Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Dosen baru bikin takut


__ADS_3

"Saya seorang Dokter bedah yang siap merobek tubuh siapa saja yang menyebalkan"


"Anda gila?" Teriak seorang mahasiswa dengan begitu kerasnya membuat Adit tersenyum penuh arti.


Rencananya memancing kecebong berhasil, dia yakin kalau mahasiswa itu adalah pelakunya. Karna hanya dia yang berani menutarakan ketidak sukaannya.


"Siapa namamu?"


"Saya tidak ingin berkenalan dengan anda" Ucapnya dingin.


"Kalau begitu siap-siap besok keluar dari kampus" Ancam Adit, dia geram akan pemuda yang masih ingusan berani menantangnya.


Semuanya diluar expedisi, pemuda itu sujud dibawah kaki Adit sambil memohon.


"Tolong pak Dosen jangan keluarkan saya"


"Hay Bagas, dia itu hanya Dosen magang" Teriak seseorang yang disampingnya.


"Betul juga ya, kenapa aku harus takut" Gumamnya tapi masih bisa didengar oleh Adit.


"Saya tidak takut akan ancaman anda" Ujarnya dengan berani membuat Adit tersenyum sinis.


Adit mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


Tut...


Tut...


"Apa?" Tanya Raeshya ketus setelah telpon tersembung, dia masih kesal akan kelakuan Adit tadi.


(Berikan aku biodata mahasiswa bernama Bagas, Raeshya)" Ucap Adit sambil menekankan kata Raeshya.


Adit yakin kalau pemuda didepannya tahu siapa yang ditelponya.

__ADS_1


"Saya mohon pak Dosen" Lagi pemuda itu bersujud didepan Adit sambil memohon.


(Untuk apa kau mencari tahu tentang Bagas? Dia hanya anak petani yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah) Ucap Raeshya yang masih tersambung ditelepon.


Setelah mendengar pernyataan Raeshya, Adit langsung mematikan telepon. Dia sudah punya kunci besar untuk menekan mental pemuda ingusan dihadapannya.


"Bagas anak seorang petani yang mendapatkan beasiswa ya?" Tanya Adit dengan nada mengejek.


"Kalau iya, emangnya kenapa?" Tanyanya dengan kilatan mata penuh emosi.


Adit bisa melihat itu, pemuda yang dia hadapi mengeluarkan mimik wajah tidak suka akan kata-kata yang diucapnya tadi.


"Bukan kenapa? Tapi kamu harus tahu diri untuk tidak sok jagoan"


"Uuhhh... Seharusnya anda yang tidak sok jagoan, anda hanya Dosen magang disini" Balasnya sengit.


Adit tersenyum, sepertinya dia akan menyukai menjadi Dosen disini. Adit melihat banyak mangsa yang menyebalkan.


"Apa perlu saya menelpon Profesor Riduwan untuk mengeluarkan kamu?"


"Saya adalah Dokter bedah di RS Harapan Bangsa yang dipinta langsung oleh Profesor Riduwan. Apa anda yakin kalau aduan saya tidak ditanggapi oleh beliau?" Tanya Adit menarik ulur kata-katanya.


Tubuh Bagas basah akan keringat, dirinya benar-benar takut akan Dosen dihadapannya.


Tiba-tiba muncul Liza dengan santai sambil duduk dibangku yang masih kosong sambil memberi perintah.


"Pak Dosen, anda harus mengajar"


Semua mata tertuju kepada Liza yang berani bersuara didalam keadaan yang tegang.


Hufff....


Adit membuang nafasnya kasar, dia masih belum bisa menahlukkan gadis bar-bar itu.

__ADS_1


"Nanti kamu masuk keruangan saya" Perintah Adit sambil melangkah menuju papan tulis.


"Dimana ruangan anda pak?" Tanya Bagas ragu-ragu.


Deg...


Adit baru tersadar kalau dia berada di kampus bukan di RS.


"Nanti Liza akan mengantarmu" Perintah Adit.


Semua mata tertuju kepada Liza, mereka heran bagaimana Dosen baru itu bisa kenal Liza lalu muncul praduga.


"Bagaimana pak Dosen kenal dia ya?"


"Dia kan anak OB baru kita ya tentu jadi babu juga"


Bisik-bisik itu masih terdengar oleh Adit, membuatnya geram.


"Kamu, dan kamu KELUAR" Teriak Adit membuat dua orng yang berbisik tadi kaget.


"Apa salah kami pak?" Protesnya yang merasa tidak melakukan kesalahan yang fatal.


"Kalian berdua ingin keluar kelas atau keluar kampus?" Adit mulai mengancam membuat dua mahasiswa tadi mau tak mau pergi keluar sambil menatap tajam Liza.


"Siapa yang melakukan hal menyebalkan akan saya bawa keruang operasi, melihat saya membedah Manusia" Ancam Adit.


"Emang mempan ancaman seperti itu?" Batin Liza.


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung......


Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇


__ADS_2