
"Apa itu?" tanya Adit dengan penasaran, karena menurutnya uang adalah segalanya dan tidak ada orang yang akan menolak benda itu.
Liza tersenyum mendengar pertanyaan lelaki di depannya, ia telah menemukan cela di hati Adit yang mungkin bisa ia masuki.
"Cinta dan kasih sayang, Pak Dokter."
"Hahaha… ," tawa renyah Adit seolah-olah mengejek jawaban Liza.
Namun, gadis itu hanya diam untuk sesaat dan kemudian bertanya kepada Adit, "Dibagian mana yang lucu, Pak Dokter?"
Tawa Adit sirna seketika ketika Liza bertanya, lelaki itu menatap nanar gadis yang kini tengah menatapnya intens.
"Kamu masih kecil! Apalagi pengalaman hidup yang sudah dipastikan hanya secuil. Jadi, jangan katakan apapun tentang cinta dan kasih sayang kepadaku," jelas Adit meremehkan Liza.
"Cinta dan kasih sayang yang aku miliki dan berikan bukan kepada lawan jenis saja. Cinta dan kasih sayang yang aku maksud adalah cinta dan kasih sayang orang tua kepada anaknya dan sebaliknya."
Adit bungkam seketika setelah mendengar jawaban yang keluar dari gadis dihadapkannya, hingga tiba-tiba penglihatan Adit kabur dan semua terlihat gelap.
"Ada apa dengan diriku," batin Adit.
.
.
.
Adit mengerjapkan kedua matanya menyesuaikan pencahayaan yang masuk, ternyata tadi dia pingsan. Keadaan tubuh Adit yang memang masih ngedrop ditambah hawa dingin dini hari yang menusuk tulang membuat seorang Aditiya tumbang setelah membuat masalah yang besar.
Untung Liza sudah meminimalisir semua tindakan Adit, gadis itu telah mengambil serum penawar dari racun yang Adit tembakan kepada korban-korbannya. Kemampuan Liza bukanlah sesuatu yang biasa dan membuat gadis itu sering diincar untuk dijadikan tameng yang paling berharga.
Andai saja Adit mengetahui kemampuan yang luar biasa gadis itu, mungkin dia tidak akan pernah melepaskan Liza untuk selamanya.
"Aduh, ini kepala kenapa sakit," lirih Adit sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan berdenyut nyeri.
"Kamu sudah sadar? Aku pikir kamu sudah dimusnahkan malam tadi."
Adit menatap nyalang wanita yang datang kedalam kamarnya sambil mencerocos dengan pedas itu.
"Seharusnya dimusnahkan itu kamu! Bukan aku!" maki Adit dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Nanti saja marah-marahnya, aku juga belum mau melihat kamu mati!" ejeknya dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Sialan!"
"Simpan tenaga anda Pak Dokter, melayani tante Raeshya tidak akan pernah ada habisnya," ujar Liza sambil masuk kedalam kamar Adit.
Gadis itu meletakkan nampan berisi semangku bubut dan air putih hangat untuk lelaki yang kini tengah berusaha untuk duduk bersandar di tepi ranjang.
"Jangan dipaksakan jika tidak bisa."
Adit hanya membuang nafas kasar mendengar nasehat Liza yang menurutnya terlalu meremehkannya.
"Anda hanya Manusia biasa, Pak Dokter. Jangan pernah merasa lebih kuat ataupun hebat," jelas Liza yang tahu akan apa yang dipikirkan lelaki itu.
"Hanya kamu Liz, yang kuat menghadapi lelaki edan ini," celetus Raeshya sambil duduk disamping ranjang Adit dengan tatapan sinis kepada lelaki itu.
"Apa?" hardik Adit dengan mata melotot.
Liza menatap Raeshya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Tante, bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Liza ragu-ragu.
"Kalian tidak boleh berduaan! Aku tidak membiarkan hal itu," jelas Raeshya dengan tegas.
"Emang kamu pikir aku ada rasa sama gadis ini?" tanya Adit dengan nada mengejek membuat Raeshya naik pitam.
"Hey, dedemit! Kamu pikir keponakanku ini mau sama kamu? Hah? Liza sangat berharga daripada mutiara didalam lautan," balas Raeshya dengan menggebu-gebu.
"Hahaha… ," Adit tertawa mendengar ucapan Raeshya yang menurutnya sangat lucu.
"Tante, tolong panggilkan Bunda Hawa kesini," pinta Liza agar Raeshya mau pergi dari sana. Karena keberadaan wanita itu hanya memancing api kemarahan seorang Adit.
"Bundaku sudah baik? Bagaimana dengan Ayahku?" tanya Adit penasaran.
Adit yang belum sempat mencari tahu tentang penyakit yang menimpa kedua orang tuanya apa lagi menemukan penawar. Dia yang terlalu sibuk akan urusan Pak Malik, Raeshya dan Liza yang menghilang dan menyekap Pak Darma yang sampai saat ini belum ia tuntaskan urusan mereka.
Namun, adanya Raeshya menandakan bahwa Pak Darma mungkin sudah ditukar dengan wanita menyebalkan itu. Pikir Adit tentunya.
"Baiklah, tapi hati-hati sama buaya ini! Jangan sampai lengah dan dimakan bulat-bulat," jelas Raeshya sambil bangun dan berlalu meninggalkan Liza bersama Adit guna memanggil Bunda Hawa, ibu Adit.
"Tolong anggap saja angin lalu, tante memang begitu," jelas Liza merasa tidak nyaman akan mulut pedas sang tante.
"Aku bukan lelaki BAPER! Tolong digaris bawahi, jika aku tidak suka dengan seseorang? Maka lebih baik dimusnahkan saja," jawab Adit enteng tanpa beban sama sekali membuat Liza mengerjapkan kedua matanya berdoa agar lelaki yang kini tengah menatapnya dalam.
__ADS_1
"Aku lapar!" bentak Adit yang melihat Liza hanya diam saja dari tadi. Tanpa rasa malu dan segan, lelaki itu mengatakan hal tersebut membuat Liza tersenyum kecut.
Liza meletakkan nampan yang ia bawa diatas pangkuan Adit, lalu membiarkan lelaki itu menyantap bubut buatannya yang telah diberi suplemen. Gadis itu berharap tenaga Adit kembali seperti sedia kalaa agar bisa menyelesaikan semua masalah yang telah dibuat oleh lelaki itu.
"Baca doa," pinta Liza ketika melihat Adit yang mau menyuap bubur buatannya.
Adit tertegun sesaat, akan tetapi segera membuang wajahnya dari Liza yang masih menatapnya intens.
"Aku mau makan, bukan mau mengadakan konser!" balas Adit ketus.
"Jangan ditiup," pinta Liza ketika Adit yang meniup bubur yang ingin dimakannya.
"Ini panas! Makanya aku tiup!" protes Adit sambil melotot ke arah Liza.
"Tidak baik meniup makanan, Pak Dokter. Udara yang ada di dalam mulut kita adalah carbon, kata lain adalah racun. Lalu Pak Dokter mau memakan makanan yang sudah terkontaminasi racun tersebut?"
Adit mungkam seketika mendengar jawaban dari Liza, tentu lelaki itu tahu akan hal itu. Adit yang memang seorang Dokter dan sudah banyak melakukan survei.
"Bunda!" panggil Adit ketika melihat sang ibu. Perhatian Liza juga ikut teralihkan dan menatap wanita paruh baya yang kini mendekat dengan lelehan air mata.
Ibu Hawa langsung memeluk Adit membuat lelaki itu membeku dibuatnya.
"Bunda, minta maaf, Dit! Bunda memang tidak berguna sebagai Ibu buat kamu," lirih Hawa yang merasa gagal menjadi orang tua.
Liza yang melihat keadaan tersebut segera menyingkirkan nampan yang masih dipangku oleh Adit agar ibu dan anak itu lebih leluasa meluapkan rasa yang pernah ada.
Bagaimanapun Ibu Hawa adalah ibu dari Adit, wanita itu memiliki cinta dan kasih sayang tanpa syarat kepada sang anak. Mau seperti apapun keadaan dan perilaku sang anak, yang namanya ibu akan tetap memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan anaknya.
"Bunda memang salah! Bunda memang tidak bisa dimaafkan!" maki Adit marah.
"Hentikan!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...
__ADS_1