
"Emang mempan ancaman seperti itu?" Batin Liza.
Liza merasa aneh akan ancaman yang dilontarkan oleh Adit, bagaimana bisa Dokter muda itu melayangkan ancaman seperti itu? Ini kelas Bedah, dimana para mahasiswa disini ingin menjadi Dokter bedah yang berati tidak memiliki rasa takut akan hal yang berbau operasi.
Adit berdiri didepan papan tulis, dia teringat kalau tidak membawa materi.
"Sial, aku lupa lagi kalau mau jadi Dosen disini" Umpat batin Adit.
Adit berbalik dan menghadap semua mahasiswa yang ada disana tidak terkecuali Liza tentunya.
"Kita akan perkenalan hari ini karna sepertinya kalian belum tentu bisa menerima materi saya, yang sudah menyandang gelar Dokter" Ucap Adit sombong.
Semuanya berjalan sesuai pridiksi Adit, tidak ada bantahan dari para mahasiswa. Semua berjalan lancar hingga mata kuliah selesai.
.
.
.
Waktu menunjukan pukul 12.15 Waktu untuk mengisi tangki perut, begitu pula dengan Adit. Dia membawa langkahnya keluar dari kelas dan ingin ke kantin tapi niatnya dihalangi oleh Liza dan Bagas.
"Pak bagaimana dengan Saya? " Tanya Bagas yang melihat Adit akan beranjak keluar.
"Liza, kamu bawa dia keruangan saya" Perintahnya.
"Pak Dosen yang Budiaman, kemana kah ruangan anda? " Tanya Liza menejek.
Adit terdiam sejenak, dia lupa kalau sekarang menjadi Dosen bukan Dokter.
"Bawa keruangn Raeshya, nanti saya menyusul" Ujarnya sambil berlalu meninggal Liza dan Bagas yang saling menatap.
"Apa pak Adit serius? " Tanya Bagas kepada Liza.
Liza hanya mengankat kedua bahu tanda tidak tahu, namun mereka tetap melaksanakan tugas itu, pergi keruangan ibu Raesyha.
__ADS_1
Adit terus melangkah entah kemana, karna dia belum hafal area kampus yang baru dibangun itu. Hingga akhirnya dia ditabrak oleh seseorang dari belakang.
Brukk...
"Auw... "
"Kalau jalan pakai mata dong" Ucap seorang wanita sambil mengelus pantatnya sakit karna terjatuh.
Adit tidak menangapi ucapan wanita itu, dia memilih meneruskan langkahnya.
"Hey, lelaki tua. Sudah salah gak mau membantu pula"
Adit berhenti dan menatap wanita itu tajam. Dia sangat benci sama Manusia menyebalkan.
Wanita itu melihat tatapan pemuda dihadapannya merasa takut, namun dia semunyikan sengan sikap sombongnya.
"Eh, jangan menatapku seperti itu. Nanti naksir loh" Ujarnya dengan percaya diri.
"Kamu memang menyebalkan ya" Ujar Adit dingin.
"Anda itu siapa disini? " Tanya wanita itu tanpa menghiraukan pernyataan Adit barusan.
"Ya, menjadi urusan saya lah. Karna saya asisten ibu Raeshya" Ucapnya dengan bangga.
"Kalau begitu, antarkan saya kekantin" Perintah Adit.
"Eemmm,,, mau gak ya? " Ucapnya mempermainkan Adit.
Adit yang melihat perangai wanita itu pun segera mengambil ponselnya dan menelpon Raeshya. Tidak perlu menunggu lama teleponya sudah tersambung.
(Mau apa lagi?) Tanya Raeshya ketus.
(Siapa nama asisten mu?)
(Emangnya kenapa?)
__ADS_1
(Jangan berbelit, jawab saja)
(Eh, pak Aditiya. Anda baru satu hari menjadi Dosen sudah membuat masalah)
(Jawab saja Raeshya)
Wanita itu mendengar nama Raeshya lalu menegang.
(Sinta, namanya Sinta)
Setelah mendengar jawaban dari Raeshya, Adit menutup teleponya dan menatap wanita dihadapannya dengan sinis.
"Jadi Sinta, apa kamu mau mengantarkan saya ke kantin? " Tanya Adit mengejek.
"Iya pak" Ucapnya cepat.
Adit tersenyum puas, melihat ketakutan wanita itu. Akhirnya dia mempunyai suruhan yang patuh.
.
.
.
Setelah makan dikantin yang sebenarnya menyebalkan menurut Adit, karna banyaknya mahasiswa atau dosen yang berada disana menatapnya sambil berbisik-bisik. Adit keluar kantin dibuntuti oleh Sinta, mereka menuju keruangan Raeshya.
Tiba diruangan Raeshya, belum lagi Adit duduk disofa sudah mendapatkan siraman omelan dari adik Profesor Riduwan itu.
"Anda itu mau jadi Dosen apa Dokter sih? "
.
.
.
__ADS_1
......Bersambung... ......
Dukung author receh ini dengan like and comen ya 😇