KEKASIH SEMENTARAKU

KEKASIH SEMENTARAKU
Eps 27


__ADS_3

Mobil Devon sudah sampai di villa..


Devon turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Safa.


Devon dan Safa hanya diam selama dalam perjalanan pulang.


Safa hanya melihat raut wajah Devon yang sedang tidak bersahabat.


Devon berjalan lebih dulu untuk membuka pintu Villa.


Safa masih terdiam dibelakang Devon.


"Dev...kamu kenapa.."Safa mencoba untuk menanyakan keadaan Devon yang tiba-tiba terdiam.


"Tidak apa-apa..."ujar Devon sambil berjalan masuk kedalam.


"Dev..tunggu ada yang harus kita bicarakan.."Ujar Safa sambil memegang pergelangan tangan Devon.Devon menghentikan langkahnya dan melihat tangan yang sedang dipegang Safa.


Devon melepaskan pegangan Safa..


"Ada apa..."tanya Devon dingin.


"Dev..kita harus membatalkan pertemuan mama kamu dan ibuku...aku tidak ingin sandiwara ini dilanjutkan lagi..."


Devon kembali terdiam sambil menatap mata Safa..


"Apakah..kamu benar-benar tidak menyukaiku Sa..."


"Apa maksud kamu Dev..."


Devon membuang muka..


"Baiklah kalau itu maumu...saat semua keluarga berkumpul termasuk ibu kamu nanti...kamu bicaralah...sesukamu.."


Safa melihat Devon dengan ucapannya menjadi sedikit bingung dengan sikap Devon.


"Kenapa kita tidak bicara secara bersama-sama saja..."


"Ini semua kan mau kamu...jadi kamu yang harus bicara.."nada suara Devon semakin meninggi..


"Heh Dev...ingat ya...kalau bukan karena rencana bodoh kamu itu..kita tidak akan terjebak seperti ini..."


"Kenapa kamu sekarang menyalahkanku Sa..."


"Tentu saja aku menyalahkanmu...kalau bukan kesalahanmu saat masuk kedalam kamar kemarin malam..mamamu juga tidak akan melihat pemandangan yang memalukan itu..."

__ADS_1


"Oohh....jadi semua itu salahku.."


"Tentu saja.."


Safa dan Devon saling bertengkar dan saling menyalahkan satu sama lain.


"Dasar kamu wanita malam..."ujar Devon dengan nada marah..


Safa terkejut dan terdiam saat Devon mengucapkan kata-kata itu.


Devon tersadar dengan ucapannya.


Airmata Safa tiba-tiba menetes.


"Terima kasih sudah mengucapkan kata-kata itu Dev.Asalkan kamu tahu...walaupun aku bekerja ditempat hiburan malam seperti club...tapi aku bukan wanita malam Dev...terima kasih..sudah mengingatkan siapa aku sebenarnya dan terima kasih sudah memperlihatkan siapa aslinya dirimu..."ujar Safa sambil mengusap air matanya yang terus mengalir deras.


Safa berlari kekamarnya...


"Sa..Safa...bukan itu maksudku.."Devon mengejar Safa yang sedang menangis.


Safa membanting pintu kamar..


Safa mengambil tas dan mengambil baju-bajunya.Diluar kamar Devon mencoba mengetuk-ngetuk pintu kamar agar Safa mau membukakan pintunya.


"Kamu mau kamana Sa..."Devon memegang tangan Safa.


"Terima kasih untuk semuanya Dev.mulai sekarang kamu tidak perlu lagi mentransfer uang padaku...aku akan mencari tempat tinggal lain....dan untuk urusan perjanjian kita...aku akan bicara besok kepada semuanya..."


"Sa..aku minta maaf dengan semua ucapanku tadi..."


"Kamu tidak perlu minta maaf..dan mulai sekarang anggap saja kita sudah selesai semuanya...aku pamit...salam untuk semua keluargamu...jika mereka bertanya katakan kalau aku yang meninggalkanmu..."


Devon terdiam...dia merasa bersalah dengan ucapannya yang tiba-tiba begitu saja keluar dari mulutnya..


"Aku antar ya.."bujuk Devon.


"Tidak perlu...aku sudah memesan taksi.."


Safa berjalan keluar dari villa.


Sesampainya diluar gerbang..airmata Safa tidak berhenti menetes..


"Untuk apa aku menangis hanya karena ucapan Devon seperti itu...Saat dulu aku masih bekerja di club malam,banyak orang yang mengatakan seperti itu...tapi aku tidak merasa sesedih ini...tapi saat Devon yang mengatakannya kenapa hatiku terasa hancur...sampai air mata ini tidak berhenti mengalir.."


Safa duduk berjongkok sambil memeluk kedua lututnya.Devon yang mengejar Safa berhenti didepan pintu dan melihat Safa menangis didalam dekapan lututnya.

__ADS_1


"Apa yang sudah kukatakan...aku benar-benar minta maaf Sa..."ujar Devon berbicara sendiri.


Disaat Safa meringkuk sendiri,tanpa sengaja Lidya sedang melewati Villa milik Devon.Dari dalam mobil Lidya melihat Safa yang sedang mengusap air matanya.


"Safa...kenapa dia berjongkok disitu..."Lidya menepikan mobilnya..


Wajah Safa mendongak saat melihat ada mobil berhenti didepannya..


"Safa...kamu kenapa..."tanya Lidya yang khawatir.


"Lidya..."ujar Safa sambil mengusap air matanya.


Lidya melihat tas besar yang berada disamping Safa.


"Kamu mau kemana...terus kenapa kamu nangis....apa kak Devon yang membuatmu menangis..."


"Mm...tidak "ujar Safa sambil tersenyum.


"Kalau begitu..kenapa kamu menangis.."


"Aku...aku hanya merindukan ibuku...jadi aku ingin pulang.."


"Oh begitu...terus kak Devon mana...apa dia tidak mengantarmu.."


"Mm...Devon sedang sibuk...jadi aku pergi sendiri saja.."


"Sa...kamu kan calon istrinya...jadi sesibuk apapun dia...kak Devon harus punya waktu untuk kamu...


biar aku bicara sama kak Devon.."ujar Lidya ingin masuk ke villa tapi ditahan oleh Safa.


"Kenapa...apa kamu..benar-benar sedang bertengkar dengan kak Devon..."ujar Lidya.Safa hanya terdiam dan hanya air matanya yang menjawab.


"Apa yang sudah kakak lakukan padamu.."tanya Lidya.


Safa hanya menggelengkan kepala dan air matanya kembali mengalir deras.


Lidya memeluk Safa dengan hangat...


"Sudah-sudah..kalau kamu tidak mau cerita...tapi kamu jangan menangis lagi.."


"Ayo sekarang ikut aku... dari pada kamu disini sendiri..."


Safa mengikuti Lidya.Lidya sekali lagi melihat kearah villa dan dia melihat Devon yang sedang berdiri terpaku didepan pintu.


Lidya melihat Devon dengan sorotan mata tajam.

__ADS_1


__ADS_2