
sunyi itulah yang saat ini Radit rasakan saat ini, laki-laki ini masih duduk termenung didampingi ranjangnya dengan tangan kanan memegang cuter.
tak terhitung sudah berapa banyak sayatan yang iya toreh kan kelengan nya,
yang iya inginkan hanyalah pelampiasan untuk semua rasa penyesalan yang telah iya lakukan kepada mawar adik angkatnya.
dan menggoreskan benda tajam ke bagian tubuhnya merupakan cara paling ampuh meredam rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Radit masih diam termenung dengan tatapan kosong, ingatannya memutar kembali pada kejadian beberapa bulan silam,saat dirinya menodai gadis polos tidak berdosa itu hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis nya yang sangat menjijikkan.
"Radit..." terdengar suara halus nan lembut dari balik pintu kamar Radit,
tapi tidak membuat si pemilik nama menoreh sedikit pun.
suara tenang dan meneduhkan itu tidak asing iya dengar sejak beberapa Minggu ini, perlahan pintu kamar itu terbuka menampilkan sesosok gadis berpakaian dress putih berpoletkan bunga dia Sasa adik kelas semasa kuliah radit.
"Radit ayo temani aku berbelanja,"Sasa berjalan mendekat kemudian mengambil cuter yang ada ditangan Radit perlahan.
sasa pergi mengambil kotak p3k dan mulai mengobati luka yang ada ditangan Radit.
__ADS_1
Radit terdiam dan memandangi wajah sasa, mata sayu itu bibir tipis dan mata yang sipit membuat Radit tertegun memandangi nya beberapa saat. pertemuan mereka yang singkat dan tidak masuk akal itu mampu membuat Radit bersyukur. setidaknya masih ada satu orang yang perduli akan dirinya...
Sasa melilit perban itu ke lengan kekar itu perlahan, jika di ingat semenjak pertemuan mereka itu. ini adalah ke dua kalinya sasa mendapati Radit bertindak bodoh hanya demi meredam semua rasa sakit yang berkecamuk di dalam hatinya yang iya pendam...
"Radit ayo."ucap Sasa
Radit diam tidak menanggapi,iya lebih senang melamun dan memikirkan beberapa hal yang membuatnya tertekan.
dan saat kendali yang iya pertahanan kan sudah mencapai batasnya iya akan melampiaskan rasa sakit itu, dengan cara melukai dirinya sendiri...
Radit sudah melakukan hal ini sejak lama
bahkan iya sempat ingin mengakhiri hidupnya sendiri, gelap sunyi hanya dua kata itu yang membelenggu dihatinya
Radit bukan laki-laki yang kuat yang mampu menerima semua takdir tuhan yang telah digariskan untuknya.
lihatlah dia sekarang jam sudah menunjukkan jam dua pukul pagi tapi Radit masih betah duduk di club' malam sambil memikirkan bir yang iya pesan.
tidak cukup buruk setidaknya ditempat ini dia bisa melupakan beban hidup nya sejenak.
__ADS_1
"Radit."ucap wanita berumur 24 tahun mulai terdengar nyaring di telinga sang pemilik nama.
Radit mendongkrak melihat Sasa hanya memakai celana hot pants dan baju yang mengekspos bagian dadanya,
"Hmm"
tangan Sasa mulai bergelanyut manja di lengan kekar Radit"mau main?" tanya Sasa
Radit terkekeh, harus iya akui jika dirinya memang brengsek.tapi siapa yang perduli. bukannya buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.!!!
maka dengan seringai tajam Radit berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan oleh pihak club dan sasa menggandeng Radit dengan senyum manisnya.
seketika sampai di kamar itu Radit tidak beranjak dari posisinya,dia menghirup aroma lavender dari ceruk leher sasa
gadis ini selalu saja datang disaat dia sedang membutuhkan nya dan membuat Radit tenang.
***
HAPPY READING GUYS...
__ADS_1