
"Revan," satu alisnya menukik ke atas, mengisyaratkan perasaan nya yang jengkel sebab harus mengoreksi caraku memanggilnya untuk ke sekian kali.
Aku kemudian mengambil nafas lebih panjang dan memantapkan suaraku
" aku bersedia mengambil tawaran mu revan," sejak ayahku meninggal kondisi di keluarga ku tidak sama lagi semuanya terasa lebih mudah dahulu. Kami punya keintiman dan kekompakan satu sama lain, saling menjaga, saling mengisi, jenis kasih sayang yang sanggup membuat orang-Orang lain iri karenanya, tetapi status itu mendadak harus berubah menjadi sesuatu yang kenangannya pernah ku banggakan.
Ibuku kembali menikah selepasnya Meninggalkan aku dan radit tujuh belas tahun Lalu untuk menatap hidup bersama suaminya Pindah ke jogja dan mengabaikan kami di jakarta, Hanya menelpon sesekali sebagai bentuk komunikasi Formalitas antara kami Menanyakan kabar Lantas mengirim uang yang jauh dari kata cukup.
Aku selalu berpikir bahwa radit Yang secara teknis lebih tua Empat tahun dariku akan Jauh lebih tangguh untuk menghadapi problema Dan realita Namun mental nya Justru lebih hancur dalam Kategori yang sangat buruk Keahlian terampil yang dia punya Hanya mabuk dan memukuli orang di klub,Mengutuk ibuku, memaki ketik adilan Nasib.
__ADS_1
Dulu dia tidak begitu, semenjak ayah meninggal sifat nya berubah drastis hanya mabuk pekerjaan nya.
" benarkah laut setuju,? Tanya revan memastikan."
Aku mengangguk Dan menangkap kilat ganjil di sepasang mata revan Yang lagi lagi mengerling padaku, itu sontak membuat detak jantung ku melesat gugup Seolah -olah aku baru saja menjatuhkan diriku dari pinggir tebing secara sengaja, apa yang sudah ku lakukan ?
Aku akan bercinta dengan orang asing. Orang asing yang menawan mengapa revan membuat ku terperangkap dalam dilema antara tujuan mulia, membebaskan radit dan perasaan takut atas langkah spontan dan praktis yang menutupi akal sehat ku.untuk bekerja yang semestinya ?
"Sempurna, desisnya menanggapi.sementara satu tangan nya merogoh telpon seluler dari balik saku celana riffed jeans nyadan melakukan panggilan pada seseorang.
__ADS_1
Aku menunggu revan selesai mencoba menyimak percakapan nya dengan aksen yang jarang ku dengar itu, dan belum memahami satu katapun dari pembahasan mereka. Bicaranya kelewat cepat dengan intonasi yang sengaja direndahkan seperti sinyal radio yang mendengung mencari frekuensi. Aku yakin dia tidak berharap bahwa aku akan mengerti atau mengomentari logat Skotlandia nya yang unik sekarang.
" kakak mu akan menghirup udara segar yang di rindu kan nya, aku sudah mengirim orang orang ku untuk mengurus nya di kantor polisi, informasi mengenai korban pengeroyokan itu akan mereka rinci padaku nanti nya," kata revan masih dengan ekspresi datar dan dinginnya seperti yang sudah sudah.
mengapa raut wajah revan yang kaku sama sekali tidak mempengaruhi daya tariknya ? pesona pria itu terasa begitu membuai, tetapi mematikan. jenis ketertarikan yang begitu bertentangan pada prinsip, sesuatu yang mustahil berlaku untuknya. penggambaran paling irasional yang pernah ada...
aku biasa membenci pria - pria dingin yang dominan seperti revan, sifatnya mengingatkan ku pada johan ayah tiriku yang merampas ibuku dari kami, setumpuk daftar ambisi nya yang mampu ku baca lewat selutuh sifat nya yang menyebalkan. sama sekali bukan sifat orang yang kusuka...
...****************...
__ADS_1
selamat membaca all, semoga suka dengan karya pertama ku....