Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Pov Wawan


__ADS_3

"Adit, sampai kapan kamu akan begini?" Lirih Wawan sambil menatap layar ponselnya yang terdapat foto dia dengan Adit.


"Tuan sudah terkirim" Ucapan asisten wanita ku menyadarkan ku dari lamunan.


"Pergilah, aku inggin sendiri" Perintahku yang ingin menyiapkan diri sebelum kerumah rahasia Adit untuk mengambil mangsanya.


Setelah kepergian asisten wanitaku, pikiranku kembali mengingat akan pertemuan ku dengan Adit si Mister M.P.


"Bagaimana caranya aku lepas darimu MP?" Batin ku.


Aku sudah lelah, bukan berati aku tidak menyukai uang yang diberikan oleh Adit. Namun aku takut akan kegilaan Adit dalam membunuh seseorang.


Aku yang memang sering disuruh oleh Adit ketempat esakusinya dihutan sering membuat nyali ku menciut. Bukan tanpa sebab karna tempat itu angker menurutku.


Aku sudah banyak melihat tulang tengkorak Manusia disana, hal itu membuat diri ini enggan kesana. Tetapi Adit tidak pernah memperbolehkan siapapun kesana kecuali aku sorang.


"Mama...Bawa aku bersamamu" Batin ku berdoa.


...Setelahku rasa cukup dengan renungan tadi, akupun bangkit dari duduk lalu membawa gontai tubuh ini keluar ruangan....


...Ketika aku turun kebawah, kulihat para ahli maksiat yang melakukan kelakuan laknatnya. Bukan sok suci, tapi aku merasa muak akan kehidupan malam yang gelap ini....


...Didalam hati kecilku ingin sekali mengakhiri semuanya, lalu memulai hidup yang baru. Namun itu hanya mimpi karna aku telah terikat dengan Adit....


"Hufff...."


...Ku hembuskan nafas, mengusir kegundahan yang mulai menggoyahkan iman. Ketika berpasan dengn asisten kerja sekaligus rancang....


"Jaga rumah"


...Ucapku sambil berlalu meninggal tempat laknat menuju tempat keramat....


...Menuju pakiran mobil, kulihat keadaan mulai ramai karna sudah jam operasi, kubawa mobil dengan kecepatan sedang hinga kurang lebih 59 menit waktu yangku butuhkan untuk sampai dirumah rahasia Adit. Faktor jalan yang masuk kehutan terlebih lagi jiwa penakutku yang membuatnya memakan waktu....


"Tittt.... "


...Kubunyikan kelakson menandakan kehadirannku, supaya penjaga rumah keramat itu keluar....


"Aku mengambil pesanan" Ucapku ketika dihadapan penjaga Adit itu, seperti biasa pria yang entah siapa namannya karna aku tidak ingin berkenalan itu hanya mengangguk kan kepala sambil membukakan pintu.


...Masuk keruangan bawah tanah rumah ini membuat ku mual, bukan tanpa sebab bau menyengat entah apa itu selalu menjadi penyambut setiap kedatanganku....


...Melihat seorang wanita dewasa yang sexsi dengan body yang waw, aku mulai tergoda. Namun aku urungkan niatku mencicipi mangsa Adit kalau disini. Tapi kalau kerempatku jangan ditanya, ludes....


...Dengan susah payah aku mengangkat tubuh wanita yang aku pun tidak tahu namanya. Karna Adit tidak menjelaskan apapun, melihat penjagan yang hanya memandangiku tanpa niat membantu membuatku geram....


"Biar saya yang bawa tuan"


...Akhirnya kata-kata itu yang ku tunggu, aku tersenyum sambil membuntuti pria kekar itu hinga sampai dimobil....


"Terimakasi" Ucapku setelah dia selesai meletakan wanita itu dibangku penumpang dibelakang mobil.


...Seperti biasa dia hanya menganggukan kepala tanpa berbicara, sama seperti tuannya yang irit ngomong....


...Aku tidak perduli yang penting cepat kabur dari sini menuju zona aman....


...Ketika mobil yang ku bawa tengah memasuki jalan raya tiba-tiba ada sebuah mini bus yang menghadang....


"Keluar" Teriaknya.


...Aku enggan keluar karna menurutku mereka mencurigakan. Benar dugaanku mereka turun dengan membawa pistol dan menembak mobilku yang tadi disuruh berhenti secara paksa oleh mereka....


"Keluar" Teriaknya sambil mengedor pintu mobilku.


"Ada apa? " Tanyaku sambil menurunkan kaca mobil yang diluar dugaan merka menyemprotkam gas yang membuatku pusing dan akhirnya tidak sadarkan diri.


...Entah berapa lama aku pingsan karna menghirup gas bius orang yang mencegatku....

__ADS_1


"Kamu apakan putri ku? " Teriak seorang pria yang gempal badaannya kepadaku.


"Saya tidak mengerti? Jawabku polos.


"Bagaiman? " Tanya pria itu keseseorang berbaju jas putih seperti Dokter.


"Dia jujur"


"Hey, siapa yang menyuruhmu ha? "


"Maksudnya? " Tanya ku binggung.


"Kenapa kamu menculik putriku? "


"Emangnya siapa putri anda? " Tanyaku yang memang tidak memgenal putri pria itu.


"Kali ini bagaimana?"


"Dia jujur tuan"


...Melihat dan mendengar percakapan mereka menyadarkanku kalau saat ini tenggah diinterogasi dengan alat kejujuran. Tapi ya g membuatku heran adalah dimana alat itu karna saat ini aku hanya terbaring dibankar....


"Cepat katakan"


"MP"


...Teriakan pria itu mengagetkan ku yang membuat mulutku bocor....


"Cari tahu tentang MP"


"Lalu bagaimana dengan dia tuan"


"Lepaskan saja, kita tetap bisa mengetahui keberadaannya"


...Setelah mendengar pernyataan pria tadi aku pun beramsumsi kalau telah terpasang alat lacak ditubuhku. Tapi dimana hinga aku merasa sakiy dibagian kepala bagian belakang....


"Lepaskan dia"


...Aku di suruh bangun dengan paksa dan di dorong keluar dari rumah megah itu, tanpa sengaja aku melihat wanita yang menjadi mangsa Adit tengah berbicara dengan pria yang tadi didalam rumah....


"Sayang, ini bapak. Bapak kamu, pak Darma"


"Maaf, saya tidak mengenal anda"


"Awas kamu MP aku akan menghabisi orang tuamu dan membuatmu memberikan penawar untuk putriku" Teriak pria itu sambil menadahkan kepalanya kelangit.


...Belum sempat aku mencuri pendengar lelaki yang berada dibelakangku menendang kakiku....


"Masuk" perintahnya.


"Bawa dia ketempat asalnya".


...Mobil yang ku tumpangi benar-benar membawaku kembali kerumahku. Setelah itu mereka menendang tubuhku dari mobil dan berlalu begitu saja....


...Aku segera masuk kerumah dan mengambil ponsel yang ku tinggal didalam kamar lalu menelpon Adit....


...Aku lihat waktu masih sore yang menandakan aku semalaman tadi pingsan dan belum melapor....


(Halo)


Seperti biasa, Adit hanya diam tidak menjawab walau teleponku sudah diangkat.


(Adit, maaf aku keteledor mangsamu lepas)


...Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum melanjutkan ucapanku....


(Ternyata Desy membawa alat lacak yang membuat orang tuanya tahu keberadaan Desy dan menyelamatkannya walau Desy sudah tidak mengigat apa pun tapi orang tuanya akan mencari penawar itu dari kamu dengan cara menukar orang tuamu).

__ADS_1


(Apa? Kamu bagaimana sih?)


(Aku tidak tahu Dit, mereka mencegatku ketika dijalan dan kini aku pun telah ditancap alat pelacak jadi tidak bisa banyak membantumu)


(Pokonya aku gak mau tahu, kamu harus habisi mereka semua atau kamu yang akan aku habisi)


"Bodoh, dia akan membedah isi otakmu Wan. Mama aku takut mati" Batinku.


...Seperti biasa Adit menutup telpon tanpa menunggu jawaban dariku....


"Sebaiknya aku mandi dulu nanti malam baru menghubunginya lagi" pikirku sambil berlalu menuju kamar untuk mandi dan beristirahat karna tubuhku sangat lelah.


...Aku ternyata ketiduran, membuat ku kalang kabut. Hingga aku mencari ponsel yang sudah berkali-kali panggilan tidak terjawab dari Adit. Ketika aku ingin menelpon balik tiba-tiba panggilan masuk dari Dody....


(Halo)


(Kemarkas Adit)


Tut....


...Hanya menyampaikan itu, lalu dimatikan teleponnya, aku benar-benar takut tanpa basa basi aku mengambil kunci mobil dan cap cus ke TKP....


...Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karna waktu telah malam membuatku takut akan kemarahan Adit. ...


...Ketika sampai dirumah rahasia milik Adit yang disebut Dody markas aku langsung menuju ruang bawah tanah....


Tak...


Tak...


Tak...


Suara langkah kakiku menuruni tangga.


"Dit, aku mau melapor" Belum selesai aku berbicara Adit terlebih dahulu memotongnya.


"Kemeja operasai" Perintah Adit sambil bangkit dari duduknya menuju sebuah kamar yang tidak jauh dari tempat di duduknya tadi.


Tubuh ku bergetar hebat, melihat kemarahan Adit. Terlebih melihat pak Darma yang terbaring di bankar penyiksaan Adit.


"Cepat"


Terikkan Adit mengagetkanku dengan langkah gontai aku bawa tubuh ini menuju ruangan tempat Adit berada.


Melihat keadaan ruangan yang dimasuki,aku semakin gemetar ketakutan.


"Dit, aku pulang ya" Ucapku dengan bibir bergetar dan wajah yang pucat.


"Berbaring disana" Perintah Adit yang masih sibuk mengambil alat- alat bedahnya.


"Dit"


"Dimana alat pelacaknya? " Tanya Adit sambil memegang jarum suntik.


"Di kepala" Ucapku sepontan sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Bodoh, dia akan membedah isi otakmu Wan. Mama aku takut mati" Batin Wawan.


.


.


.


...Bersambung... ...


Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇

__ADS_1


__ADS_2