Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Bertemu Mangsa


__ADS_3

Adit keluar dari mobilnya dan menghampiri Liza dengan wajah memerah karena marah. Aura mengerikan yang terpancar seperti sinar laser yang mampu meluluh-lantahkan sebuah kota. 


Namun ketika sudah di hadapan Liza, aura yang tadi membara padam seketika. 


Gadis itu tersenyum manis menatap Adit, membuat lelaki itu mematung ditempat.


"Pak Dokter, kesini?" tanya Liza sambil mendekati Adit. 


Keadaan yang ramai, karena mereka saat ini berada di tepi pantai. Seolah sunyi bagi Adit, tatapannya menjadi kosong. Entah apa yang menghipnotis lelaki itu sampai seperti sekarang.


"Pak Dokter, ayo ikut aku," pinta Liza yang masih setia berdiri di hadapan Adit. 


Adit tersadar setelah mendengar ucapan Liza, tanpa penolakan sama sekali. Adit mengikuti langkah gadis itu menuju kursi panjang yang tersedia di sepanjang pesisir pantai. 


Kini mereka duduk dengan saling berhadapan, wanita yang disamping Liza memeluk erat langan gadis itu. 


"Kakak jangan takut, kenal 'kan. Ini Pak Dokter, nanti dia akan menyembuhkan Kakak," terang Liza.


Adit ternganga mendengar ucapan gadis itu, sejak kapan dirinya mengatakan ingin menyembuhkan Desy? Yang ada Adit akan mengirim wanita itu ke liang lahat. 


"Tanpa dibunuh pun? Manusia akan mati! Biarkan Tuhan melakukan tugasnya," jelas Liza seakan tahu apa  yang dipikirkan Dokter muda itu.


Adit hanya menatap jengah akan apa yang diucapkan oleh Liza, hingga ponsel miliknya bergetar hebat tanda ada panggilan masuk. 


Seperti biasa, setelah mengangkat telepon, Adit hanya diam dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh seseorang di seberang sana hingga panggilan berakhir. 


"Ayo, kita kesana!" terang Liza sambil bangun dari duduknya dan menarik pergelangan tangan Desy. 


Lagi dan lagi, Adit  dibuat syok oleh tingkah Liza. 


"Ayo!" teriak Liza yang sudah menjauh. 


Perasaan Adit menjadi aneh, kenapa ia tidak menolak permintaan gadis itu? Adit malah mengikuti apa yang diperintahkan tanpa membantah. 


"Magis apa yang dia miliki?" batin Adit. 


Kini mereka bertiga masuk kedalam mobil Adit, Liza dan Desy duduk di kursi belakang dengan Adit yang memegang kemudi mobil.


Adit membuka ponselnya sebelum melajukan mobil, ia melihat titik koordinat yang dikirim oleh penjaga rumahnya itu terlebih dahulu. 


Setelah ia mengetahui lokasi yang akan dituju, Adit mulai menjalankan kendaraan beroda empat itu. 


Tidak butuh waktu lama mereka telah sampai di sebuah gedung yang kosong, Adit ragu untuk masuk karena ada Liza dan Desy. 


Walaupun Desy kehilangan ingatan, akan tetapi dia mungkin tidak akan kehilangan perasaan takutnya. 


"Ayo, kita masuk," ajak Liza sambil menarik Desy agar wanita itu mau keluar.


Adit semakin ragu untuk keluar dari mobilnya dan masuk ke gedung itu, hingga seseorang yang sangat  ia kenal mendekat. 


"Tuan, mereka ada di dalam," jelasnya memberitahu Adit. 


Adit hanya mengangguk, akan tetapi tatapan matanya menyipit ketika ia melihat Liza dan Desy yang sudah masuk ke dalam gedung itu. 

__ADS_1


Tanpa ragu lagi, Adit keluar dari mobilnya dan menyusul kedua wanita tadi dan diikuti oleh penjaga rumahnya. 


Setibanya mereka di dalam gedung itu, keadaan sepi. Namun di luar ekspedisi mereka ada serangan mendadak yang membuat mereka panik seketika. 


Dor… .


Terdengar suara tembakan tertuju ke arah Liza, akan tetapi gadis itu bisa menghindar. 


"Hentikan! Kalian bisa melukai Desy! Anak Pak Darma!" 


Teriakan nyaring dari Liza terdengar memenuhi seluruh ruangan tersebut. 


Adit yang baru saja datang sampai terlonjak kaget mendengar suara yang melegar dari Liza. 


"Hahaha… , kamu pikir bisa menjadikan anak Pak Darma sebagai tameng?"


Suara seseorang berbicara, akan tetapi mereka tidak melihat keberadaan orang tersebut.


Adit berusaha membangkitkan naluri membunuhnya, mencari keberadaan  orang yang berbicara itu. Namun fokus Adit buyar ketika suara benda keras terdengar. 


Duar… .


"Aku tidak ingin menyakitimu! Jadi jangan buat aku marah!"


Lagi Adit merasakan perasaan bergetar ketika mendengar suara Liza, gadis itu memiliki magnet yang sangat kuat. 


Liza melemparkan sebuah batu ke atas yang ternyata sebuah CCTV, Adit sampai tidak memperhatikan benda itu ada disana. 


Ucap orang itu, akan tetapi masih belum menunjukkan batang hidungnya.


"Namaku Nur Haliza, jangan salahkan aku jika nanti kau menyesal!"


Setiap kata yang terucap oleh gadis itu penuh akan penekanan.


"Baiklah, aku akan memberikan penawaran!"


Jelas orang itu yang seakan enggan berhadapan dengan Liza. 


"Keluar dari persembunyianmu! Sebelum aku menarikmu secara kasar!"


Setelah mengatakan hal itu, tidak berapa lama muncullah seorang pemuda yang menggunakan kacamata. 


"Bebaskan Pak Darma!" ucap pemuda itu mulai bernegosiasi dengan lawannya. 


Semua mata tertuju kepada Adit, tentu mereka tahu kalau Adit 'lah yang menyekap Pak Darma. Kecuali Desy karena ia kehilangan ingatannya, ayahnya saja dilupakan apalagi mau mencari tahu keadaan lelaki itu. 


"Baiklah! Tapi ada syaratnya!"


Kini Adit yang mulai bernegosiasi, mencoba mencari celah agar ia mendapatkan keuntungan atas kejadian ini. 


"Mua atau tidak! Terserah kalian," balas pemuda itu sambil berbalik badan. 


Namun suara Liza menghentikan langkahnya. 

__ADS_1


"Malam ini! Jam 10!"


Pemuda itu berbalik dan tersenyum lebar menatap Liza. 


"Baiklah, aku tunggu disini!"


Setelah diel, Liza kembali menarik Desy untuk keluar dari tempat itu. Adit yang masih melogo dengan apa yang terjadi ditarik oleh penjaga rumahnya. 


"Ayo Tuan."


Ketika didepan mobil,  Adit segera menarik tangan Liza dan mencegah wanita itu naik ke dalam mobilnya. 


"Ada apa?" tanya Liza ketus. Gadis itu seakan tidak memiliki perasaan takut terhadap Adit. 


Sang penjaga rumah Adit mencoba menengahi kedua orang itu. 


"Tuan … ," belum ia berkata ucapannya telah dipotong oleh Adit. 


"Antar mereka ke rumah sakit!" perintah Adit sambil berlalu. Tanpa memperdulikan teriakan Liza.


Pikiran Adit saat ini tertuju kepada Pak Darma yang berada di markasnya. Dia yakin jika orang-orang tadi memiliki maksud lain. Karena tidak mungkin mereka dengan mudahnya menerima permintaan Liza. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik ini semua. 


"Aku tidak akan lengah! Akan kubunuh kalian semua jika berani bermain dengan seorang MP!" batin Adit. 


**********************************************


Setelah kepergian Adit, Liza dan Desy diajak oleh lelaki yang mereka tidak ketahui namanya itu.


Desy sangat ketakutan, dia berada di posisi bingung dengan apa yang terjadi. Terlebih saat ini wanita itu di dalam mobil bersama orang asing. 


Hingga suara Liza terdengar memberi perintah kepada lelaki yang duduk dibalik kemudi. 


"Sebelum ke rumah sakit, tolong berhenti dijalan x," pinta Liza, akan tetapi tidak ada respon dari lelaki itu. 


"Tuhanmu tidak akan marah! Kita hanya menepi untuk mengambil mobil Kak Desy, lagian yang harus kerumah sakit adalah aku, bukan Kak Desy," jelas Lisa panjang lebar agar lelaki itu mau menuruti permintaannya. 


Namun seakan sia-sia yang diucapkan, lelaki itu masih tidak merespon ucapanya. 


"Pak Bram!"


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak membuat Liza dan  Desy kaget. 


"Ulangi ucapanmu tadi!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...Dukung author receh ini dengan like end comen ...

__ADS_1


__ADS_2