
Zia mendatangi rumah Safa keesokan harinya dan Devon sedang berada disana memperbaiki beberapa sisi rumahnya.
"Devon.."Sapa Zia saat melihat Devon.
Devon melihat kesumber suara..
"Zia..ada apa datang kesini.."Devon menghampiri Zia sambil mengelap tangannya yang kotor.
"Tidak ada..aku hanya ingin menemui Safa....Safanya ada.."tanya Zia.
"Ada..mungkin dia sedang didapur...
Silahkan masuk.."Devon mempersilahkan Zia masuk,Zia pun mengikuti Devon.
"Silahkan duduk..biar aku cari Safa dulu.."
Devon mencari Safa didapur tapi tidak ada.
"Kemana tu anak sih....didapur gak ada..dikamar juga gak ada.."
Devon kembali menemui Zia yang sedang duduk di ruang tamu,Devon membawakan air minum untuk Zia.
"Safanya tidak ada..."
"Hhhmm...kemana dia.."
"Tidak tahu.."
"Memangnya..kalau dia pergi kemana-mana tidak bilang sama kamu..."
Devon hanya mencibirkan bibirnya.
"Kabar kamu sama pacar kamu gimana.."
Zia mengangkat alisnya,sedikit terkejut dengan pertanyaan Devon.
"Pacar...pacar yang mana..aku sudah tidak punya pacar Devon..."
"Bukankah kamu pacarnya Alex.."
"Alex...aku sudah lama tidak bersamanya.."
Devon mengerutkan keningnya.
"Ada apa denganmu dan Alex.."
"Ternyata dia hanya memanfaatkan aku..untuk menjatuhkan perusahaan G grup..."
"Maksud kamu..."
"Kamu kan tau sendiri...semua rahasia perusahaan aku yang pegang...dan dia sedikit demi sedikit memancingku untuk mengatakan semua rahasia perusahaan..."
"Bukankah kamu sudah sangat intim hubungan kalian.."
__ADS_1
"Please Dev...kamu tidak perlu mengingatkanku soal itu....kamu tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu.."
Zia menitikkan air mata.
Devon menjadi iba dan tanpa ia sadari meraih tangan Zia.
"Kamu yang sabar ya..."
Air mata Zia bertambah deras..
Zia merasa bersalah dan menyesal.
Devon tidak tega melihat Zia menangis,Devon terus memegang tangan Zia dengan tambah erat.
Tanpa disadari rupanya Safa sudah datang sedari tadi dan mendengar semua cerita Zia.
"Kasihan sekali nasib Zia..."
Safa memainkan bibirnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan...."Safa datang dan mengejutkan Zia dan Devon.
"Safa..ini..ini.."
"Stop kak Zia....Dev..kamu mengatakan akan setia padaku.tapi apa yang kamu lakukan sekarang.."
Devon mengernyitkan dahinya,bingung dengan ucapan Safa..
Safa memainkan bola matanya terhadap Devon,Devon semakin tidak mengerti..
"Stop kak...aku bilang stop.."
"Devon...jelaskan padaku tentang semua ini..."
"Aku hanya.._"
Safa menghentikan ucapan Devon dengan mengangkat tangannya.
"Mungkin kamu akan menyangkal ini semua..jika kedua mataku tidak melihatnya sendiri...mungkin kamu akan memberi banyak alasan padaku..."
"Safaa.."Devon mulai geram dengan segala ucapan Safa.
"Kalian lanjutkan saja...aku akan pergi dari sini.."Safa berjalan cepat keluar dari rumah.
"Dev..apa yang kamu lakukan...cepat kejar Safa...dia salah faham tentang kita..."Zia kebingungan dan merasa tidak enak dengan Safa.
"Dia.._"
"Cepat Dev.."
"Aagghh..."Devon mengusap rambutnya dengan kasar dan segera keluar mengejar Safa.
"Awas kau gadis nakal..."Devon mengejar Safa dengan perasaan geram dan kesal.
__ADS_1
Devon keluar dari gerbang rumah dan mencari-cari keberadaan Safa.ternyata Safa sedang mengobrol dengan tetangga sebelah..
"Safaaaaa...."Devon berteriak memanggil Safa dan membuat yang punya nama kaget.Safa panik saat Devon berjalan kearahnya.Safa melihat wajah Devon seperti orang yang sedang marah..
"Mati aku....aku tadi marah-marah tidak jelas padanya...pasti dia akan membalasku..."Safa berbicara sendiri.
"Kenapa kamu bersikap seperti tadi.."
"Sebentar....nanti aku jelaskan...jangan marah-marah dulu..."
"Cepat kamu jelaskan...aku akan mendengarkan..."
Safa menelan salivanya,dia sedikit merasa takut kalau Devon sedang marah..
"Ayo jelaskan..."
"Hhmmm...aku tadi mendengar semua curhatan Zia padamu tentang kekasihnya.Dan menurutku tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini...ingin menyakitinya secara perlahan..."
"Apa maksudmu..."
"Aku melihat kerapuhan dimata Zia...dan aku juga merasa kalau kamu masih perduli dengannya....seperti saat kamu memegang tangannya..."
Devon memalingkan wajahnya..
"Jangan sok tahu..."
"Hei...kalau kau memang tidak peduli padanya...kau tidak akan memalingkan wajahmu seperti ini..."
Devon menunduk seperti mencerna semua ucapan Safa..
"Tanyakan pada hatimu..apakah kamu masih mencintainya atau tidak..."
"Tapi dia sudah menghianatiku..."
"Itu sudah masa lalu Dev....tidak bisakah kau mencoba untuk memaafkannya..."
Devon menggelengkan kepalanya...
"Apakah kamu masih mau membantuku..."Devon berbicara sambil menahan nafasnya.
Safa menarik nafas panjang lalu membuangnya..
"Baiklah....tapi bantuanku sekarang beda tujuan..."
"Apa maksud kamu..."
"Aku akan membantumu untuk menemukan perasaanmu yang sebenarnya..."
"Ya..sudah sekarang aku mau kamu mentraktirku es krim..."
"Dalam rangka apa..."
"Dalam rangka..karena aku sudah membantumu...Bagaimana.."
__ADS_1
Devon mengangguk..
"Let's go ice cream..."Safa begitu semangat saat akan dibelikan es krim.