KESALAHAN

KESALAHAN
bab 42


__ADS_3

Kini Dini dan Tina terlihat di layar hape Bima.


" ayah meninggal pagi ini,tadi waktu kami menemukannya badannya masih hangat" terang Bima singkat lalu menangis setelahnya membuat Tina dan Dini membelalakkan matanya.


Tidak Tina sangka adik satu- satunya sudah meninggal dunia. Dini merasa dunianya runtuh , walau dia sudah tahu bahwa Roby bukan ayah kandungnya tapi lelaki itulah cinta pertamanya. Yang mengajarkan nya tentang semua. Punggungnya bergetar hebat dan tak mampu berkata apapun. Dini begitu shock mendengar kabar itu dia berharap ini mimpi.


"segeralah pulang " ujar Bima menutup teleponnya.


Mina masih diam seribu bahasa, tidak tahu apa yang harus dia ucapkan. setengah jiwanya serasa menguap entah kemana. jenajah Roby sudah dibersihkan dan dibawa ke ruang depan. Mina, Dian, Bima dan Dinda duduk di sekitaran jenajah , pelayat datang silih berganti. Mau tidak mau mereka harus menunggu Dini dan Tina.


Setelah menunggu Tina dan Dini sudah sampai di rumah. Begitu Dini melihat ayahnya yang terbujur kaku dia pun tak kuat berdiri dan langsung berlutut. Dia menangis sesenggukan membuat siapa saja yang melihatnya ikut merasakan kesedihan.


Semua orang tahu bahwa Roby orang yang sangat baik semenjak hidupnya mulai dari lajang hingga saat ini.


...****************...


"Maaaaasssss" teriakan Mina terdengar sampai depan. Dian yang mendengar ibunya lari ke kamar. Posisi Mina masih di tempat tidur dengan keringat mengucur di seluruh tubuhnya.


" minum dulu bu!" Dian menyodorkan minum kepada ibunya. Mina pun meneguk minumnya hingga habis dia mimpi buruk, dia mengarahkan matanya ke arah dinding jam 1 dini hari.


Dian tahu ibunya mimpi , entah apa pun itu karena awalnya Mina tak pernah begini. Dian meninggalkan Mina dikamar dan mengetuk kamar Dini serta masuk kedalam. Dian mengguncang Dini serta membangunkannya .

__ADS_1


" Din, bangun !"


" kenapa kak ? ini kan masih pagi banget " protesnya


" kamu temani ibu tidur, barusan dia mimpi dan teriak" ucap Dian serta meninggalkan Dini . Dini yang bangun bergegas ke kamar ibunya langsung naik ke tempat tidur dan menarik selimut. Dia kemudian memegang tangan ibunya dan akhirnya tertidur pulas.


3 hari semenjak kepergian Roby, Mina bergabung dengan anak- anaknya. Kebetulan Guntur datang .


" Turut berdukacita , kalian yang sabar dan kuat ya. kemarin saya tidak bisa datang karena sedang ada tugas diluar" ucap nya ketika berjabat tangan dengan Mina. Dian dan Dini hanya diam saja melihat kedatangan Guntur.


Bima dan Dinda sudah mulai masuk sekolah. Jadi keduanya pamit sekolah diantar Dian.


" terimakasih ya " sahutnya canggung. Setelah kejadian di cafe beberapa waktu lalu sebenarnya Guntur merasa tidak enak kepada Mina dan anak anaknya terutama pada Roby. Walau tak pernah bertengkar namun persahabatan mereka menjadi renggang saat itu sampai akhir hidupnya.


Lama saling diam karena Mina tak berniat membahas apa- apa. Bagi Mina begitu dirinya di usir dari rumah Guntur saat itu urusan mereka sudah selesai.Tak lama kemudian Dian sampai dan Dini baru saja membawakan teh untuk mereka.


Dian dan Dini duduk menemani ibunya. Keduanya lebih mirip ibunya, lama Guntur menatap Dian dan Dini.


"Maaf sebelumnya" kata Guntur membuka pembicaraan mereka.


" sebenarnya sejak beberapa bulan lalu saya mau datang kemari, tapi tidak tahu caranya bagaimana" sambungnya lagi.

__ADS_1


Mina hanya diam mendengarkan tanpa berniat menanggapi. Dian menatap Guntur dengan tatapan penuh arti.


" itu sebenarnya saat kalian ada di kafe dengan almarhum dan Siti saat itu , saya mendengar pembicaraan kalian mengenai anak- anak. Apakah itu benar?"


" maksudku apakah si kembar adalah anak aku juga?"


Mina diam dan tidak menjawab pertanyaan Guntur dia hanya memegang tangan kedua anaknya, dan mempererat pegangannya pada tangan Dian. Dian mengerti bahwa ibunya ingin sebagai anak paling tua di rumah dia akan menjelaskan semua.


" beberapa bulan sebelum ayah meninggal, sebelum saya berangkat ke desa. Ayah sudah menerangkan semua dan itu benar adanya. Jadi apa lagi kira - kira yang mau di tanyakan?" tanya Dian sambil menatap tajam Guntur.


" maaf tidak seharusnya saya membahas ini sekarang, tapi saya sangat tertekan memikirkan semuanya" ujar Guntur.


" ohh" Dini ber oh ria menanggapi omongan lelaki tua di hadapan mereka itu.


" Jadi hemmm Mina bagaimana mengenai ini semua?" tanya Guntur lagi yang membuat Mina geram hingga kemudian ia angkat suara.


" aku serahkan keputusannya pada anak- anak mereka sudah dewasa. Karena pada dasarnya saya tidak ada niat menceritakan itu pada mereka. Almarhum lah yang bersikeras menceritakan kepada mereka" terang Mina.


bersambung


...****************...

__ADS_1


__ADS_2