
"Apa yang kalian lakukan?"
Deg… .
"Sial!"
Umpatan kekesalan Hendrik lantunkan didalam hati ketika melihat kedatangan Dody, lelaki itu membuat dirinya merasa berada di sengat oleh listrik bertegangan tinggi seiring terkejutnya. Raut wajah Hendrik berubah memerah.
Dody mendekati kedua orang itu, karena penasaran akan adanya Bram disana. Akhirnya ia bertanya, "Sudah agak mendingan?"
"Tidak!" jawab Hendrik dengan ketus. Namun, malah mendapatkan gelak tawa dari Dody. Dokter itu yang melihat wajah Hendrik merasa geli.
"Kamu lagi jatuh cinta, Drik?" ejek Dody yang membuat lelaki itu naik pitam.
"Siapa yang jatuh cinta? Yang ada gue lagi terkena serangan jantung dibuat loe!" jelas Hendrik semakin kesal.
Menurutnya Dody sama gilanya dengan Adit, sama-sama menjadi Dokter dan memiliki sifat yang jahil. Namun, lelaki brewokan itu tidak menjadi seorang pembunuh seperti Adit. Hanya itu yang membedakan keduanya.
"Kirain? Habisnya kalian mojok disini."
"Maaf, Tuan Dody. Saya hanya menjenguk Tuan Hendrik, berjaga-jaga saja. Takut jika nafasnya hilang dan tidak ada siapa-siapa."
Hendrik yang mendengar penuturan Bram semakin dipojokkan, ditambah gelak tawa Dody yang semakin menjadi.
"Loe kalau mau ketawa? Diluar, Dod! Ini ruangan gue! Jangan bikin rusuh," usir Hendrik terang-terangan saking kesalnya akan kelakuan lelaki itu.
"Aku mau periksa, Kamu! Emang, kamu nggak mau cepat keluar dari sini?" tanya Dody sambil pura-pura mengecek cairan infus yang berada di tangan Hendrik.
"Tuan Hendrik betah disini, Tuan Dody. Ini 'kan ruangan VIP."
Dody menatap Bram sambil mengangguk-angguk, sebab ia juga penasaran kenapa Hendrik mendapatkan ruangan VIP. Sedangkan dirinya ditaruh di kelas pasien biasa.
"My heart!" teriak Dokter Asmara mengagetkan mereka. Dengan setengah berlari, wanita itu menghampiri kekasihnya. Dia yang mendapatkan informasi bahwa lelaki yang dicari-carinya berada diruangan itu segera menghampiri.
Dody hanya tersenyum melihat kedatangan sang kekasih sambil membuka kedua tanganya agar wanita itu masuk dalam pelukannya.
"No pacaran! Kalau kalian mau pacaran? Silahkan keluar!" ujar Hendrik yang tidak suka kedatangan kekasih Dody itu.
__ADS_1
Namun, Asmara tidak peduli. Dia tetap menghampiri Dody dan memeluk lelaki itu tanpa rasa malu.
Bram yang melihat hal itu segera pamit undur diri, sebab ia tidak ingin ketularan gilanya pasangan kekasih itu.
Hendrik yang paling naas nasibnya, sebab ia tidak bisa keluar. Keadaannya masih lemas apa lagi selang infus yang belum dilepas membuat gerak lelaki itu terhalang.
"Dody! Plis, jangan buat gue teriak kalau kalian pasangan mesum!" ancam Hendrik yang sudah tidak tahan lagi dengan kemesraan kedua orang itu.
"My heart, ayo kita keruanganmu. Ingat! Kamu masih harus istirahat," pinta Asmara dengan manja sambil bergelayutan di lengan sang kekasih.
"Woy! Jangan pacaran di rumah sakit! Nanti, malah kalian jadi sakit!"
Dody hanya tertawa mendengar ucapan Hendrik, sambil mengajak kekasihnya duduk di dekat ranjang Hendrik. Perasaan. Dody sangat tidak puas kalau belum membuat lelaki itu semakin marah.
"Aku tu baik, Drik. Jeguk teman yang sakit, apalagi memeriksanya sekalian. Siapa tahu nanti bisa dipindahkan keruangan mayat."
Setelah mengatakan hal itu gelak tawa Dody pecah lagi, terlebih wajah Hendrik yang memerah akibat kesal akan ucapannya.
"My heart! Ayo kita ke ruanganmu! Aku nggak mau kamu tambah sakit?" pinta Asmara membujuk sang kekasih agar mau keluar dari tempat itu. Karena wajah Hendrik yang tidak bersahabat menurutnya.
"Masa, Dokter kayak loe bisa sakit?" ejek Hendrik ingin membalas perbuatan Dody.
Dody teringat akan alasan kenapa dia datang keruangan Hendrik, dengan lemah lembut. Dody menyuruh kekasihnya untuk kembali duluan sebab ia akan memeriksa keadaan Hendrik.
Asmara protes akan perintah sang kekasih, sebab keadaan Dody yang masih masa pemulihan dan belum boleh untuk menjalankan tugas.
"Aku hanya ingin mengecek dan sekaligus bercerita dengan, Hendrik! Ini urusan lelaki, tunggu aku di kamar," jelas Dody.
Dengan wajah yang tidak sedap dipandang, Asmara mengiyakan perintah kekasihnya itu dan melangkah keluar. Namun, dengan catatan kalau kekasihnya tidak boleh lama.
Setelah kepergian Asmara, Dody mulai membuka pembicaraan dengan Hendrik. Walaupun tidak akrab, akan tetapi Dody mengenal baik Hendrik. Sebab, sudah beberapa kali mereka bertemu dengan yang tidak terduga. Apalagi kalau bukan ulah Adit tentunya.
"Loe sakit apa, Dod?" tanya Hendrik penasaran.
"Sama kayak kamu! Tapi, gue agak mendingan. Soalnya langsung segera ditangani."
Hendrik seras tidak percaya dengan apa yang ia dengar, sampai mulutnya menganga.
__ADS_1
"Hati-hati, nanti kemasukan lalat," tegur Dody sambil tersenyum melihat ekspresi Hendrik yang lucu menurutnya.
"Elo serius? Enggak lagi ngefrank gue 'kan?" tanya Hendrik.
Dody hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, sambil bersandar di kursi yang ia duduki. Sebenarnya lelaki itu juga merasa tidak percaya akan apa yang terjadi.
Adit memang sudah gila dan lepas kendali sampai menembak dirinya yang notabennya orang penting buat lelaki itu.
"Kamu tahu, Drik! Selama ini aku selalu menuruti permintaan Adit dan menjalankan misi dengan baik. Tapi, kenapa ya? Apa yang aku lakukan seperti tidak ada artinya buat dia?"
Hendrik tertegun akan apa yang diucapkan oleh Dody, seakan menemukan sebuah ide yang luar biasa. Hendrik menggosokkan kedua telapak tangannya, dia biasa menggunakan Dody sebagai jembatan untuk melancarkan aksinya nanti.
"Elo curhat atau apa sama gue? Jika, loe cari solusi? Gue punya ni! Soalnya masalah kita tu sama, Dod. Yaitu Adit."
Dody menatap heran Hendrik, ia coba memikirkan apa yang dikatakan oleh Hendrik.
"Solusi apa? Aku takut sama Adit, Drik. Makanya, aku nggak pernah macam-macam," jelas Dody dengan jujur, apa penyebab dia patuh akan Adit.
Hendrik membuang nafas kasar, mau Wawan, Bram, Dody. Apalagi dirinya, semua sama-sama takut kepada Adit. Lelaki itu memang benar-benar memiliki aura yang sangat mengerikan.
"Gue sebenarnya mau lepas dari Adit, Dod. Gue takut mati konyol dibuatnya, Wawan juga pengen lepas dari Adit. Kami ingin hidup normal seperti orang lain, tadi Bram juga bilang mau lepas dari Adit."
Dody terkejut akan penuturan Hendrik, dengan perasaan yang tidak menentu ia meminta penjelasan Hendrik tentang apa yang baru saja dia katakan.
Akhirnya Hendrik menjelaskan apa yang dia bicarakan kepada Wawan dan Bram. Kalau mereka ingin lepas dari Adit, bukan berarti menghinanti. Namun, mereka takut akan kegilaan lelaki itu. Sebab, mereka masih ingin hidup. Belum mau mati ditangan seorang pembunuh seperti Adit.
"Aku nggak yakin bisa lepas dari Adit? Kamu tahu 'kan jika instring Adit sangatlah kuat, yang ada kita hanya akan mati mengenaskan!"
Dody sangat tahu bagaimana Adit membunuh orang-orang yang menurut lelaki itu menyebalkan. Dody tidak ingin masuk dalam daftar mangsa Adit.
"Lalu, elo pikir dia mau melepaskan kita? Ingat kejadian yang kita alami saat ini!"
Deg…
......***Bersambung •••......
...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇***...
__ADS_1