
"Apa? "
Teriakkan Adit memenuhi seluruh ruangan, kali ini Adit benar-benar tidak menduga dengan yang terjadi.
Liza mengedarkan penglihatanya, dia merasa aneh dengan orang-orang yang di serangnya tadi.
"Perasaan mereka cuma terluka sedikit? Ko udah terbujur kaku ya? " Batin Liza binggung.
Adit yang melihat tatapan Liza pun segera mengalihkan pikiran gadis itu.
"Coba kita cari ayah dan ibu" Ajak Adit.
"Tolong.... " Teriak pria itu berusaha bergerak, dia tidak ingin mati seperti rekannya.
"Pak Dokter, sepertinya anda harus membantunya? " Pinta Liza.
"Sudah, jangan diurus nanti ada yang mengurus" Ucap Adit acuh, sambil menuju keluar. Kini pikiran Adit menerka, bagaimana orang tua Desy bisa mengetahui kalau dia dalangnya.
"Pak Dokter" Panggil Liza yang bingung harus bagaimana melihat keadaan orang yang dia lumpuhkan tadi.
"Emmm... "
Adit enggan untuk menanggapi ucapan gadis itu, hingga bunyi kelason mobil membuatnya menuju pintu depan.
Pit....
__ADS_1
Ketika Adit hendak melewati dua orang yang telah dilumpuhkan oleh Liza, dia tidak sengaja mencium aroma aneh.
"Aroma ini sepertinya obat bius" Batin Adit.
"Tuan... " Sapa anak buah Adit ketika didepan pintu yang mengagetkannya.
"Kamu urus semuanya, dan satu hal lagi jangan mencurigakan" Perintah Adit yang langsung dilaksanakannya.
Adit berpikir keras bagaimana orang tua Desy pak Darma bisa mengetahui tentang dia sampai menculik kedua orang tuanya.
Ketika Adit tenggah asik Berfikir, Liza mendekat dan bertanya dengan nada marah.
"Apa anda membunuh mereka? "
Adit hanya memandang sekilas gadis itu, tanpa menjawab Adit meninggalkannya berlalu. Karna kini pikiran Adit tengah kalut memikirkan kengkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
"Aku bukan bapak mu" Balas Adit ketus.
"Pokoknya anda harus bertanggung jawab"
Adit yang mendengar kata tanggung jawab pun memikirkan, bahwa yang harus dia curigai adalah Wawan karna dia yang menjemput Desy dari tempat persembunyiannya.
Tanpa merasa bersalah sama Sekali Adit meninggalkan Liza yang masih mengomel tak jelas. Adit menuju kamarnya, karna disana tempat yang aman dari gangguan. Lagi pula Adit harus memberi ruang anak buahnya menyelesaikan tugas.
Liza yang melihat Adit pergi begitu saja membuatnya makin marah apa lagi melihat sikap Adit yang tidak perduli dengan mayat yang tergeletak. Bukan apa, Liza merasa mustahil kalau serangannya bisa membunuh orang-orang itu.
__ADS_1
Melihat mayat yang diseret oleh seorang pria yang entah kapan datang membuat Liza tidak tahan lagi.
"Kemana anda mau membawa mereka? " Tanya Liza, namun tidak ada jawaban seolah pria itu tuli.
"Hey, anda bisa saya laporkan kepolisi" Teriak Liza geram, namun lagi dan lagi apa pun yang dia ucapkan tidak digubris oleh pria itu hingga semua mayat telah di masukan kedalam mobil ambulan.
Melihat mobil amubulan membuat Liza bernafas lega, dia berfikir kalau mayat-mayat tadi akan dikebumikan atau diotopsi.
"Mudahan tidak terjadi apa-apa " Batin Liza berharap.
Tanpa satu kata, pria itu meninggalkan rumah tuannya. Membawa 6 mayat dan satu orang yang masih hidup namun dalam keadaan pendarahan.
Ketika mobil itu telah kenjauh, Liza segera mencari keberadaan Adit. Dia harus membuat perhitungan dengan Dokter muda itu akan semua hal yang terjadi.
Ketika langkah Liza menaiki tangga untuk keloteng atas, dia tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak seharuanya.
"Apa itu??? Ya Allah lindungi hamba" Batin Liza takut.
.
.
.
...Bersambung... ...
__ADS_1
Dukung author receh ini dengan like and comen ya 😇