
Di lain tempat..
"Sekali lagi saya minta maaf ya nona.."
"Ya gak apa-apa..."
Sekretaris Devon terus mengikuti Zia keruang ganti.
Saat diruang ganti,sekretaris Devon langsung mengambil hairdryer untuk mengeringkan dress Zia yang terkena tumpahan air.
"Apakah anda ingin mengganti baju dengan yang lain nona..."
"Tidak perlu..."
"Jika anda ingin berganti dress,biar saya pilihkan untuk anda yang berada disana.."sekretaris Devon menunjuk beberapa gaun yang tergantung dipojok ruangan.
"Tidak usah.."
"Kamu karyawan Devon ya.."
"Devon..."Sekretaris Devon heran..karena Zia langsung menyebut nama Devon..
"Maksudku presdir Devon..."
"Saya sekretarisnya presdir.. nona..."
Zia mengangkat alisnya..
"Sekretaris ya...hhmmm saya boleh bertanya-tanya tidak.."
"Ya...silahkan nona.."
"Mm....kamu sudah lama kerja sama presdir kamu..."ujar Zia..
"Sejak perusahaan Presdir Devon berdiri saya sudah menjadi sekretarisnya..."
"Kamu kesininya satu mobil dengan Devon..."
"Ya nona..."
"Kalau kamu sudah lama kerja dengan Devon...kamu pasti tau kehidupan Devon.."
"Kalau untuk pekerjaan saya mengetahui semua nona....tapi kalau untuk urusan diluar pekerjaan saya tidak mengetahuinya.."
"Apakah kamu pernah melihat bos kamu membawa seorang wanita kekantor...pacar atau istri mungkin.."
Sekretaris Devon sedikit membuka mata..
"Selama saya bekerja dengan presdir,saya tidak pernah melihat presdir membawa seorang wanita...kecuali klien kami nona..."
Zia sedikit tersenyum.
***
Safa menawarkan minuman pada Andi..
"Silahkan tuan.."
Andi mengambil satu gelas minuman.
Devon yang mendengar suara Safa,langsung berbalik mencari yang punya suara.
"Ada apa presdir.."Andi bertanya pada Devon yang sedang melihat dirinya..
"Tadi sepertinya ada seseorang yang menawarkan minuman padamu..."
__ADS_1
"Iya presdir.."
"Dimana orangnya.."
"Hhmm..sepertinya dia disana.."Andi menunjuk dengan gelasnya kearah Safa.
Devon melihat Safa..lalu mengangkat Alisnya.
Devon terus memperhatikan Safa,kemana pun Safa berjalan,kesitulah mata Devon melihat.
Andi yang melihat Devon terus memperhatikan Safa merasa aneh,tidak biasanya seorang Devon memperhatikan seorang wanita sampai segitunya.
"Maaf presdir...saya perhatikan..dari tadi anda melihat ke pelayan wanita itu terus..."
"Sejak kapan kau mengurus urusan pribadiku."
"Bukan begitu presdir...takutnya..wanita itu membuat masalah dengan anda.."
"Tidak...dia masih belum menjadi masalah buatku..."
"Maksud anda.."
"Sudah kamu diam saja..."
Andi mengangguk mengerti.
Devon melihat Zia yang masuk kembali kedalam pesta.Devon sesekali melihat Zia.
Sedangkan Zia terus saja memperhatikan Devon.
Devon berjalan dan berhenti di bar kecil yang ada didalam pesta.
"Andi cepat kesini..."Devon yang sedang duduk di bar yang tersedia di ruang pesta,memanggil Andi dan seperti menuliskan sesuatu.
"Ya presdir..anda memanggil saya.."
Devon memberikan secarik kertas.
"Vila siapa presdir.."
"Itu milikku.."
Andi sedikit membuka mata dan hanya melihat alamat vila Devon.
Seseorang menyapa Devon dan Andi segera memasukkan kertas tadi kedalam saku celana,tapi sayangnya kertas itu terjatuh kelantai tanpa disadari Andi.
Devon masih berbincang-bincang dengan seseorang tadi sambil mencari keberadaan Safa.Rupanya Safa berada didekat Devon.Devon tersenyum sedikit lalu mengangkat tangannya kepada Safa pertanda meminta minuman yang ada dinampan Safa.Safa segera menghampiri Devon.Devon mengambil segelas minuman.
"Eh..kamu...ada disini juga..."ujar Safa sambil melihat ke sekeliling.
"Ehhm...Kamu juga bekerja disini.."
"Iya...buat nambahin uang jajan.."
Andi berbisik pada Devon.
"Aku permisi dulu.."ujar Safa yang tidak ingin mengganggu Devon dan asistennya.
Devon hanya mengangguk.
Safa terus berkeliling menawarkan minuman pada para tamu undangan.Tanpa sengaja Safa menemukan kertas milik Andi yang terjatuh tadi.Safa melihat sekilas isi dari kertas itu.
"Ini seperti nama alamat...apa mungkin milik salah satu para tamu disini..."Safa melihat kesana kemari siapa tahu ada orang yang sedang mencari kertas itu.
Tapi Safa melihat semua para tamu sedang santai dan berbincang-bincang.
__ADS_1
"Sepertinya...tidak ada yang merasa kehilangan...atau aku simpan saja kertas ini...siapa tahu nanti ada yang mencarinya..."Safa berbicara sendiri.
Safa melanjutkan tugasnya.
Waktu berlalu,pesta pun berakhir.Semua pelayan membersihkan ruang pesta.
"Kalian bersihkan semuanya,setelah selesai baru kalian bisa pulang.."ujar kepala cleaning servis kepada para pelayan.
Setelah selesai semua,para pelayan langsung pulang termasuk Safa.
"Hei..."Devon menunggu Safa.
"Kamu...sedang apa kamu disini.."
"Sedang mencari udara segar...dipesta tadi lumayan pengap..."
"Kamu kan hanya tinggal berdiri sambil menikmati minuman....iya kalau aku...harus berjalan kesana kemari.."ujar Safa.
Devon tersenyum.
"Kamu mau menemaniku.."
"Kemana..."
"Temani aku mengobrol saja..."
"Memangnya kamu tidak punya teman untuk menemanimu mengobrol sampai kamu harus mengajak pelayan sepertiku.. .."
Devon menggelengkan kepala..
"Kasihaaaann...."Safa mengejek.
"Kamu mau gak jadi temanku..."
"Boleehh...."
"Terima kasih ya.."
"Ya sama-sama..."
Safa tersenyum.
Devon mengajak Safa untuk mengobrol sambil menikmati makanan di pinggir jalan.
"Kamu ini orang kaya...tapi kenapa mampir di tempat seperti ini...(warung sate dipinggir jalan)"
"Kenapa...kamu tidak suka aku ajak makan ditempat seperti ini..."
"Enggak..bukan begitu...biasanya kan kalau orang kaya..tempat makannya itu ditempat yang mewah dan juga higienis..."
"Aku bisa saja pergi ketempat paling mewah paling mahal dikota ini..tapi seseorang mengajariku jika kita bisa makan ditempat sederhana seperti ini..kenapa enggak..."
"Memangnya kamu tidak malu...atau takutnya nanti teman atau klien kamu melihatmu makan ditempat seperti ini.."
"Untuk apa aku malu...aku tidak mempunyai teman, kalau klienku yang melihatku...dia kan hanya klien...hubungannya denganku hanya sebatas pekerjaan...tidak bisa mengurusiku tentang pribadiku...ya kan.."
Safa mengangguk sambil menikmati sate ditangannya.
"Sa...memangnya kamu tidak lelah...setiap hari kamu harus bekerja part time.."
"Lelah sudah pasti ada...tapi hidup dikota seperti ini...apalagi orang biasa sepertiku,kalau tidak banting tulang...tidak bisa makan..."
"Tempat tinggal kamu sebenarnya dimana.."
"Aku berasal dari Bandung...pergi keJakarta mencoba keberuntungan disini..tapi ya kamu tau sendiri sekarang..."ujar Safa sambil mengaduk minumannya.
__ADS_1
Devon hanya melihat Safa dengan kagum.