KESALAHAN

KESALAHAN
Revan...


__ADS_3

tak terasa satu bulan sudah berlalu sejak kejadian itu, fisik ku sudah pulih tapi tidak dengan hatiku yang sangat sakit.


aku tertegun menatap seorang pria yang menawarkan kemurahan hatinya padaku sekarang, dia tidak sengaja mendengarkan percakapan ku dengan putri adik angkat ku melalui panggilan seluler tadi.


Putri memberi tahu kalau kabar radit si idiot itu sedang ditahan di kantor polisi bersama kedua orang teman nya yang lain karena kasus pengeroyokan di club,sebenarnya aku sudah tidak perduli mau manusia itu mati sekalipun tapi hatiku berkata lain ingin selalu tau kabar dirinya, meskipun dia sudah membuat luka besar di hatiku.


"bolehkah aku duduk.? tanya revan kemudian...


aku langsung tersentak,lantas mengiyakan tanpa memikirkan konsekuensi nya yang akan menunggu ku kedepannya.


ada sesuatu dalam nada bicara pria itu yang terasa memprovokasi batas privasi ku, dia menciptakan persepsi bahwa dia sosok yang gemar mendominasi setiap orang hanya lewat caranya mengerling dan itu membuatku gugup.


aku mulai memperhatikan gerak gerik nya yang kaku, seolah-olah dia itu baru saja tergelincir di atas jalan bersalju dengan posisi pinggang yang jatuh lebih dahulu.


dia menarik punggung kursi itu sedikit menempatkan dirinya disana,


dan merogoh sesuatu dari balik saku kamejanya, menyodorkan benda tersebut dengan hati -hati.

__ADS_1


sebuah karti nama yang kertasnya mengkilap itu beralih ke dalam genggamanku...


aku memperhatikan setiap detailnya yang mengagumkan, tipografi nya yang di desain secara khusus, logo perusahaan, sampai kepada seluruh warna tinta yang terukir indah disana.


aku berasumsi bahwa dia bukan orang sembarangan yang di bawa bos kami ke dalam perusahaan, tetapi mengapa dia harus repot-repot mencampu urusanku ?


maksudku dia sudah menguping pembicaraan kami, dan aku melupakan pelajaran hidup yang paling penting tentang ke waspadaan terhadap orang asing.


mungkin pria itu psikopat sinting


seperti yang ada didalam cerita novel-novel yang ku baca, atau bisa jadi punya tujuan tertentu padaku.


aku membaca nama yang dicetak tebal tersebut dalam hurup kapital tersebut, melirik ke arah rahang perseginya yang ditumbuhi janggut dan brewok kemudian meletakkan kartu nama miliknya ke dekat cangkir kopi ku, ouw ternyata dia seorang bisnis men dan pengusaha bisnis seni...


revan sekali lagi aku mengeja namanya dalam kepalaku, memindai ekspresi wajahnya


yang tetap datar secara keseluruhan.

__ADS_1


dan merasakan keringat seketika mengucur deras di kening ku, dia masih sangat tampan untuk ukuran seseorang yang usianya dua kali lipat di atas ku.juga lebih terlihat seperti bandit dari pada pengusaha...


tidak ada cincin yang melingkar di jari manis revan, jadi aku lagi-lagi bergelut dengan sejumlah asumsi ku sendiri tentang niat pria itu.


aku sempat menduga bahwa dia bujangan tua menawan yang harus tersisih oleh lingkungan akibat sifat aneh nya atau dia memang bermasalah dengan kepribadian nya, yang kelewatan dingin.


"tuan revan," sapa ku mencairkan suasana


canggung di antara kami berdua, menyelipkan sehelai rambutku yang keluar dari jalur daun telinga kiriku, dan kembali mengamati wajah tampan itu.


"Maaf pak revan ingin minum apa...


"Panggil Revan saja kalau di luar kantor jangan pakai embel-embel." ucapan revan


"mengapa harus revan saja,? jawabku yang kepo maksimal...


dia seketika menatapku dan berdeham...

__ADS_1


...****************...


Selamat membaca...


__ADS_2