
Dua tahun kemudian...
Seorang pria berjalan bersama dengan beberapa bodyguard yang mendampingi dibelakang, berjalan dengan langkah tegap.Kaca mata bening yang menempel dihidung mancungnya.
Seorang asisten datang dengan buru-buru sambil membawa jurnal ditangan.
"Selamat pagi Presdir Dev..."sapa asisten.
"Heem.."
Pria itu tetap berjalan sambil menyusuri ruang gedung perusahaan.
"Hari ini ada rapat bersama para pemegang saham,pukul 9..
siangnya kita ada negosiasi dengan perusahaan G grup..untuk membicarakan soal harga.."ujar Asisten yang merutuki kegiatan sang presdir hari ini..
Langkah sang bos terhenti saat mendengar tentang perusahaan G grup.
FLASH BACK ON.
"Selamat siang tuan Gritama...ini surat pengunduran diri saya.."
"Surat pengunduran diri...ada apa ini Devon..kenapa kamu tiba-tiba ingin mengundurkan diri.."
"Ya pak..saya minta maaf karena mengundurkan diri secara mendadak....saya ingin membuka usaha saya sendiri.."
Bos Gritama mengangguk-angguk sambil menutup berkas yang tadi dibukanya.
"Kalau itu alasanmu,saya tidak bisa apa-apa...hanya satu pesan saya..jangan pernah lengah terhadap lawan.."
"Ya tuan..terima kasih.."
Bos Gritama menjabat tangan Devon..
"Semoga sukses.."
"Terima kasih.."
FLASHBACK OFF
Devon kini menjadi Presdir muda yang terkenal dengan sebutan penakluk perusahaan-perusahaan besar.Hampir semua perusahaan terkenal ditaklukan oleh Devon.Selama dua tahun Devon belajar bisnis dan investasi sampai akhirnya bisa membangun perusahaannya sendiri.
"G grup.."
"Ya tuan Devon..."
"Pukul berapa kita akan bertemu dengan bos G grup.."
"Jam satu tuan.."
"Bilang pada semua...saya hanya ingin bertemu dengan bos G grup secara pribadi..."
"Secara pribadi tuan.."
"Ya..."
"Baik tuan.."
__ADS_1
Dari rapat satu ke rapat yang lain telah Devon kerjakan,kini tinggal rapat dengan pemilik perusahaan G grup.
"Presdir sekarang kita hanya tinggal rapat dengan perusahaan G grup.."ujar asisten Devon.
Devon mengangguk..
Devon berangkat ke perusahaan G grup dengan beberapa staf dan bodyguardnya.
Setelah sampai di perusahaan G grup,semua karyawan terpana dan terpesona pada sosok yang keluar dari dalam mobil.Mereka semua heran menatap deretan mobil yang terparkir di depan kantor G grup.
Seseorang keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Devon.Devon keluar dari mobil dan merapikan jas yang dipakainya.Semua orang saling berbisik,semua karyawan G grup sudah tau kalau mereka akan berganti CEO.
Para bodyguard berjaga didepan kantor,sedangkan para staf Devon ikut kedalam.
Direktur perusahaan G grup sudah menunggu didalam ruang rapat.Directur G grup hanya berdua dengan sekretarisnya diruangan tersebut.
Devon dan Asistennya masuk keruang rapat.Devon tersenyum saat melihat direktur G grup.
"Selamat siang tuan Gritama..."ujar Devon sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat siang tuan Dev..."
"Apakah anda masih ingat dengan saya.."tanya Devon.
Tuan Gritama masih meneliti wajah Devon.
"Sepertinya saya tidak asing dengan wajah ini.."
Devon melepas jas yang terbiasa melekat ditubuhnya..
"Apakah anda sudah ingat..."tanya Devon.Tuan Gritama masih mencoba mengingat-ingat..tapi tetap tidak mengingat mantan karyawannnya.
"Maafkan saya tuan Dev...mungkin ingatan saya sudah mulai berkurang..maklum faktor umur..."
"Baiklah kalau begitu tidak apa-apa...biar saya beritahu langsung...
Tuan Gritama saya Devon..mantan wakil direktur diperusahaan tuan dua tahun lalu.."
Tuan Gritama terkejut..
"Oh ternyata kamu Devon mantan karyawan saya...yang dulu tiba-tiba ingin berhenti.."
"Ya tuan..."
"Wah...sekarang kamu sudah berjaya dan kelihatan kamu cukup sukses...bahkan melebihi perusahaan saya...yang sekarang sudah diambang kebangkrutan..."
Tuan Gritama bercerita panjang lebar tentang awal perusahaannya yang mulai goyah.
"Semua ini gara-gara Alex...klien kita dulu yang dari Australia..."
"Alex.."
"Ya..."
Devon terdiam sejenak mengingat wajah Alex yang masih melekat difikirannya.
"Entah bagaimana caranya,Alex bisa tau tentang seluk beluk dan strategi perusahaan ini..."
__ADS_1
Devon menatap Tuan Gritama..
Devon mengingat kedekatan Zia dan Alex...
"Mungkin ada mata-mata diperusahaan ini...kami sudah mencari dan menjebak siapa dalang dari konspirasi ini...tapi hasilnya tetap nihil..."ujar Tuan Gritama.
"Eh saya hampir lupa...teh anda belum datang..sebentar saya panggil sekretaris saya dulu.."
Tuan Gritama memanggil Sekretarisnya lewat telfon,untuk membawakan teh kedalam ruang rapat.
Tak lama teh pun datang..
"Permisi..."sapa seorang wanita dari belakang Devon.Devon masih hafal dengan suara itu.
Saat perempuan tadi meletakkan tehnya dimeja,dia melihat sekilas pada sosok laki-laki yang duduk berseberangan dengan bosnya.
"Zia...kamu masih ingat dengan lelaki ini..."tanya Tuan Gritama pada Zia.
Devon memutar kursinya menghadap Zia lalu menatap wajah wanita yang dulu sangat dicintainya..
Zia ingat dengan sosok laki-laki yang sekarang ada didepan matanya...
"Devon..."Ujar Zia.
"Ya kamu benar...dia Devon mantan karyawan disini dulu...tapi sekarang sudah menjadi bos besar..."
Zia dan Devon masih saling menatap..
"Tidak kusangka Devon sudah sesukses ini.."ujar Zia dalam hati.
"Halo Zia...apa kabar.."Devon menyapa Zia sambil mengulurkan tangannya.
"Kabar baik...bagaimana denganmu.."
"Seperti yang kamu lihat...aku baik...bahkan jauh lebih baik dari terakhir kita bertemu.."
Tuan Gritama dan Devon sedang membicarakan tentang bisnis mereka.Zia tidak henti-hentinya menatap Devon yang semakin tampan dan karismatik,tapi sayang..Devon sedikitpun tidak menoleh kearah Zia.
Setelah sekitar dua jam mereka membicarakan bisnis,akhirnya Devon pamit..
"Baik tuan Gritama..semuanya telah kita bicarakan dan saya tinggal mempersiapkan berkas-berkasnya mungkin sekitar dua hari..asisten saya akan mengirimkannya kepada anda.."
"Baik tuan Dev...terima kasih untuk waktunya.."Gritama dan Devon saling berjabat tangan.
"Biar saya antar.."ujar Zia..tapi Devon memberi tanda dengan tangannya agar Zia tidak mengantarnya.
"Tidak perlu...terima kasih nona Zia..."Zia terkejut dengan ucapan dan penolakan Devon.
Devon keluar dari ruang rapat.Zia mengejar Devon.
"Devon...Devon...tunggu.."Zia mengejar Devon dilobi kantor.Devon berhenti mendengar panggilan Zia.
"Devon...selamat untuk kerja sama kita.."Zia mengulurkan tangannya.
Tapi Devon tidak membalasnya.
"Maaf nona Zia,perusahaan kita bukan sedang bekerja sama....tapi saya telah membeli perusahaan ini...dan Anda sekarang menjadi karyawan saya..."
__ADS_1
"Apa..."Zia terkejut.
Devon melanjutkan langkahnya menuju kemobilnya.