
Setelah di dalam mobil Adit membuang nafasnya kesal, dia benar-benar geram akan Liza yang tidak pernah berhenti mengucapkan mantra-mantra yang entah apa kegunaannya menurut sorang Adit.
Adit segera menghidupkan mesin mobilnya dan keluar dari halaman rumahnya menuju tempat kediaman pak Darma, dirinya harus membuat perhitungan dengan bapaknya Desy itu.
Menganggu seorang MP maka Siap-siap berakhir mengenaskan. Adit tersenyum devil memulai aksinya, banyak rencana yang sudah memenuhi otaknya.
Adit telah memperlajari situasi dan kondisi keadaan rumah pak Darma, dirinya telah bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Sebelum memulai aksinya Adit membawa mobilnya kerumah Dody terlebih dahulu karna kunci dari aksinya adalah Dokter berewokkan tersebut.
Tidak butuh waktu lama Adit telah tiba dikediaman Dody yang merupakan saudar angkat sekaligus asisten hadal miliknya.
Tanpa basa-basi Adit memasukkan mobilnya dihalaman rumah tersebut dan masuk tanpa mengetuk pintu atau pun salam. Seperti itulah kebiasaannya datang tak dijemput pulang tak diantar. Datang tiba-tiba menghilang entah kemana.
Adit melihat keadaan rumah Dody yang sepi karna memang pria itu tinggal sendirian dirumah. Dengan alasan kalau kedatangan Adit dia tidak usah mencari sebab atau mencari alasan kedatangan mahluk tak kasat mata seperti Aditiya.
"Sudah datang" Tanya Dody yang masih fokus pada leptop di meja ketika mendengar suara langkah tamunya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Adit antusias ketika disamping Dody.
"Tidak terlalu buruk"
"Dod, apa kau bisa menghendel Wawan? " Tanya Adit yang mendapat tatapan tajam pria disampingnya itu.
"Emangnya kamu gak bisa urus anak buah kamu sendiri? " Tanya Dody ketus.
Adit tidak pernah marah akan apa pun yang diucapkan oleh Dody, karna baginya selama tindakan Dody tidak menyalahi aturan atu membahayakan dirinya tidak jadi masalah buat seorang Aditiya.
"Aku malas mengurusnya" Jawab Adit santai.
"Huffff....."
Helaan nafas Dody begitu berat, belum selesai pekerjaannya sudah ditambah. Kalau bukan karna uang, dia enggan melakukannya.
Itulah Manusia semua bisa dilakukan jika uang yang berbicara.
"Nanti aku urus setelah ini"
Mendengar jawaban Dody, Adit menganggukan kepala tanda mengerti.
"Telah selesai apa belum? " Tanya Adit tidak sabaran.
"Dikit lagi, tinggal membuat kode supaya kita mudah mengelabuhi sistem mereka" Jawab Dody yang masih setia mengotak-atik laptop nya.
"Dod, masalah bom gas yang dimiliki Liza"
Belum selesai Adit berbicara, Dody telah memotongnya.
"Itu buatan pak Malik"
"Bagaiman kamu tahu? " Tanya Adit penasaran.
"Karna aku juga terlibat dalam pembuatannya"
"Jadi kamu juga punya? " Tanya Adit antusias.
"Jika kamu mau, boleh" Jawab Dody sambil tersenyum penuh arti.
"Tidak geratis kan? " Adit seolah tahu jalan pikiran pria itu.
"Emmm.... "
Balas Dody hanya dengan gumam saja, hingga mereka terdiam sesaat. Adit yang paham kalau Dody perlu ketenangan untuk pekerjaannya yang satu ini.
__ADS_1
Hinga teriakan Dody mengejutkan Adit.
"Binggo...."
"Kamu bisa berangkat, tunggu dulu aku ambilkan bom bius untuk mu" Ucap Dody sambil berlalu menuju kamarnya.
Adit menunggu sambil mengedarkan penglihatanya dirumah saudara angkatnya tersebut yang sangat sepi tanpa ada pernak pernik hiasan dinding apa lagi figur foto disana.
Dody datang membawa kotak berukuran kecil, dan menyerahkannya kepada Adit.
"Hanya ini? " Tanya Adit ragu.
Dody hanya menganggukan kepala menjawab pertannyaan Adit.
"Cepatlah pergi, aku ingin menemui seseorang" Ucap Dody sambil mendorong tubuh kekar Adit menuju pintu depan.
"Emangnya siapa? " Tanya Adit ingin tahu.
"Bukan urusanmu, urusan kita bisnis or bisnis"
Adit pun tidak meneruskan ucapannya, karna bagi Adit tidak ada untungnya.
.
.
.
Menuju kediaman pak Darma.
Adit melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hinga tiba didepan dihalaman rumah yang cukup sepi.
Waktu baru menunjukan pukul 09.12 malam yang berati terlalu dini memulai aksinya. Tapi bagi seorang mister MP hal itu buakan masalah.
(Aku siap)
(Tunggu sebentar)
Tidak lama kemudian, lampu mati yang menandakan bahwa sistem telah dikuasai oleh Dody. Adit tersenyum devil, dia segera mesasang kaca mata infla red miliknya ciptaan Dody yang membantunya melihat dalam keadaan gelap.
Adit terus melangkah hinga didepan pagar, ada dua penjaga disana seperti info yang diberikan oleh Dody. Dengan sigap Adit melemparkan bola kecil yang tadi diberikan oleh Dody, bola yang terdapat bius didalamnya. Tidak lama kemudian asap bius menyebar disebabkan gesekan.
"Apa ini? " Teriak seorang penjaga, namun tidak lama kemudian dia terkapar bersama rekannya.
Adit tersenyum puas melihat hasil karya yang disemunyikan oleh Dody.
"Kalau tahu ada benda seperti ini, dari dulu aku tidak akan merasa kesulitan membius mangsaku" Batin Adit.
Adit terus menerobos masuk, membuka pintu dengan duplikat kunci yang dimilikinya.
Sebisa mungkin Adit merendam suara langkah kakinya, mengendap menuju lantai atas kamar pak Darma.
Cahaya senter sesekali terlihat oleh Adit yang menandakan ada orang, melihat keadaan itu Adit menghentikan langkahnya.
"Duh kenapa mati lampunya"
"Dul, Wok, Mana kalian? " Teriak pak Darma mencari keberadaan anak buahnya. Namun tiba-tiba, dirinya dibekap dan pingsan.
"Mudah sekali menagkap orang tua ini" Batin Adit merasa puas.
Adit membawa tubuh gempal pak Darma menuju keluar, melihat keadaan yang aman karna mati lampu Adit segera memasukan pak Darma kedalam mobil dan membawanya pergi.
__ADS_1
Setelah listrik menyala, keadaan rumah pak Darma gempar akibat hilangnya lelaki itu tanpa jejak. Satpam yang menjaga didepan rumah pun tidak sadarkan diri, entah apa penyebabnya.
.
.
.
Dirumah rahasia.
Adit tertawa keras melihat mangsanya yang terikat hingga membuat siapapun merinding mendengar suara tawanya.
"Hahahahaa.... "
"Tuan" Panggil anak buah Adit.
"Aku tidak ingin diganggu" Ucap Adit dingin.
"Ada tuan Wawan" Ucapanya memberi tahu.
"Suruh dia masuk"
Tak...
Tak...
Tak..
Suara langkah kaki mendekat, dan terdengar suara Wawan menyapa Adit.
"Dit, aku mau melapor" Belum selesai Wawan berbicara Adit terlebih dahulu memotongnya.
"Kemeja operasai" Perintah Adit sambil bangkit dari duduknya menuju sebuah kamar yang tidak jauh dari tempat di dusuk tadi.
Tubuh Wawan bergetar hebat, melihat kemarahan Adit. Terlebih melihat pak Darma yang terbaring bankar penyiksaan Adit.
"Cepat"
Terikkan Adit mengagetkannya dengan langkah gontai di menuju ruangan tempat Adit berada.
Melihat keadaan ruangan yang dimasuki,Wawan semakin gemetar ketakutan.
"Dit, aku pulang ya" Ucap Wawan dengan bibir bergetar dan wajah yang pucat.
"Berbaring disana" Perintah Adit yang masih sibuk mengambil alat- alat bedahnya.
"Dit" Lirih Wawan.
"Dimana alat pelacaknya? " Tanya Adit sambil memegang jarum suntik.
"Di kepala" Ucap Wawan sepontan sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Bodoh, dia akan membedah isi otakmu Wan. Mama aku takut mati" Batin Wawan.
.
.
.
...Bersambung... ...
__ADS_1
Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇