
Safa masih berfikir keras untuk membuat Devon keluar dari kamarnya atau seenggaknya bisa sedikit menjauh dari Safa.
Devon menyusupkan lengannya dibawah leher Safa..
"Apa yang mau kamu lakukan Dev.."
"Sudah kamu diam saja..cepat tidur ini sudah larut.. selamat malam.."
Tangan Devon seperti menjadi bantal untuk Safa sedangkan tangan yang satu lagi memeluk tangan Safa.
Safa masih belum bisa memejamkan matanya dengan posisi tidur seperti ini.Dia masih berfikir apakah Devon bisa dipercaya.
"Mulai besok jangan pakai piyama seperti ini lagi.."ujar Devon sambil memejamkan matanya.
Malam ini Safa memang memakai baju tidur dengan lengan panjang dan celana panjang.
"Memangnya kenapa.."
"Sangat tidak nyaman untuk dipeluk.."
"Lalu aku harus pakai apa.."
"Besok aku akan menyuruh sekretarisku membelikan untukmu..dan kamu harus dan wajib memakainya saat bersamaku..."
"Terserah kamu.."
"Oke...sekarang cepat tidur.."
"Devon..sebenarnya aku tidak nyaman tidur seperti ini.."
"Huust..cepat tidur..besok aku akan kembali kekantor..aku tidak ingin bangun kesiangan.."
Safa memaksakan diri untuk memejamkan matanya,walau agak kesulitan untuk tidur,tapi setelah agak lama Safa pun tertidur.
***
Keesokan paginya,Safa bangun terlebih dahulu.Safa mencoba bangun pelan-pelan agar Devon tidak terbangun.Safa ingin menghindari ciuman dari Devon.
Tapi saat Safa ingin pergi,tiba-tiba bajunya ditarik dari belakang oleh Devon.
Safa terjatuh dan bersender diperut Devon.
"Mau kemana sayang...kamu lupa perjanjian kita tadi malam..atau kamu memang mau menghindarinya..."
"Buk..bukan seperti itu...aku hanya tidak ingin membangunkanmu..karena aku fikir ini masih terlalu pagi untuk kamu "
"Ohh seperti itu...sini.."Devon menarik Safa lagi dan mencium keningnya.Safa memejamkan matanya rapat-rapat saat Devon mencium keningnya.
"Selamat pagi istriku.."
"Hhmm.."ujar Safa sambil memaksakan senyum.
__ADS_1
"Tolong kamu siapkan baju kerjaku...ada di kamarku..aku mau mandi dulu.."
"Devon aku tidak tahu seleramu.."
"Apapun pilihanmu..aku akan menyukainya.."ujar Devon lalu pergi kekamar mandi.
"Devon tunggu..aku belum tahu letak barang-barangmu.."ujar Safa.
"Kamu tanya pelayan..."teriak Devon dari kamar mandi.
Safa menuruti permintaan Devon.Safa pergi kekamar Devon dan meminta bantuan salah satu pelayan yang biasa membereskan pakaian Devon.
Si pelayan menunjukkan semua tempat-tempat barang Devon.mulai dari baju jam tangan dan aksesoris lainnya.
Setelah dijelaskan oleh pelayan Safa mulai mengerti.Setelah selesai menunjukkan seisi kamar Devon,pelayan itupun pergi.Kini tinggal Safa yang akan memilihkan kemeja yang akan dipakai Devon.
"Apanya yang mau dipilih warnanya cuma ada dua..kalau gak kemeja hitam ya pasti putih..."
Safa melihat lemari yang lain dan isinya kaos yang juga warnanya dominan warna hitam dan putih,dan ada beberapa warna lain.
"Mungkin Devon hidupnya hanya hitam putih,masa semuanya harus hitam putih..kamarnya juga warnanya dominan ke warna gelap.."ujar Safa berbicara sendiri sambil melihat sekeliling kamar.
Setelah mempersiapkan semua,Safa membawa kemeja dan juga jas Devon kekamarnya.
Saat Safa masuk kekamarnya,Devon baru selesai mandi.Safa tertegun melihat badan sixpack dengan kulit putih bersih milik Devon.Dengan rambut yang masih basah yang baru keluar kamar mandi membuat pemandangan sekitar terasa menyegarkan.
Devon melihat Safa yang terus memperhatikan dirinya.Devon melihat badannya sendiri lalu melihat Safa dengan satu alis terangkat sambil tersenyum tipis.Devon berjalan mendekati Safa yang masih tertegun.
Safa segera berbalik.
Devon menarik bahu Safa..
"Kamu mau kemana.."Devon memeluk Safa dari belakang.
Jantung Safa berdetak tidak karuan.
"Aku..aku akan keluar sebentar.."
"Kenapa kamu ingin keluar...
Apa kamu malu melihatku.."
"Kamu yang tidak tahu malu...kamu..kamu berdiri tanpa baju.."
"Kenapa aku harus malu...kamu kan istriku..biar kamu terbiasa dengan pemandangan seperti ini.."ujar Devon ditelinga Safa.
"Devon...Aku akan keluar mempersiapkan sarapan dulu..ini baju kamu.."Safa memberikan baju Devon tanpa melihat Devon.
Setelah memberikan kemeja Devon,Safa ingin segera keluar dari kamar tapi ditahan oleh Devon.
"Eit tunggu dulu...kan masih belum.."Devon menunjuk pipi Safa.
__ADS_1
Safa mengerti maksud Devon,pipi Safa langsung memerah.
"Kenapa pipimu merah.."Devon mengusap pipi Safa dan itu membuat jantung Safa semakin tidak karuan.
Safa terdiam mematung,nafas Safa seperti tercekat ditenggorokan oleh tingkah Devon.
Devon mencium pipi kanan dan kiri Safa dengan mesra.Mata Safa membelalak saat Devon mencium pipinya.
"Kamu jangan sering-sering melotot,nanti bola matamu bisa lepas.."ujar Devon.
Safa melepas nafas kasar..
"Aku akan keluar.."ujar Safa segera keluar dari kamar dan menutup pintu kamar.
Safa bersandar dipintu kamar.
Dia memegang dadanya yang seperti sedang sesak.
"Ya ampun..lama-lama..aku benar-benar jantungan kalau seperti ini terus..."ujar Safa.
"Huft..."Safa melepas nafasnya berulang kali.
"Kenapa aku bisa diam saja saat Devon terus menggodaku..kenapa aku selalu diam..saat Devon menciumku....lalu kenapa aku setuju-setuju saja dengan persyaratan gilanya itu..."
"Huuuhh...ada apa dengan otakku.."ujar Safa sambil berjalan memukul kepalanya sendiri.
Safa mempersiapkan sarapan dan dibantu oleh pelayan.
Selesai berganti pakaian Devon langsung turun dan berjalan menuju ke meja makan..
Devon duduk dikursi makan sambil melipat lengan kemejanya.
Safa mengambilkan roti yang sudah diolesi selai.Pelayan sudah memberi tahu kalau Devon saat pagi lebih suka sarapan roti dengan selai kacang.Pelayan juga memberi tahu apa saja yang disukai dan yang tidak disukai oleh Devon tentang makanan.
Selesai Sarapan Devon menyuruh Safa untuk mengambilkan tas kerja yang ada diruang kerjanya.
Safa menuruti semua perintah Devon.
Tanpa diketahui Safa,diam-diam Devon mengikuti Safa pergi keruang kerjanya.
Safa membuka pintu pelan-pelan.Safa melihat sekeliling ruang kantor sebentar sebelum masuk keruangan.
Devon mendorong Safa untuk segera masuk keruang kerjanya.
"Devon..kamu apa-apaan sih...mengagetkanku saja.."
ujar Safa yang terkejut tiba-tiba Devon berada dibelakangnya.
"Kamu tidak lupa kan tentang perjanjiannya.."
"Kan sudah semua Dev.."ujar Safa memalingkan mukanya.
__ADS_1