei..kamu mau kemana..."
"Pulanglah...kenapa...mau ikut....jangan harap ya..."ujar Safa terus berjalan.
"Mau aku antar...jam segini gak ada taksi maupun ojek.."
"Aku sudah tau.."Safa masih cuek.
__ADS_1
"Terus kamu pulang pakai apa..."
"Pakai kaki...memangnya kamu melihatku jalan pakai tangan..."
"Kamu cuek sekali..."
"Biarin...emang aku fikirin..."
"Beneran aku ingin mengantarmu..."
"Aku tidak mau tuan..."
Devon mulai sedikit kesal menghadapi Safa.Safa terus menolak tawaran Devon untuk mengantarnya pulang,sampai akhirnya Devon menyerah.
Tapi Devon tidak kehabisan akal.Devon membuntuti Safa dari belakang.Rupanya Safa membawa sepeda untuk pulang.Devon mengikuti dari kejauhan dengan mobilnya.
Devon mengambil ponselnya dan menekan beberapa nomor di ponselnya.
"Kamu cepat cari tau soal wanita bernama Safa...dia bekerja diclub malam..."
Devon menutup telfonnya..setelah mendapat persetujuan dari si penerima telfon.
"Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk membalasmu Zia..."ujar Devon.
Safa menghentikan sepeda disebuah kost-kostan yang lumayan sederhana.Devon melihat sekitar dari dalam mobilnya.
"Rupanya dia tinggal disini.."
Terlihat seorang wanita sedang menunggu Safa dipintu kost-kostannya.Terlihat mereka sedang berdebat,Safa terlihat seperti memohon.
Tak lama..wanita paruhbaya itu meninggalkan Safa dengan wajah kesal dan terlihat sedang menggerutu.
Devon turun dari mobil dan menghampiri wanita tadi.
"Permisi....saya tadi melihat anda sedang berdebat dengan salah satu anak kost yang disana.."Devon menunjuk rumah kost Safa.
"Oh..si Safa...ya memangnya ada apa ya mas...apa dia membuat masalah dengan anda..."
"Tidak..dia tidak membuat masalah dengan saya....cuma saya ingin tau...tempat tinggal dia yang sebenarnya..."
"Oh...dia itu dari desa mas...kalau alamat lengkapnya saya kurang faham..."
"Seperti itu....kalau boleh tau...tadi kenapa..ibu marah-marah pada Safa..."
"Dia itu sudah nunggak bayar kost-kostan selama tiga bulan...alasannya tidak punya uang...terus dia tiap hari bekerja...uangnya untuk apa..."ujar ibu kost dengan nada kesal.
Devon tersenyum licik...
"Ya sudah buk kalau begitu...saya pamit dulu...terima kasih atas informasinya..."
Devon pergi dari kosan Safa.
Devon kembali kemobilnya dan menelfon asistennya.
"Bagaimana tugas yang kuberikan padamu..."
"Masih belum lengkap presdir...mungkin besok..semua data tentang Safa...akan aku serahkan pada anda dikantor..."
"Baiklah kalau begitu...".
__ADS_1