
Sesampainya dirumah sakit,ibu Safa langsung mendapat penanganan dari dokter.
Setelah diperiksa oleh dokter,mereka mengatakan kalau kondisi ibu Safa kritis.
Safa menangis sejadi-jadinya...mama Devon menghampiri Safa dan memeluk Safa.
"Sudah sayang..kamu tenang dulu ya..."
Devon menghampiri tante Safa yang ikut mengantar ke rumah sakit..
"Tante...sejak kapan ibu Safa sakit.."
"Sebenarnya kakakku penyakitnya sudah lama dan belakang ini memang kondisinya menurun..tante sudah berkali-kali mengajaknya untuk kerumah sakit tapi kakakku selalu menolak.Dia selalu berkata kalau dia bertahan hanya untuk melihat Safa menikah...selalu itu yang dia katakan..."
"Maaf ya tante kalau saya lancang...Selama ini siapa yang membiayai pengobatan ibu Safa.."
"Ya Safa..tapi beberapa minggu yang lalu..sempat telat untuk kontrol kedokter, katanya..Safa habis dipecat dari pekerjaannya dan itu membuat kondisi kakakku sedikit memburuk karena kehabisan obat saat itu tapi beberapa waktu lalu Safa mengirimkan uang dan itu cukup untuk kakakku beberapa kali kontrol..."
Devon terdiam sejenak,dia berfikir saat dia membuat Safa kehilangan pekerjaan dan membuat Safa diusir dari kost-kostsannya.
"Eh iya...tante belum tahu tentang kamu.."ujar tante Safa.
"Saya Devon dan mereka kedua orang tua saya.."
Tante Safa hanya mengangguk..
"Dan sebenarnya kami kesini..ingin melamar Safa secara resmi.."
Tante Safa terkejut dengan ucapan Devon..
"Melamar...ohh jadi kamu pacarnya Safa.."
Tante Safa menghampiri Safa..
"Sa...mereka calon mertua kamu..."
"Bibik....apa maksud bibik..."
"Katanya nak Devon...nak Devon ingin melamarmu..."
Safa melihat Devon..
"Bik..bisa tidak...tidak membicarakan hal itu disini..."
"Kenapa...asal kamu tahu ya Sa...ibu kamu pasti bahagia mendengar kabar ini..apalagi ini yang ditunggu-tunggu oleh ibu kamu..."
"Tapi bik.."
Safa tidak melanjutkan ucapannya.Karena keburu ada perawat yang keluar dari ruangan ibu Safa dan memberi kabar kalau ibu Safa sudah sadar.
Semua orang masuk kedalam ruangan kecuali papa Devon,dia mengurus administrasi ibu Safa karena diminta oleh Devon.
"Bu...bagaimana keadaan ibu sekarang.."ujar Safa..
"Ibu baik-baik saja kok sayang.."
Ibu Safa melihat Devon dan mamanya..
"Mereka siapa.."
Tante Safa mendekati kakaknya..
"Kak..ini nak Devon dan mamanya..mereka datang ingin melamar Safa.."
__ADS_1
"Benarkah.."wajah ibu Safa terlihat sangat bahagia.
"Maaf ya...kalian datang tapi keadaan saya seperti ini.."
"Tidak apa-apa buk...sekarang ibu istirahat..ibu tidak perlu khawatir ya.."
ujar mama Devon.ibu Safa hanya mengangguk pelan.
Dalam hati ibu Safa,dia sangat bersemangat untuk pulih tapi sayangnya,penyakit yang dideritanya sekarang sudah memasuki stadium akhir.
Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit,akhirnya ibu Safa sudah bisa keluar dari rumah sakit.
Dan Devon menjemputnya dirumah sakit,sedangkan kedua orang tua Devon sedang menunggu dirumah Safa untuk menyambut ibu Safa.
Beberapa saat kemudian mobil Devon sampai dirumah Safa.Semua terlihat senang dengan kedatangan ibu Safa.
Didalam sudah menunggu tante Safa dan kedua orang tua Devon.
"Hhmmm...rasanya sudah lama sekali tidak pulang kerumah.."ujar ibu Safa sambil menghirup udara segar.
"Ayo bu masuk...hati-hati ya buk.."
"Eh..ada mamanya nak Devon.."
"Ya bu..bagaimana keadaannya sekarang.."
"Sudah jauh lebih baik.."
"Syukurlah kalau begitu.."
"Silahkan duduk"perintah ibu Safa pada tamunya.
Mereka berbincang-bincang sebentar..
Ibu Safa terlihat sangat bahagia tapi lain halnya dengan Safa.Dia malah terlihat sedih karena harus mengatakan yang sejujurnya kepada semua orang sekarang sebelum semuanya terlanjur.
"Buk.."ujar Safa..
Devon melihat Safa,Devon mengerti apa yang ingin dikatakan Safa.
"Sa..ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.."ujar Devon sambil memegang tangan Safa.
"Ada apa sih..tunggu sebentar..aku.."
"Ayo ikut aku sebentar.."
Devon terpaksa menarik tangan Safa untuk keluar dari rumah.Mama Devon dan ibu Safa yang melihat tingkah keduanya terlihat bingung.
Safa terpaksa mengikuti Devon..
Sesampainya dihalaman depan,Safa mengibaskan tangan Devon.
"Kenapa kau menarikku kesini.."
"Apa yang ingin kamu katakan pada semua orang Sa.."ujar Devon.
"Aku akan mengatakan semuanya Dev..semuanya tentang pertemuan kita dan perjanjian kita.."
"Apa kamu tidak memikirkan keadaan ibu kamu...bagaimana reaksi ibu kamu saat mengetahui kamu dibayar hanya untuk menjadi pacar pura-pura...bagaimana perasaan ibu kamu..coba kamu fikirkan..dia pasti kecewa Sa"
"Lebih baik ibuku kecewa sekarang daripada nanti.."
"Apa kau ingin ibumu cepat menyusul ayahmu.."
__ADS_1
Plaaaak....
Sebuah tamparan melayang dipipi Devon..
"Jangan bicara sembarangan Devon.."Safa terlihat marah dengan ucapan Devon.
Devon memegang pipinya yang sedikit nyeri.
"Dengarkan aku Sa..kemarin aku menemui dokter diruangannya dan dia mengatakan kalau penyakit kanker yang menggerogoti tubuh ibu kamu itu sudah masuk ketahap stadium akhir dan apa kau tahu apa maksud dari stadium akhir...itu artinya ibu kamu sudah tidak bisa diselamatkan kecuali ada mukjizat yang bisa menyembuhkannya....."ujar Devon dengan menahan marah dihatinya dan mencoba bersikap tenang.
Safa menutup mulutnya dan meneteskan airmata.
"Dan dokter juga menyarankan agar kondisi ibu kamu harus tetap stabil selama pengobatan...jika kamu mengatakan semuanya...itu hanya akan menambah beban fikirannya...dan itu sangat tidak baik untuk kondisinya.."
"Apa benar yang kamu katakan Dev.."
Devon mengangguk..
"Dan keinginan terbesar ibu kamu adalah melihat kamu bahagia..kamu tahu apa yang bisa membuat ibumu bahagia..."
"Aku tahu apa yang bisa membuat ibuku bahagia...dia hanya ingin melihatku menikah...tapi aku akan menikah dengan siapa..."
Safa melihat Devon..
Dari tatapan mata Devon, Safa sudah mengerti kalau Devon yang bisa membantunya saat ini..
"Apakah kita harus menikah Dev..."Safa memberanikan diri untuk mengeluarkan kata-kata itu.
Devon hanya terdiam..
"Kita akan menikah tanpa cinta Dev...lalu bagaimana kita akan menjalaninya.."
"Bagaimana kalau kita bersahabat saja...kita menikah tapi dengan tujuan membantu sahabat.."
"Bersahabat.."ujar Safa bingung.
"Ya..didalam hati kita sebagai sahabat sedangkan diluar kita sepasang suami istri...bagaimana.."
"Setahuku Dev..antara seorang laki-laki dan perempuan apa lagi sudah ada ikatan pernikahan itu tidak bisa hanya dengan persahabatan....dan aku tidak ingin ada diantara cinta kamu dan Zia.."
"Untuk saat ini jangan memikirkan urusan Zia dulu...yang terpenting bagaimana membuat keadaan ibu kamu bisa lebih baik..."
"Terima kasih ya Dev..kamu sudah memikirkan keadaan ibuku..."
"Ya...sekarang kita masuk dan bergabung dengan mereka lagi.."ajak Devon.
"Devon.."Safa memanggil Devon..Devon berbalik...dan tiba-tiba Safa memeluk Devon dengan erat..
Devon terkejut dengan reaksi tiba-tiba Safa..
"Aku benar-benar terima kasih padamu Dev.."
Jantung Devon berdetak dengan begitu cepat sampai-sampai Safa bisa merasakannya dalam pelukannya..
"Dev...kenapa jantungmu berdetak begitu kencang..apa kamu tidak apa-apa.."ujar Safa sambil mendongakkan wajahnya didepan Devon.
Saat Devon melihat wajah Safa yang begitu dekat,detak jantung Devon semakin cepat.
"Dev...kenapa wajahmu begitu tegang..."
Devon melepas pelukan Safa..
"Itu..itu karena aku terkejut kamu tiba-tiba memelukku..."
__ADS_1
"Oh gitu....maaf ya.."