KESALAHAN

KESALAHAN
bab ⁴4


__ADS_3

Dian menatap Indah bingung , begitupun Indah ikut bingung. Karena dia tidak mengetahui sama sekali siapa Guntur. Yang dia ketahui mertuanya laki - laki sudah meninggal.


" menurut kamu dibuka gak ?" tanya Dian pada Indah.


" dibuka aja mas!. biar tahu maksudnya " ucap Indah


Maka mereka pun membuka berkas itu, membaca satu persatu bagian bagian nya. Hingga satu amplop panjang terjatuh dari antara berkas - berkas itu. Dian mengambil dan membukanya lalu mulai membaca.


apa kabar kalian Dian dan Dini?


Saya berharap kalian dan ibu kalian baik - baik saja. Satu hal yang mau saya sampaikan saat kalian membaca surat ini berarti saya sudah tidak ada lagi.


Saya tahu saya salah sebagai seorang suami dan seorang ayah. Saya sadar dengan semua kesalahan saya terhadap kalian. Dan saya pun tidak berani berharap banyak mengenai semua yang sudah saya kerjakan ini.


Kalian perlu tahu bahwa sampai saya menutup mata saya , saya tidak mempunyai anak dari Riska istri saya, dan setelah Riska meninggal saya hidup sebatang kara. Tapi saya bersyukur kalian ada, sejak perjumpaan kita waktu itu saya sudah memutuskan bahwa semua harta milik saya akan saya alihkan ketangan kalian.


Saya berharap kalian mau meneruskan apa yang sudah saya mulai. Dan perlu kalian ketahui bahwa perusahaan yang saya kelola itu berdekatan dengan kafe milik ibu kalian.


Terserah kalian mau di bagaimanakan, Tapi saya akan sangat bersyukur kalau kalian mau menerima dam meneruskan nya.


Terimakasih banyak untuk kalian

__ADS_1


seperti itulah surat Roby kepada Dian dan Dini. Dian memandang Indah


" jangan gegabah dalam mengambil keputusan mas, telepon ibu dan Dini dulu.! minta pendapat mereka !" maka Dian pun mengambil hp dan kemudian memanggil Dini dan ibu mereka secara video.


" ada apa kak apa kabar sama mba Indah?" kata yang pertama di ucapkan Dini begitu panggilan mereka tersambung.


" kenapa Indah baik- baik saja kan dengan kandungan nya?" Ibu pun bertanya demikian.


Kemudian Indah memperlihatkan wajah di antara mereka dan tersenyum.


" Indah baik- baik aja bu , Dini " akhirnya Dini dan Ibu menarik nafas lega. Sebenarnya mereka tahu pasti ada yang sangat penting yang akan dibicarakan karena langsung menghubungkan mereka bertiga.


Dian pun mulai menceritakan semua yang terjadi dan isi surat almarhum Guntur secara mendetail. Ibu hanya diam dan menunggu Dian selesai berbicara tanpa menyela, demikian juga Dini.


" menurut Ibu bagaimana?" tanya Dian akhirnya.


" kamu dek?" sambungnya


" kasih Dini waktu buat mikir kak" hanya itu yang di ucapkan nya.


" ini urusan kalian, ibu tidak melarang dan tidak mau memaksa putuskan sendiri ibu percaya sama kalian, pikirkan jauh kedepan!" Ibu menjawab.

__ADS_1


" pengacaranya memberi waktu 1 minggu ini bu"


Dian menyambung pembicaraan mereka.


" pikirkan dengan matang!" pesan Ibu pada Dian dan Dini


" nanti Dini telepon balik kak, biar Dini pikirkan lagi "


Dan panggilan mereka pun berakhir disana.


Tiga hari berlalu hp Dian berbunyi.


" hallo " demikian suara di sebrang sana menyapa


" hallo, siapa?" Dian menyahut


" saya pengacara pak Guntur, apa kalian sudah memeriksa berkas- berkas yang saya antar waktu itu?" ucapnya


" ah iya berkas nya sudah saya periksa , nanti kami akan hubungi anda kembali" sahut Dian lagi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2