
Kedua orang tua Devon sudah menunggu saat Devon dan Safa datang keruang tamu.
Devon terlihat biasa saja saat menghampiri kedua orang tuanya.Lain halnya dengan Safa.Safa terlihat takut dan tidak enak hati.
Safa berjalan dengan mata yang terus tertunduk.
"Duduk.." mama Devon menyuruh Devon dan Safa.
"Jelaskan pada kami apa yang terjadi tadi..."ujar mama Devon.
"Tadi itu tidak sengaja ma..."ujar Devon tanpa rasa bersalah.
"Tidak sengaja..."
"Ya...tadi Devon tersandung selimut yang dipakai Safa...terus kami berdua terjatuh...sudah itu saja.."
"Bagaimana mungkin kamu bisa tersandung selimut Safa,sedangkan mama sudah menyuruhmu untuk tidur dikamar tamu...lalu kenapa kamu bisa berada dikamar Safa..."
"Itu tadi Safa.."
"Sudah...mama sudah putuskan setelah acara besok..mama akan menemui orang tua Safa..."ujar Aida memotong penjelasan Devon.
Safa dan Devon terkejut secara bersamaan..
"Untuk apa tante..."
"Untuk apa ma.."ujar Devon dan Safa.
"Untuk membicarakan kelanjutan hubungan kalian..."
"Dengan kata lain...untuk melamar Safa dan membicarakan tentang pernikahan kalian..."ujar papa Devon.
"Pernikahan..."ujar Safa dan Devon.
"Ya..pernikahan kalian...kenapa reaksi kalian berdua seperti itu..."
Safa melihat Devon sambil matanya sedikit melotot dan seperti memberi kode,agar menjelaskan tentang hubungan keduanya yang sebenarnya.
"Mama apa-apaan sih....."
"Loh kok mama yang apa-apaan...kalian berdua yang apa-apaan..kenapa reaksi kalian seperti terkejut seperti itu...apa kalian tidak ada niatan untuk menikah.."
"Bukan begitu ma...kita.."Devon menghentikan ucapannya,dia bingung bagaimana harus menjelaskan tentang keadaan sebenarnya kepada kedua orang tuanya.
"Sudah mama putuskan..kalian akan segera menikah...mama tidak ingin kalian terlanjur membuat malu keluarga ini..."ujar mama Devon sambil berdiri kembali kekamarnya..
Tapi saat mama Devon baru berjalan beberapa langkah..
"Tunggu tante..."ujar Safa..
__ADS_1
Safa mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.
"Ada apa Sa..."
"Ada yang ingin Safa jelaskan..."
Safa melihat Devon,Devon seperti mengerti maksud Safa menghentikan mamanya.Devon menggelengkan kepala.
Mama dan papa Devon saling berpandangan..
"Sebenarnya...Safa dan Devon..."
"Kenapa kalian masih belum tidur..."
tiba-tiba nenek Devon keluar dari kamar dan mengejutkan semuanya.
"Mama...mama belum tidur.."ujar mama Devon.
"Mama tadi sudah tertidur..tapi mendengar ada seseorang yang sedang berbicara,lalu mama keluar untuk memastikan siapa yang sedang berbicara...enggak taunya kalian.
Kalian sedang membicarakan apa sampai selarut ini.."
Orang tua Devon saling pandang..
Mama Devon berjalan mendekati nenek..lalu memegang tangan nenek.
"Emm..gini ma...Aida sama papa Devon sedang membicarakan soal pernikahan Devon dan Safa...kami berniat ingin segera melamar Safa secara resmi dan segera menikahkan mereka..."
"Oh ya...wah kalau begitu ini kabar bagus..."
"Jadi mama setuju..."ujar papa Devon.
"Tentu saja...Devon kan cucuku yang paling tua dan umurnya juga sudah cukup untuk menikah...jadi mama setuju sekali.."
"Ok..kalau begitu sudah diputuskan besok setelah acara disini selesai..kami akan segera ke Bandung untuk menemui orang tua Safa.."ujar papa Devon.
"Tapi pa..."ujar Devon..
"Sudah gak ada tapi-tapian ini sudah keputusan final...dan semuanya sekarang isirahat,malam ini mama tidur bareng Safa...jaga-jaga takutnya nanti ada yang jalan-jalan tengah malam..."ujar mama Devon sambil melirik putranya.
***
Acara ulang tahun Reza sudah dimulai.
Semua keluarga sudah berkumpul dihalaman belakang.Beberapa makanan dan minuman juga sudah disajikan dimeja.
"Selamat ulang tahun yang kak..."ucap Safa pada Reza.
Reza hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Eh Sa...kamu kan calon istrinya kak Devon...kenapa manggil uncle Reza dengan sebutan kakak...harusnya kan uncle juga.."ujar Lidya
"Panggilan uncle masih tertua untuk kak Reza..lebih cocok dipanggil kakak..gak apa-apa kan kak.."ujar Safa pada Reza..
"Ya gak apa-apa..terserah Safa mau manggil apa...panggil Reza juga boleh..."ujar Reza lembut.
"Ya tidak boleh dong...Safa juga kan lebih muda...gak sopan kalau harus panggil nama..."ujar mama Devon.
"Kamu punya gitar gak.."bisik Safa pada Lidya..
"Buat apa..."
"Udah jangan banyak tanya..punya gak.."
"Ada tapi punya kak Devon.."
"Punya Devon...ya sudah gak apa-apa...tolong kamu ambilkan ya.."
"Ok.."
Lidya mengambilkan gitar untuk Safa..
Ting..ting..ting..
"Perhatian semua..."Lidya memberi pengumuman pada semua..
Semua melihat Lidya..
"Kak Safa ingin membawakan sebuah lagu untuk yang berulang tahun..."
"Wah...kamu bisa nyanyi Sa..."tanya Reza..
"Bisa dikit-dikit kak..."
"Heh...memangnya kamu bisa main gitar..."
"Bisa dong..."
"Hati-hati makainya....itu gitar mahal..."ujar Devon.
"Ya..ya..tuan muda.."
"Jangan sampai lecet..."
"Devon....kamu tidak boleh begitu sama Safa..yang lembut dong kalau bicara..."
"Ya ma...itu sudah biasa kok ma.."
"Jangan dibiasakan..."ujar papa Devon.
__ADS_1