
Safa merasa canggung saat bersama Zia dan mama Devon.
Safa melihat ke sekeliling dan dia melihat beberapa orang sedang berkumpul dihalaman samping,mereka terlihat sedang memainkan sesuatu.
Safa berfikir untuk bergabung dengan mereka..
"Tante..Safa mau pergi kesana dulu ya..."Safa menunjuk kehalaman samping.
"Baiklah..."
"Kak Zia juga mau bergabung..."Safa mengajak Zia..
"Tidak...saya disini saja.."
"Ya sudah...Safa kesana dulu ya.."
Safa pergi kehalaman samping,setelah agak jauhan,Safa melihat Zia dan mama Devon,mereka tampak begitu akrab dan perbincangan mereka terlihat nyambung dan sesekali mereka tertawa bersama.
"Zia memang cocok sekali dengan keluarga ini.."ujar batin Safa sambil tersenyum kecut.
"Nona Safa sedang apa disini..."suara seorang kepala pelayan menyadarkan lamunan Safa.
"Pak Antoni...hhmm gak ada...aku sedang mencari yang lain...kata tante Aida..yang lain sedang berada dihalaman samping..."
"Oh ya benar nona...mari saya antar.."
Safa mengikuti kepala pelayan Antoni untuk pergi kehalaman samping.
Sesampainya disana rupanya Reza juga ada disana.Wajah Safa yang tadinya mendung menjadi cerah saat melihat Reza.
"Hai semua..."sapa Safa..
"Eh ada Safa..."ujar saudara sepupu dari Devon.
"Hai kak Reza..."Safa menyapa Reza dengan senyum manisnya.
"Hai Safa...sudah lama.."
"Enggak kok kak...baru saja datang..."
"Sama Devon..?"
"Ya..sama kak Zia juga.."
"Bersama Zia..."Tanya Reza heran.
__ADS_1
"Iya..kak Zia.."
"Apa kamu tahu..siapa Zia itu.."
"Tahu...dia mantannya Devon dan kak Zia juga partner kerjanya Devon.."
"Kamu sudah tahu semuanya dan kamu masih bersikap biasa saja..."
"Yaaa...terus aku harus bersikap seperti apa kak..."
"Kamu tidak ada rasa cemburu..."
"Untuk apa aku cemburu kak...toh.."Safa hampir keceplosan kalau dirinya hanya pacar sementara Devon.
"Toh...aku percaya sepenuhnya sama Devon..."
"Wah...kak Devon beruntung banget bisa punya pacar seperti kamu Sa.."ujar Lidya sepupu Devon.
"Ah..gak juga..."
Devon baru turun dari kamarnya..Dia melihat mamanya sedang bercanda dengan Zia,sedangkan Safa berada diluar bermain bersama Reza dan yang lainnya.
"Devon..duduk sini sayang..."perintah mama Devon.
Devon hanya melihat sekilas lalu melewati keduanya dan berjalan menuju halaman.
"Sedang memainkan apa kalian.."
"Ini Safa sama uncle Reza..sedang bermain catur..."
"Bermain catur..."Devon berjalan mendekati Safa.
"Memangnya kamu bisa..."Devon meremehkan Safa.
"Jangan salah..gini-gini dulu aku sering bermain bersama temanku waktu dikos-kosan."ujar Safa..
Devon mencibirkan bibirnya.
***
"Dev ikut mama..."ajak mama Devon setelah Zia bergabung bersama Safa dan yang lainnya.
"Ada apa ma..."
"Sudah kamu ikut saja...kita bicara diruanganmu saja.."
__ADS_1
"Ada apa ma..."Sesampainya diruangannya Devon langsung bertanya kepada mamanya.
"Sayang...mama ingin bicara serius sama kamu..."
"Ada apa ma...sepertinya penting sekali.."
"Devon..mama ingin tanya...apa kamu benar-benar mencintai Safa..."
"Ya..."
"Apa kamu benar-benar ingin menikahinya..."
"Ya.."Devon hanya menjawab singkat.
Devon tidak memikirkan bagaimana akibatnya dengan jawaban spontannya sekarang.
"Devon..kalau menurut mama..Zia itu lebih baik dari Safa.kamu jangan salah paham dulu,bukan mama tidak menyukai Safa,mama suka dengan Safa dengan sifat periangnya dan mudah bergaul tapi menurut mama Zia itu lebih anggun dan berwibawa.Lihatlah itu perbedaan yang sangat mencolok Dev..."Mama Devon melihat Safa dan Zia dari balik dinding kaca.
Devon mengikuti arah mata Aida memandang..
"Memang perbedaan yang sangat terlihat ma...tapi asal mama tau..Safa lebih baik dari Zia..."
"Bagaimana kamu bisa bicara Safa lebih baik..tolong jelaskan pada mama..."
"Kepribadian Safa tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata....itu hanya bisa dirasakan saat dekat dengannya.."ujar Devon sambil matanya terus menatap Safa yang dari tadi tertawa bersama yang lain.
Mama Devon juga melihat Safa yang terus tertawa.Aida melihat Safa yang terus tertawa dengan lepasnya sedangkan Zia hanya tersenyum.
"Apa yang kamu lihat dari Safa yang tidak bisa mama lihat nak...kenapa mama masih berfikir Zia itu lebih baik..."
"Zia pernah menghianatiku ma..."Devon membuka masa lalu..
"Menghianatimu bagaimana...padahal waktu itu,kamu bilang sama mama kalau kamu akan melamar Zia..."
"Zia menolakku.."
"Mungkin dia ada alasan lain..makanya dia menolak mu..."
"Dia beralasan masih ingin mengejar karirnya.."
"Itu alasan yang masuk akal Dev....itukan masih bisa diterima....kamu dan Zia masih bisa memperbaikinya..."
"Dia tidur bersama pria lain setelah dia menolak lamaranku.."ujar Devon dengan tatapan tajam.
"Apa...apa mama tidak salah dengar....Zia..dia...dia sudah..."
__ADS_1
"Ya ma...dan itu sudah terjadi berulang kali dibelakangku..."
Mama Devon menutup mulutnya sendiri,mama Devon masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putranya.