KESALAHAN

KESALAHAN
bab 39


__ADS_3

Lama di meja makan namun nasi Dian belum juga tersentuh, hanya di aduk - aduk.


" Dian kamu melamun, tadi katanya lapar kok malah di aduk aduk makannya?"


" ah tidak bu, sedang ada pikiran saja"


" masalah apa? kan bisa cerita sama ayah!"


" sudah kok bu "


" ya sudah kalau begitu, ibu masuk dulu ya mau lihat bapak"


Dian pun menganggukkan kepala sembari melanjutkan makannya. Mina masuk ke kamar disusul dengan Dinda juga masuk ke kamarnya sedangkan Bima tetap di meja makan menunggui kakaknya.


" dek, selama kakak di sini ayah pernah sakit nggak?"


" setau Bima gak ada kak, memangnya kenapa?"


" gak ada dek, cuma kali ini ayah agak lain gitu."


" lain kenapa kak, biasalah namanya juga demam kecapean mungkin."


" hmmm iya udah kamu gak cape sana istirahat duluan!"


" aku nunggu kakak aja, lanjut aja makan nya"


Dian kembali mengunyah makanan nya. Namun kata- kata ayahnya selalu terngiang - ngiang di kupingnya dan menghantui pikirannya. Karena sejak mereka kecil ayahnya adalah orang yang kuat dan termasuk jarang sakit. Sebab sejak dia muda selalu rajin berolah raga dan itu diajarkan kepada anak- anaknya.


Akhirnya makanan Dian pun habis walau memakan waktu yang cukup lama. Padahal nasi dan lauk pauk yang dipiringnya tidak seberapa.


Sepanjang malam Dian gelisah dan tidak bisa tidur. Hingga dia memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi keteras samping. Terpikir olehnya untuk menelepon Dini saudarinya.


" iya kak ada apa?"

__ADS_1


" gak ada dek kakak gak bisa tidur, pengen ngobrol aja"


" gak bisa tidur kok nelpon Dini kak, telpon pacar kek gitu" ledek Dini dari sebrang sana.


" hhhhhh kamu ini ngeledek kakak ya"


" iya iya memangnya kenapa kak? ada masalah? harusnya kakak senang dong ayah dan ibu serta adek datang mengunjungi"


" nah itu dia dek, sesampainya mereka disini ayah demam dan gak mau makan"


" faktor umur lah kak, kan habis nyetir sendiri ya cape lah"


" kakak juga tadi mikirnya begitu tapi ada yang aneh tau nggak"


"maksud kakak aneh gimana sih?"


" gini loh dek intinya ayah kayak pamitan gitu kakak disuruh tanggung jawab sama kalian ngejagain ibu gitu"


" hush kak jangan ngadi - ngadi deh , Dini jadi takut tahu"


" Berdoa semoga semua baik - baik saja ya kak. Dini jadi khawatir"


" ya sudah dek, kakak mau coba tidur dulu ya "


" ya kak "


Dian memutus telepon nya kemudian masuk ke kamar, mencoba berpikir positif serta menarik nafas panjang. Berharap tidak akan terjadi apa - apa. Pagi ini Dian bangun kesiangan dan tidak ada yang membangunkan.


Mina dan Roby sudah di meja makan bersama Dinda juga Bima.


" Dian mana Bima?"


" masih di kamar yah, sepertinya baru tidur gitu jadi gak tega membangunkan"

__ADS_1


" oh ya sudah , biar saja kalau begitu. Biar ayah yang ke kebun teh dan lahan percontohan sekalian jalan lagi pula ayah kangen sekalian mau ajak ibu kalian. ayo lanjut makan!"


semua selesai makan , Roby dan Mina pergi keluar. Roby sudah lebih sehat sekarang. Bima ikut bersama ayah dan ibunya. sedangkan Dinda tinggal di villa bermalas malasan.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang dan Dian baru saja bangun , saat menyingkap tirai kamarnya dia kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak matahari sudah hampir sampai di puncak nya. Dian melihat jam nya


" bisa - bisa nya aku kesiangan " Dian merepet sendiri dan langsung mandi. selesai mandi perut nya terasa keroncongan dan langsung menuju meja makan. Saat dia makan Dinda lewat mau ke kamar


" dari mana dek?"


" dari depan"


" mukanya kok kusut gitu?"


" bete " Dinda berlalu kekamar dan menutup pintu. Dian melanjutkan makan nya sambil tersenyum. Dia tahu biasanya kalau mereka ke desa Dini lah yang selalu mengajaknya kesana kemari dan memanjakan nya.


Selesai makan Dian menyusul Dinda ke kamar.


" ayah sama ibu dan Bima kemana dek?"


" ke lahan dan kebun teh"


"emang ayah udah sehat?"


" udah, udah segar udah sarapan paling entar lagi pulang buat makan siang"


" hmmm adek kakak yang cantik supaya gak bete ayo siapin bekal kakak ajak keliling naik sepeda"


" betul kak?"


" betul ayo cepetan "


Dian keluar dan menyiapkan sepeda nya dan pamitan kepada Sidik untuk meninggalkan pesan. Supaya orang tuanya tidak kecarian.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2