
"Maaf pak revan ingin minum apa...
"Panggil Revan saja kalau di luar kantor jangan pakai embel-embel." ucapan revan
"mengapa harus revan saja,? jawabku yang kepo maksimal...
dia seketika menatapku dan berdeham...
****************
mengapa dia membuat hubungan kami seperti seorang teman lama yang kebetulan berjumpa di sebuah restoran prancis pada hari sabtu ? mengapa dia memandangiku dengan cara yang membuatku resah oleh kesan pengimindasinya yang menyebalkan ?
"M'Mawar Xaviera ," balasku sambil menjilat bibir dengan kikuk sebab berinteraksi dengan orang-orang baru sama sekali bukan keahlian dasar yang ku punya.
"mawar xaviera," desis revan yang masih mengunci Tatapannya padaku, suara revan yang parau sontak menciptakan kegelisahan yang mendebar di dadaku.
aku meraih cangkir ku dengan tangan yang bergetar dan menyesapnya cepat, menyembunyikan semburat pada wajahku di balik kopi yang sudah dingin dan melupakan eksistensi pria itu untuk sejenak.
"Apa kita sepakat nona Xaviera,?"
to dong nya lagi dengan sorot mata yang menyala oleh ambisi.
__ADS_1
aku spontan menaruh cangkir ku ke tempat semula dan mengoreksi Devi
revan menunggu, sepasang iris coklatnya
yang gelap dan selaras dengan warna rambutnya itu menyipit.
menimbulkan sensasi cemas yang menjadi-jadi di perutku, sial nya aku mendadak merasa mual.apa aku telah terserang gejala GAD dan harus mengambil sesi psikoterapi.
"aku tidak tahu tuan revan,"
maksud ku, revan. bahkan kita tidak saling mengenal satu sama lain dan kau tiba-tiba datang menegosiasi kan pertolongan bagi radit.
aku belum.pernah terjebak dalam situasi yang membuatku harus memilih antara menjerumuskan diriku sendiri atau menyelamatkan kakak angkat ku yang tolol itu dari kesalahannya.
mawar,bukan kah kau tidak punya banyak pilihan...
aku benci kalimat Revan yang terakhir, di satu sisi ia memang benar tetapi aku tidak se naif yang pria itu pikir. pertukaran antara sesuatu yang dia ingin kan dan menebus aksi anarkis radit adalah hal yang mustahil.
meskipun aku lah keluar satu-satu nya yang bisa membantu dia.
"aku tidak yakin tuan revan,"
__ADS_1
maaf maksud ku revan, ralat ku untuk ke dua kali nya.
"Apa kau tersinggung,?
"tidak sama sekali, aku orang yang diplomatis, tetapi aku juga berpikiran terbuka."
Revan mengangkat satu alis nya yang tebal, dan aku bersumpah baru saja aku melihat bibirnya menyeringai, samar seperti upaya nya dia menyembunyikan dosa fantasi yang coba kututupi dalam pikiran ku, namun. usaha itu gagal karena segenap hormon pubertasku
menyerbu dari segala penjuru.
revan merupakan definisi dari sempurna
tubuh nya profesional terisi penuh dengan otot-otot yang padat,dia jelas penyuka olahraga. warna kulit nya eksotis dan sehat
jenis pria yang menggemari banyak aktivitas di bawah sinar mata hari.
membiarkan sinar ultra violet puas menjilati setiap jengkal inchi tubuh nya, menjadi kan nya terbakar untuk menyisipkan satu lagi nilai tambah yang membuat nya lebih mempesona dari yang seharusnya.
sepasang iris revan sama kelam nya seperti nuansa langit pada waktu malam, aku mencoba mendefrisikan gradasi yang tepat sebagai pria paling panas dari generasi milenial itu. tetapi revan tidak membutuhkannya karena dia sangat ideal, garis hidung nya yang mancung dan tinggi bulu mata nya yang lebat dan lentik,segala sesuatu yang ada pada dirinya terlihat pass....
...****************...
__ADS_1
Selamat membaca...