
"ANDA TIDAK MENGENAL TUHAN HA???"
Teriakan Liza membuat Adit membekap mulut gadis itu.
"Emmpp..." Gumam Liza akibat ulah Adit.
"Diam, baru aku lepas" Perintah Adit yang langsung di angguki Liza.
"Uhhh..." Liza mengeluh, memang gila Dikter yang satu ini pikir Liza.
Tanpa ada pembicaraan lagi antara Adit dan Liza setelah kejadian tadi. Adit langsung menjalankan mobilnya melaju dengan kecepatan sedang ke RS Harapan Bangsa.
Liza yang melihat jalan yang dilewati bukan menuju kampus pun mulai melayangkan protesnya.
"Pak Dokter, kita mau kemana?" Tanya Liza yang langsung mendapat tatapan tajam Adit.
"Aku inggin berkerja" Ucapnya dinggin.
"Ya Allah, untung hari ini hari kamis" Lirih Liza yang membuat Adit mengerem mendadak.
"Hentikan mantramu" Ucap Adit sambil mencekram kuat leher gadis itu.
"Hen-ti-kan" Ucap Liza terbata.
Adit yang melihat wajah gadis itu memerah, langsung menghentikan aksinya.
"Gila, anda benar-benar gila pak Dokter" Ujar Liza kesal.
Namun Adit hanya diam, hingga terdengar bunyi kelakson dari belakang menyadarkannya kalau telah berhenti ditenggah jalan.
Cukup lama sunyi, Liza yang memang tidak bisa diam akhirnya memulai berbicara lagi.
"Pak Dokter, kita harus kekampus"
"Aku bukan supirmu" Ucap Adit ketus.
"Uhhhffff...." Helaan nafas Liza terasa tersangkut, dia harus ekstra sabar menghadapi Mahluk di sampinghnya.
"Pak Dokter, hari ini anda akan menjadi Dosen" Akhirnya kata itu mampu terucap setelah perang didalam hati Liza.
Adit hanya memautkan alisnya, dia baru teringgat akan perjanjian yang telah disepakati dengan Profesor Riduwan.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan ocehan gadis disampingnya Adit memutar mobil guna menuju Fakultas Kedokteran yang akan menjadi kampus tempatnya menjadi Dosen pembimbing.
Liza yang melihat jalanan pun tersenyum karna dia tahu kalau Adit sudah merubah jalur pikirannya.
"Alhamdulillah..." Ucap Liza bersyukur karna sebentar lagi akan tiba di kampus.
"Hentikan mantramu" Ucap Adit ketus.
"Ya Allah, pak Dokter yang terhormat apa anda tidak bisa membedakan yang mana mantra dan yang mana kalimat tahmid?" Tanya Liza heran akan kelakuan Adit.
"Aku tidak memgerti apa yang kamu bicarakan"
"Berati anda bukan seorang muslim"
"Bukan urusanmu" Ucap Adit sambil memakirkan mobilnya, dab setelah itu keluar meninggalkan Liza seorang diri.
"Dasar Laknat tullah" Teriak Liza memaki Adit yang sudah menjauh.
.
.
.
Adit terus melangkahkan kakinya, minggalkan Liza yang teriak memakinya. Tujuan utamanya saat ini menemui Raeshya adik Profesor Riduwan.
Ketika Adit sudah didepan pintu ruangan Raeshya dia mendengar sesuatu yang aneh.
"Jangan lakukan itu" Lirih seseorang dari dalam sana.
"Tolong hentikan"
"Aku tidak tahan lagi"
"Aku mohon"
Adit yang penasaran pun akhirnya membuka pintu tanpa mengetuknya dan kebetulan sekali pintunya tidak dikunci.
"Krekkk...."
Perlahan tapi pasti, Adit melebarkan mata dan telinganya melihat sekeliling ruangan yang nampak sepi.
__ADS_1
Hingga suara Raeshya mengejutkannya.
"Apa anda sudah beralih Profesi pak Adit?" Tanya Raeshya sambil menatap tajam Adit.
"Apa yang kamu lakukan" Ucap Adit santai sambil memuju sofa dan mendudukan pantatnya disana.
"Kau..."
"Apa kamu melakukan hal mesum?" Tanya Adit menuduh Raeshya.
"Apa sekarang anda inggin menjadi dedektif?" Tanya Raesyha sambil duduk disamping Adit.
"Bukan urusan mu"
"Kalau begitu anda pergi dari sini dan masuk kelas anda" Perintah Raeshya yang terang-terangan mengusir Adit.
"Aku hanya Dosen pendamping" Ucap Adit santai.
Raesyha tersenyum sinis menatap Adit.
"Apa anda melupakan isi kontrak?" Tanya Raesyha dengan nada mengejek.
Adit menautkan alisnya berfikir, karna kemarin dia hanya mendatanggani kontra itu tanpa membacanya.
Raeshya yang melihat mimik wajah Adit yang tidak sedap dipandang itupun akhirnya melemparkan map berwana cokat yang ada diatas meja kepada Adit.
Adit yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun terkejut, dia dengan sigap menangkap map itu dan membaca isinya.
"Apa"
"Kalian inggin memerasku?"
.
.
.
...Bersambung......
Dukung author receh ini dengan like and comen ya😇
__ADS_1