
Tubuh Mina bergetar hebat satu kata pun tak mampu terucap dari bibirnya. kata- kata Roby sebelum mereka beristirahat adalah kata- kata atau ucapan terakhir. Air mata mina meleleh begitu saja.
Bima dan Dinda yang sudah stabdby di meja makan mulai gelisah. Pasalnya ibu mereka masih belum muncul juga.
Dinda dan Bima memutuskan untuk menyusul kekamar, tapi betapa terkejutnya mereka karna memdapati ibunya menangis sesenggukan di lantai serta memegang tangan ayahnya.
Bima mendekat namun lidahnya kelu sama seperti ibunya , saat Dinda mendekat dan melihat kondisi ayahnya maka dia menjerit histeris lalu meraung raung hingga memancing pembantunya untuk ikut datang melihat.
Lama mereka menangis hingga secara tidak sengaja telepon rumah berdering.
Bi Asih yang mendengar langsung berlari dan mengangkat telepon itu
" hallo selamat pagi dengan siapa ya?" ucapnya dengan suara bergetar. Dia pun merasakan kesedihan yang mendalam saat majikan nya meninggal dunia.
" bik ini Dian pada kemana sih semua, Dian cuma mau nanya jam berapa kemarin mereka nyampai di Jakarta? itu adek di telepon gak ngangkat begitu juga dengan ayah dan ibu." terang Dian panjang lebar namun jadi bingung dan cemas saat mendengar suara - suara aneh dibelakang bi Asih sekaligus suara Asih yang sepertinya sedang menangis. Dian begitu penasaran dan kembali bertanya
" bik ada apa, kenapa dirumah? "
__ADS_1
" anu den itu emmmmm....."
" kenapa bik yang jelas ngomongnya!"
" bapak den emmm bapak...."
" iya bik bapak kenapa? tarik nafas dulu baru ngomong bik!"
" bapak meninggal den hiks hiks hiks"
duar bagai petir di siang hari, kabar itu begitu mengagetkan Dian, sosok yang sangat dia sayangi dan hormati kini telah tiada, telepon yang dia pegang jatuh begitu saja dari tangannya . Lutut nya terasa tak mampu menopang tubuhnya sehingga dia terduduk dekat meja telepon air matanya berjatuhan tanpa mampu berkata- kata.
" den .... den.... den Dian masih di sana kan den?"....
Bima yang mendengar itu segera berlari keluar kamar lalu menutup telepon seraya mencari hp nya dikamar. Begitu mendapati hp nya dia kaget karena melihat begitu banyak panggilan tak terjawab. Bima kemudian mengambil keputusan bahwa dia akan menghubungi bibi serta kakaknya.
" Dinda tenangkan diri mu dek dan tenangkan ibu, kakak mau telepon bibi sama kak Dini dulu!"
__ADS_1
tanpa berkata apa- apa Dinda mendekati ibunya dan memeluk nya. Mina yang begitu kaget dengan kematian Roby dan menangis sejak tadi akhirnya pingsan. Maka kepanikan pun kembali terjadi, sarapan tidak jadi terlaksana keadaan rumah pagi ini benar- benar sangat kacau.
Dinda kembali histeris melihat ibunya pingsan, Bima sebagai anak laki laki yang ada di rumah belajar untuk lebih tenang mengendalikan adiknya dan meminta bantuan Asih memindahkan ibunya seraya meminta Asih supaya meminta pertolongan pada tetangga.
Begitu ibunya dipindah Dinda mulai memijat ibunya. Bima mulai menelepon bibi nya. hampir 1 jam kekacauan terjadi karena kematian Roby.
" halo Bima apa kabar, tumben menelepon jam begini?" tanya Tina melihat Bima di layar hapenya.
" Bi ,kak Dini ada?"
" ada kebetulan dia tidak masuk hari ini, mau bicara pada kakak mu lalu kenapa menghubungi bibi?" tanya Tina merasa aneh pasalnya Dini juga punya hape sendiri.
" Bima perlu bicara pada kalian berdua ini mengenai ayah" terang Bima begitu tegang.
" hemmm baiklah bibi panggil dulu kakak mu sebentar" ujar Tina dan memanggil Dini.
Kini Dini dan Tina terlihat di layar hape Bima.
__ADS_1
" ayah meninggal pagi ini, badannya masih hangat" terang Bima singkat lalu menangis setelahnya membuat Tina dan Dini membelalakkan matanya.
...****************...