Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Siapa Liza Sebenarnya


__ADS_3

"Jawaban apa yang bisa aku katakan?" batin Adit. 


Profesor Riduwan sudah menduga seperti apa reaksi yang akan didapatkan. 


"Saya tidak perlu jawaban dari kamu! Karena saya sendiri yang akan mencari jawabannya."


Setelah mengatakan hal itu, Riduwan pergi meninggalkan Adit sendirian dengan sejuta pertanyaan yang membekas di otaknya. 


"Kenapa semua orang bisa dengan mudah mengetahui rahasia yang selama ini aku simpan rapat-rapat dan mereka mengetahuinya dari gadis bar-bar itu?" batin Adit penasaran. 


.


.


.


Ketika Riduwan baru keluar dari kamar Adit, ia telah dihadang oleh sang putri. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Riduwan sambil menatap sang putri. 


"Ikut aku, Yah," jelas Liza sambil berlalu. Profesor Riduwan mengikuti langkah Liza hingga ke ruangan tamu. 


Disana ada Pak Adam dan Ibu Hawa, ibu Adit itu menangis sambil memeluk suaminya. 


Ada perasaan tidak nyaman ketika melihat pandangan itu, akan tetapi Riduwan hanya diam dan duduk di samping putrinya. 


"Jadi, Yah. Bagaimana dengan Pak Dokter?" tanya Liza sambil menatap Profesor Riduwan meminta penjelasan. 


Helaan nafas panjang terdengar berat dari lelaki itu, sambil bersandar di sofa dan mengangkat wajahnya menatap langit-langit ruangan tersebut. 


"Adit masih tidak mau mengakui perbuatannya," jelasnya. 


Tangis Ibu Hawa semakin pecah setelah mendengar hal itu hingga wanita itu pingsan. Terlebih keadaan fisiknya yang belum terlalu pulih setelah koma membuat tubuh wanita itu kembali ngedrop. 


Pak Adam membawa istrinya masuk kedalam kamar mereka, tidak lupa Liza mengingatkan Pak Adam meminum obat dan ikut istirahat juga agar tidak ikut ngedrop. 


Lelaki itu hanya mengangguk dan mengerjakan apa yang dipinta oleh Liza, sebab bagi Adam gadis itu bagaikan malaikat penyelamat. 


Ketika, Pak Adam dan Ibu Hawa telah pergi. Riduwan segera membuka pembicaraan dengan putrinya. 


"Kamu sengaja menanyakan hal itu?" tanya Riduwan dengan yakin akan tindakkan putrinya yang langsung menyinggung tentang masalah Adit. 

__ADS_1


"Yah, aku hanya ingin Pak Dokter bertanggung jawab. Lagian kedua orangtuanya sama sekali tidak mengetahui akan hal itu selama bertahun-tahun."


Riduwan hanya menatap sekilas putrinya dan kembali menundukkan kepalanya, berfikir. Bagaimana caranya agar Adit mau mengakui kejahatannya dan bertanggung jawab. 


"Ayah, tidak perlu memikirkan hal ini! Biar aku yang urus," jelas Liza yang tahu akan apa yang dipikirkan oleh ayahnya itu. 


"Mudah berkata, sulit melakukan."


Liza tergelak mendengar jawaban ayahnya itu, lelaki yang sangat disegani banyak orang ternyata bisa melucu pikirnya. 


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Riduwan jengah akan tingkah putrinya.


"Enggak apa-apa, cuma lagi bayangin bagaimana Ayah dan Bunda bertemu. Hingga menikah."


Raut wajah Riduwan berubah setelah mendengar pertanyaan putrinya itu, ada gurat ketidaksukaan jika menyinggung masalah itu. 


"Aku tahu, jadi tidak perlu dijawab," tambah Liza yang sudah memahami karakter ayahnya. 


Riduwan segera menatap putrinya dengan intens, sambil berpikir bagaimana kemampuan Liza yang sangat luar biasa. Walaupun ia tahu jika kemampuan Liza didapat dari sang istri, Hayati. 


Namun, ada hal yang selalu mengganggu pikiran Riduwan. Yaitu kemampuan istri serta putrinya yang bisa melihat sesuatu yang tidak nampak. Hal itu merupakan kejadian yang tidak logis. 


Sama seperti Liza menganalisa penyakit yang menyerang kedua orang tua Adit. Hanya dengan melihat tubuh kedua orang itu, Liza sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi dan bagaimana menyembuhkan mereka. 


"Jangan terlalu dipikirkan, nanti bisa stres!" ujar Liza mengingatkan ayahnya yang memikirkan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan nalar Manusia. 


"Memang kamu tahu apa yang Ayahmu ini pikiran?" tanya Riduwan.


"Iya, tahu lah. Makanya, aku bilang jangan terlalu dipikirkan," jelas Liza seraya mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik benda pipih itu. 


"Semuanya seperti kebohongan, analisa yang kamu ucapkan tidak berdasar! Akan tetapi, itu real  terjadi."


Riduwan berusaha keras ingin memecahkan hal ini, akan tetapi otaknya masih belum menemukan jalan keluar. 


"Ini, saja yang Ayah pikirkan," kata Liza seraya menyerahkan ponselnya. 


Riduwan mengambil dan melihat layar ponsel, ternyata putrinya memberikan sebuah artikel dalam bentuk word diponselnya. 


Lelaki itu membaca dengan serius apa yang tertulis di sana, ekspresinya berubah-ubah seperti bunglon. Ada beberapa fakta yang ditemukan olehnya dan menatap kearah sang putri. 


"Apa semua ini benar?" tanya Riduwan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. 

__ADS_1


Liza hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan ayahnya itu. Tiba-tiba, gadis itu terdiam dan menutup matanya.


Keringat mengucur deras dari wajah gadis itu, Riduwan yang melihat hal keadaan putrinya hanya diam memperhatikan. Dia tahu saat ini sang putri tengah menggunakan kemampuan rahasianya, sebuah kemampuan yang tidak logis buat dirinya sebagai profesor sekalipun. 


Kemampuan melihat sesuatu yang akan terjadi, hingga melihat keadaan suatu tempat yang jauh dari penglihatan mata. 


Tidak ada ilmu apapun yang bisa menjelaskan hal itu, akan tetapi apa yang nanti dikatakan oleh purtinya itu benar-benar terjadi. Sampai kasus Adit yang tidak diketahui oleh banyak orang bisa Liza bongkar dengan mudah. 


Ekspresi Liza yang sangat mengkhawatirkan membuat Riduwan menyadarkan sang putri, wajah gadis itu memerah dengan bibir yang membiru. Karena takut terjadi apa-apa dengan putrinya, sebab sebelumnya pernah terjadi hal seperti ini dan cara yang paling efektif adalah menyadarkan Liza segera mungkin. 


"Liza! Liza!" Riduwan memanggil-manggil nama putrinya seraya menggoyangkan tubuh gadis itu. 


Namun, tidak ada respon sama sekali, hingga berkali-kali Riduwan memanggil nama sang putri dengan keras sampai menarik perhatian yang lain. 


Pak Malik dan Raeshya yang berada di dapur segera berlari ke ruangan tamu. Kedua orang itu yang tengah makan dikagetkan oleh teriakkan Profesor Riduwan yang memanggil-manggil nama Liza. 


"Ada apa dengan Liza, Bang?" tanya Raeshya dengan panik dan mendekati keponakan.


"Liza!" ujar Riduwan seraya menunjuk Liza yang masih diam. 


"Liza! Liza!" panggil Raehsya seraya menggoyangkan tubuh keponakannya dengan kuat hingga gadis itu tersentak dan membuka mata. 


Terlihat dengan jelas raut wajah Liza yang tidak bersahabat, Pak Malik yang melihat keadaan gadis itu menduga ada sesuatu yang salah dengan gadis itu. 


"Kamu kenapa, Liz?" tanya Raeshya dengan panik. 


Nafas Liza yang tidak beraturan dan wajah yang pucat pasih dengan bibir yang membiru seperti mayat.


"Pak Dokter!" teriak Liza dengan histeris sambil meraung-raung tidak jelas.


Riduwan yang melihat keadaan sang putri segera memeluk gadis itu yang terus meraung sambil menangis. 


"Tenang, Sayang. Ayo beristighfar," ujar Riduwan seraya mengelus punggung sang putri agar tenang. 


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" 


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...Dukung author receh ini dengan  like end comen ya 😇...


__ADS_2