Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Negosiasi Tragis


__ADS_3

"Tidak mungkin!" teriak Adit.


Dokter muda itu merasa mustahil jika seorang gadis bar-bar dan ingusan seperti Liza bisa dengan cepatnya mengetahui penyebab koma kedua orangtuanya.


Secara logis, Liza baru saja masuk Universitas. Gadis itu bahkan belum banyak belajar, tidak mungkin dia bisa memecahkan sebuah kasus yang sangat rumit seperti yang dihadapi oleh orang tua Adit.


"Oh, baik my heart."


Adit terkejut akan kata-kata Dody, ia baru tersadar jika Dody masih menelpon seseorang di seberang sana. 


"Dit, aku harus kembali ke rumah sakit," jelas Dody sambil mengemas barang-barangnya. 


Adit segera mencegat pergelangan tangan Dody, membuat lelaki itu menatapnya dengan tatapan penuh akan tanda tanya. 


"Berikan aku penjelasan!" ujar Adit dengan penuh penekanan.


Dody membuang nafasnya kasar, mau menjelaskan apa? Dirinya saja juga tidak tahu apa yang sekarang terjadi.


"Nanti aku cari informasi, kamu siapkan diri untuk malam ini!"


Setelah mengatakan hal itu, Dody segera pergi meninggalkan Adit yang masih dengan sejuta tanda tanya. 


"Aku harus mencari tahu," batin Adit. 


Adit membawa tubuhnya pergi ke sebuah ruangan yang diisi oleh banyak sekali buku. Disana ada sebuah komputer dengan beberapa layar monitor. Lelaki itu mulai mengetik sesuatu pada keyboad, dengan tatapan mata yang serius hingga Adit menghabiskan beberapa jam disana. 


Ketiak Adit masih serius dengan layar komputer,  penjaga rumahnya datang dengan membawakan segelas susu hangat dan roti tawar. Lelaki itu tahu bahwa tuannya belum makan dari tadi, terlebih waktu yang sudah sore. Karena ia tahu bahwa tuannya akan lupa diri jika sudah mencari apa yang diinginkan. 


"Tuan, sekarang sudah sore. Malam ini anda ada misi," jelasnya sambil meletakan nampan berisi susu hangat dan roti tawar diatas meja dan duduk santai di sofa. 


Adit membuang nafasnya kasar, ia segera menghampiri penjaga rumahnya yang merangkap menjadi asisten pribadi.


"Bram, apa mungkin gadis seperti kecebong itu bisa memecahkan sebuah masalah tanpa mempelajari ilmu kedokteran?"


Lelaki yang dipanggil Bram itu tersenyum lebar, saat ini tuannya sedang memikirkan seorang gadis yang menurutnya spesial. Sebab ia juga terkejut, bagaimana dan dari mana gadis itu mengetahui namanya padahal mereka baru bertemu dan tidak banyak berbicara.


"Bisa jadi dia memiliki sesuatu yang spesial, sebab saya tercengang karena gadis bernama Liza itu memanggil nama saya," jelasnya.


Adit mengerutkan dahinya berpikir, walaupun tidak ia bisa dipungkiri jika ada rasa penasaran akan semua hal yang Liza lakukan. Apalagi gadis itu yang merupakan putri profesor Riduwan, mungkin saja memiliki kemampuan seperti ayahnya. 


"Apa mungkin gadis itu memiliki sihir?" gumam Adit yang masih memikirkan segala kemungkinannya. 


"Sihir? Maaf Tuan, ini zaman moderen. Hal seperti itu mungkin sudah tiada," jelas Bram yang memberikan pandangan kepada tuannya.

__ADS_1


"Tidak mungkin sudah tiada atau musnah! Aku yakin jika gadis itu memiliki sihir, sebab sudah berkali-kali aku mendengar dia mengucapkan mantra!"


Sorot mata Adit tajam, menandakan jika lelaki itu serius dengan ucapannya. 


Bram yang tidak ingin membantah apa yang dikemukakan oleh tuannya hanya mengangguk kecil, lalu menyodorkan segelas susu hangat. 


Adit segera menerima susu hangat tersebut dan meminumnya hingga tandas tidak tersisa. Kemudian Adit memakan roti tawar dengan lahapnya. Namun tidak berapa lama kepalanya terasa pusing dan dia tiba-tiba tergeletak tidak sadarkan diri.


"Maafkan saya Tuan!."


.


.


.


Dody melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, lelaki itu ingin segera sampai ke rumah sakit. Rasa penasaran dan juga keingintahuannya membuat lelaki itu gelisah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. 


Kini mobil Dody telah memasuki halaman rumah sakit,  jarak yang lumayan jauh membuat lelaki itu menghembuskan nafas panjang.


Dody segera membawa mobilnya memasuki area parkir, meninggalkan mobil miliknya yang sudah terparkir cantik. Lelaki itu membawa langkah kakinya menuju ruangan profesor Riduwan seperti perintah sang kekasih.


Ketika telah sampai di depan pintu ruangan profesor Riduwan, nyali Dody menciut. Entah mengapa, hari ini ada perasaan yang berbeda. 


"My heart!"


Dody segera menatap wanita cantik yang memanggilnya dengan senyum kecil. 


"Ternyata kamu manis juga," batin Dody. 


"Baru sampai?" tanya Asmara kepada Dody yang mendapatkan anggukan kecil. 


"Ayo, kita keruangan orang tua Dokter Adit! Profesor Riduwan ada disana," jelasnya sambil menarik tangan kekasihnya itu menuju ruangan dimana Pak Adam dan Ibu Hawa dirawat. 


Ketika telah sampai di dalam ruangan itu, Dody melihat Liza yang tengah memegang telapak kaki Ibu Hawa dengan mata yang tertutup. Dody hanya berpikir jika yang dilakukan oleh gadis itu seperti terapi. 


Sehingga suara Profesor Riduwan memanggilnya, membuat Dody segera mendekati lelaki itu. 


"Dokter Dody, kemari."


Dody yang masih menggenggam tangan kekasihnya membuat pandang Profesor Riduwan tertuju kepada tangan mereka yang sailng bertautan. 


"Ehem, bisa duduk sebentar? Oh iya, Dokter Asmara, bisa meminta bantuannya? Tolong panggilan OB kemari?"

__ADS_1


Setelah mendengar perintah itu, Dody segera duduk di hadapan Profesor Riduwan. Sedangkan Asmara segera bergegas keluar dari ruangan itu dan mencari ofis boy, seperti perintah Profesor Riduwan. 


"Mohon maaf Dokter Dody, saya langsung ke intinya. Dimana Dokter Adit?" tanya Riduwan yang heran kenapa hanya Dody yang datang. Dimana keberadaan Adit? Pikirnya. 


Dody menjelaskan bahwa Adit sedang  tidak enak.


"Dokter Adit sedang tidak enak badan, Pof. Nanti jika sudah mendingan akan kesini, lagi pula Dokter Adit sedang bebas tugas," jelas Dody dengan selogis mungkin.


"Bukan itu masalahnya, tetapi ini menyangkut Pak Malik dan Raeshya," terang Riduwan yang ingin tahu perkembangan Pak Malik dan Raeshya dari Adit langsung. 


Walaupun Liza sudah menjelaskan apa yang terjadi, akan tetapi ia ingin mendengar versi lainnya untuk melakukan banding. Apakah ada persamaan atau malah terjadi perbedaan asumsi. 


"Memangnya, kenapa dengan Pak Malik dan Ibu Raeshya?" tanya Dody yang seolah-olah belum mengetahui apapun. 


"Bukan apa-apa," balas Riduwan yang tidak ingin membocorkan informasi tentang Pak Malik dan Raehsya kepada Dody. 


"Bi, racunnya sudah menyebar! Tolong Abi buatkan ramuannya sekarang! Aku berusaha menetralisir sebisa mungkin."


Dody dan Riduwan sampai terperanjat kaget mendengar penjelasan Liza yang tiba-tiba tanpa basa-basi lagi.


"Baiklah, Dokter Dody! Ini berkas yang harus anda pelajari, kita akan melakukan  eksperimen."


Setelah mengatakan hal itu Riduwan pergi meninggal Liza dan Dody yang masih berada disana. 


Dody menatap tajam gadis yang kini tengah duduk sambil menatap kearahnya. 


"Kenapa?" tanya Liza ketus. 


"Disini? Siapa Dokternya?" tanya Dody menyindir Liza. 


Gadis itu tersenyum penuh arti. 


"Mohon maaf Pak Dokter, anda telah didiskualifikasi."


"Apa?"


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...


__ADS_2