
Selesai bertemu dengan keluarga Devon,Safa kembali kerumah Devon bersama Devon..
"Sekarang bagaimana.."Saf bertanya pada Devon setelah mereka berada di gazebo depan rumah Devon.
"Aku tidak tahu..."ujar Devon yang sedang duduk dipinggiran pagar gazebo.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan tidak tahu...ini semua rencanamu kan.."
"Aku tidak merencanakan tentang bertemu keluarga.."ujar Devon cuek.
Safa membuang muka dan membalikkan badan melihat pemandangan yang ada disekitar rumah Devon.
"Kalau kamu tidak datang kemari dan mengaku sebagai calon istriku ini semua tidak akan terjadi.."
"Apa maksud kamu.."Safa berbalik melihat Devon.
"Kamu menyalahkanku..."
"Lalu...kalau kamu tidak bicara pada bu Ayu...orang tuaku tidak akan tahu...tapi aku berfikir bagaimana kamu bisa tahu tentang rumahku ini...kau mengikutiku..."
"Aku tidak sengaja menemukan rumah kosong ini...dan aku berniat menempatinya untuk beberapa saat...lepas itu aku akan pergi.."
Devon mengernyitkan dahinya.Dia berfikir bagaimana mungkin ini kebetulan.Dia sedang mencari Safa dan Safa kebetulan juga berada dirumahnya.
"Hhmm...dari pada memikirkan tentang bagaimana aku sampai berada disini...sekarang lebih baik memikirkan bagaimana mengakhiri sandiwara ini.."Safa mengalihkan pembicaraan.
"Apa maksud kamu ingin mengakhiri semua ini...tujuanku belum dimulai dan kau ingin segera mengakhiri.."
"Apa tujuanmu sebenarnya..."
"Aku kau membantuku menjauhkan Zia dariku..."
"Kalau kau hanya ingin dia menjauhimu tinggal kau katakan lalu kau menjauh..."
" Tidak semudah itu membuat Zia menjauhiku...apalagi sekarang aku ada proyek bersamanya...jadi akan sering bertemu dengannya.."
"Hhmm..sekarang tugasku apa.."
"Kau bantu aku untuk menyelesaikan rumah ini..."
Safa melihat sekeliling rumahnya..
"Bukankah ini semua sudah selesai..."
"Belum...aku ingin mengganti desain dan Dekorasi rumah ini..."
"Kenapa diganti.."
"Aku membuatnya atas dasar rumah impian Zia..dan sekarang aku ingin mengubahnya dengan keinginanku sendiri.."
"Aku boleh beri pendapat tentang rumahmu nanti..."
"Kalau itu bagus dan aku suka...kenapa enggak.."
***
Dikantor..
"Maaf tuan Andi...kalau boleh tau kenapa hari ini Dev..maksud saya presdir Dev tidak mengikuti rapat ini...bukankah rapat kali ini penting..."
"Ya nona Zia..atas nama presdir Dev saya minta maaf.Presdir tidak bisa hadir karena sedang berada diluar kota,.."
"Berada di luar kota...dimana..."
"Pastinya saya tidak tahu...tapi kata presdir,dia akan mengunjungi orang tuanya..."
"Oohh..begitu...ya sudah kalau begitu terima kasih informasinya.."
"Sama-sama nona.."
__ADS_1
Zia keluar dari ruang rapat dengan senyum dibibirnya.
***
"Devon....kapan kau akan kembali ke Jakarta.."ujar Safa sambil memasak makanan untuk dirinya dan juga Devon.
"Kenapa kau bertanya seperti itu...apa kau ingin tinggal disini lebih lama..."Devon menghampiri Safa dan duduk dipantri dapur.
"Bukan seperti itu maksudku..."
"Kalau aku kembali ke Jakarta..kau juga harus kembali bersamaku.."
"Apa maksudmu...aku di Jakarta sudah tidak punya pekerjaan dan juga tempat tinggal...mungkin aku akan mencari kontrakan disekitar sini...sepertinya lebih murah..."
"Apa kau ingin terus diganggu oleh keluargaku..."
"Tidak apa-apa...aku senang saat bersama mereka..apa lagi ada si ganteng mas Reza..."ujar Safa sambil tersenyum.
pletak..
Devon menjitak dahi Safa..
"Awww...sakit Devon.."
"Gak usah genit..ingat statusmu apa sekarang...pacar seorang presdir Devon..."Ucap Devon dengan bangga.
"Pacar pura-pura..."tegas Safa.
"Biarpun hanya pacar pura-pura..tapi dimata orang lain kamu tetap pacar asliku..."
"Ya..ya presdir Devon yang sombong..."Safa memutar matanya jengah.
Saat Devon dan Safa sedang menikmati makanan,terdengar suara pintu diketuk dari luar..
Tok..tok..tok..
Safa dan Devon melihat kearah pintu secara bersamaan.
Safa berjalan membuka pintu..
"Siapa.."Safa membuka pintu dan melihat seorang wanita yang sedang memunggunginya.
"Maaf anda siapa..."tanya Safa sekali lagi..
Wanita itu berbalik badan..
Safa sedikit mengangkat alisnya..
"Bukankah dia wanita yang ada difoto itu...apa mungkin Dia Zia..."Safa membatin.
"Ya nona..sedang mencari siapa.."
"Kamu siapa..."
"Saya Safa.."
"Siapa Fa..."Devon teriak dari dalam..
"Devon..."Zia yang mendengar suara Devon.
"Siapa..."Devon keluar untuk mengecek siapa yang datang.
Devon terlihat terkejut melihat siapa yang datang.
"Zia.."ujar Devon.
"Devon..."sapa Zia..
"Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini..."
__ADS_1
"Aku tadi kerumah orang tuamu...dan mereka memberitahuku kalau kamu sedang berada disini...jadi aku kesini.."
"Ehem..ehem.."Safa berdehem..
"Zia...ini Safa...Safa ini Zia...mantan kekasihku.."Devon memperkenalkan keduanya.
Safa dan Zia saling berjabat tangan dan say helo.
"Mari masuk kak..."ujar Safa.Zia dan Devon terkejut saat Safa memanggil Zia dengan sebutan kak.
Devon sedikit mengangkat sudut bibirnya.
"Nona Safa...panggil saja aku Zia..."
"Tidak bisa kak...kakak kan lebih tua dari saya...jadi saya harus memanggil kakak pada kak Zia...kalau kak Zia manggil saya nona,saya tidak apa-apa...saya kan masih kecil seperti nona-nona kecil..."Safa berceloteh..
Devon yang mendengar ucapan Safa seperti ingin tertawa lepas,Devon hanya
menyilangkan satu tangannya didadanya dan tangan yang lain menutupi mulutnya agar tidak tertawa.
"Ayo kak masuk..."Safa menarik tangan Zia.
"Silahkan duduk..biar Safa ambilkan minum dulu....
Dev...kamu temani kak Zia dulu ya..aku mau bikin minnum...atau sekalian aku bikinin buat kamu..."
"Ya..buat satu untukku..ya sayang.."ujar Devon didepan Zia.
Safa yang mendengar kata 'sayang' dari mulut Devon merasa geli.
"Sayang...maksud kamu.."
"Dia calon istriku..."
"Calon istri..."
"Ya..."
"Ada apa kamu datang kemari..."tanya Devon.
"Mmm..aku...aku ingin menjenguk tante Aida dan om Ridho.Sudah lama aku tidak bertemu mereka.."
"Bagaimana keadaanmu..."tanya Zia
"Seperti yang terlihat..aku baik-baik saja..."
"Apa dia benar-benar calon istrimu.."Zia melihat Safa yang sedang berada didapur.
Devon menoleh kedapur..
"Memangnya kenapa.."
"Dia sepertinya masih kecil Dev.."
"Meskipun dia lebih muda darimu..tapi cara berfikirnya lebih dewasa.."
"Apa maksud kamu.."
"Tidak ada maksud apa-apa.."
Safa datang dengan membawa minuman.Safa meletakkan satu gelas didepan Zia dan satu lagi didepan Devon.
Devon menepuk sofa disampingnya dengan jari,menyuruh Safa untuk duduk disampingnya,tapi Safa sedikit menggelengkan kepala.Devon sedikit membuka matanya dan Safa langsung mengerti.
Safa duduk didekat Devon,tapi tiba-tiba Devon menarik tangan Safa,agar duduk disampingnya dan itu membuat Safa kehilangan keseimbangan dan membuat tubuhnya terhuyung kepangkuan Devon.
Devon menatap mata Safa,tapi Safa berusaha untuk berdiri dari pangkuan Devon.
"Maaf..maaf.."ujar Safa sambil berdiri.
__ADS_1
"Aku pergi sebentar...kalian lanjutkan saja mengobrolnya.."