Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Pov Aditya.


__ADS_3

Setelah memakan roti dan minum susu, kepala aku tiba-tiba pusing dan akhirnya aku kehilangan kesadaran. 


Entah apa yang terjadi, hanya itu yang aku ingat. Berkali-kali kucoba mengembalikan kesadaran ini. 


"Sebenarnya, apa yang terjadi?" lirihku mencoba mengingat sesuatu. 


Namun, semakin aku berusaha mengingat, kejadian sebelumnya. Semakin pusing kepalaku, sampai aku putuskan untuk memanggil Bram. Penjaga rumahku sekaligus asisten pribadi.


"Bram!  Bramantion!" teriakku dengan keras, akan tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan lelaki itu.


"Ke mana dia?" 


Aku mencoba bangun dari posisi berbaring dan duduk bersandar. Walaupun masih agak pusing,  aku berusaha mencari ponselku. 


"Sial! Dimana benda itu!" umpatku kesal. Aku kehilangan benda pipih yang sangat aku butuhkan untuk saat ini. 


Kucoba atur nafas dan memaksa tubuh ini untuk mau bangun. Aku melangkah dengan sempoyongan, mencoba untuk keluar dari kamar. Namun, betapa terkejutnya aku. Ketika ingin membuka pintu kamar. 


"Sial! Apa aku sedang dikerjai?" umpatku semakin kesal. 


"Awas saja kamu, Bram!" 


Aku yakin ini ulah Bram, karena hanya ada aku dan dia ditempat ini.


Kembali ku atur nafas, aku yakin ini bukan obat yang Dody suntikkan kepadaku. Karena efeknya yang berbeda, pasti ada sesuatu didalam makanan dan minuman yang aku makan tadi. 


"Sial! Sial! Sial! Benar-benar tidak akan kumaafkan."


Kekesalanku semakin menjadi, ketika reaksi aneh menjalar di tubuh. Seperti dimabuk oleh benda terlarang, hal itu yang aku rasakan. 


Mataku lebarkan dan otakku mulai aku mencari-cari celah agar bisa keluar dari tempat ini.


Aku tersenyum devil, ketika aku ingat bahwa ruangan ini ada tempat rahasianya. 


"Kau pikir bisa mengurungku?" 


Aku segera melangkah menuju lantai ubin dan menekan saklar lampu. Akhirnya pintu rahasia itu terbuka, aku segera memasuki ruangan gelap itu. Tempat dimana ruang bawah tanah  berada. 


Ketika telah sampai di dalam, aku dikejutkan akan hilangnya Pak Darma.


"Dimana lelaki tua itu!"


Kemarahan telah mengusirku, aku tidak peduli lagi. Siapapun yang melakukan hal ini, maka akan kubuat menyesal hingga menjadi roh sekalipun. 


"Aku ingin lihat, selicik apa kau?"


Segera aku melangkah menuju ruang penyimpanan senjata, disana tersusun rapi berbagai alat yang digunakan untuk mengeksekusi mangsaku. 

__ADS_1


"Ah, ini sangat bagus! Aku yakin kau pasti suka."


Aku tertawa bahagia melihat sebuah senjata api berlaras panjang yang telah dipermak dengan amunisi yang berbeda. 


Jika, apa umumnya senjata api atau pistol menggunakan peluru. Namun, berbeda dengan milikku yang satu ini. Dia telah ku ubah menjadi senjata rakitan yang luar biasa. 


Tidak ada suara keras seperti senjata api yang lainnya jika digunakan. Milikku tidak mengeluarkan suara, dan lebih hebatnya amunisinya adalah sebuah serum yang dibuat seperti jarum suntik. 


Benar-benar luar biasa, aku sangat bahagia melihat orang lain mati dengan perlahan. Karena seolah-olah mati disebabkan oleh penyakit, bukan seperti telah dibunuh. 


Disitulah kesenanganku, melihat para korban yang berjatuhan dengan sendirinya tanpa perlu mengotori tanganku. 


Setelah amunisi dan senjata sudah siap, aku segera bergegas keluar dari tempat itu. Lagi dan lagi, kesialan menghampiriku. Ternyata pintu ruang bawah tanah ku telah dikunci, kecurigaanku semakin menjadi. 


"Sial! Ini pasti ulah Bram!"


Aku mengatupkan gigi saking kesalnya, karena yang tahu akses kode pintu hanya aku dan Bram saja. 


Berkali-kali aku coba membuka pintu tersebut, akan tetapi hasilnya nihil. Bukan hanya mengunci diriku, namun Bram juga mengganti kode aksesnya. 


Kembali kuperas otakku untuk berpikir, pasti ada jalan untukku keluar. Ini rumahku, dan sebagai pemiliknya aku pasti tahu selut-belut tempat ini dengan baik. 


Aku teringat, bahwa tempat ini memiliki akses lain. 


"Kau pikir, aku bodoh!"


Aku menuju ruangan khusus, disana tempat dimana aku mengakses semua yang ada di rumah. Baik dari CCTV hingga kode akses. 


Aku benar-benar geram, melihat rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa Bram orang yang aku percayai selama ini membawa kabur tawananku dan lebih parahnya mengurungku disini. 


"Baiklah, jika kau ingin bermain-main dengan seorang MP!"


Kuotak-atik keyboard komputer, dengan mata yang jeli menatap layar LCDnya.  Aku benar-benar tidak menyangka telah memelihara penghianat seperti Bram. Lelaki yang aku pungut dari jalanan dan berharap dia bisa menjadi pengikut setiaku hanya membuat aku kecewa.


"Binggo!"


Aku tersenyum lebar melihat semua akses yang telah dipulihkan, karena tempatku yang memiliki keamanan tinggi dan aku yang juga cerdas. Karena meninggalkan akses rahasia yang hanya aku yang bisa membukanya. 


Segera aku langkahkan kaki keluar dari ruangan bawah tanah setelah semuanya selesai, aku benar-benar ingin membuat perhitungan dengan Bram. Biasanya lelaki itu bermain api denganku. 


Apa Bram lupa siapa yang dia hadapi? Dengan lancangnya telah berkhianat.


Sebelum melajukkan mobil yang telah aku naikki, aku tetingat akan ponsel milikku yang belum aku temukkan. 


"Sial! Dimana benda itu!" pekikku kesal dan kembali kedalam rumah. 


Betapa terkejutnya aku melihat jam di dinding rumahku, tubuhku seketika meremang karena kesal. 

__ADS_1


"Sial! Sial! Aku benar-benar menghabisimu Bram!"


Karena tidak ada waktu lagi, aku kembali kedalam mobil dan melesat meninggalkan markas. 


Ternyata waktu telah menunjukkan jam satu dini hari, yang berarti telah lewat masa untuk menukar Pak Darma dengan Pak Malik dan Raeshya. 


Ponsel yang menghilang, ditambah pengkhianatan Bram. Hal ini membuatku benar-benar frustasi.


"Apa maumu sebenarnya, Bram! Aku yakin ada sesuatu yang tidak kuketahui," gumamku sambil berpikir. Alasan apa yang membuat Bram mau mengkhianatiku. 


Kalau masalah uang? Tidak mungkin menurutku, karena setiap bulan nominal yang kuberikan kepada lelaki itu termasuk fantastis.


Dengan amarah yang telah berapi-api, aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tujuan utamaku ke gedung dimana Raeshya dan Pak Malik ditawan. 


"Sial!"


Entah mengapa disaat genting seperti ini hal yang tidak terduga terjadi begitu saja. Ban mobilku meletup dan kini mobil yang dikendarai oleh di sisi jalan. 


Brak… .


Suara pintu mobil yang aku banting, keadaan yang sudah dini hari membuat tidak akan ada yang melewati jalan raya seperti ini. 


"Brengsek! Apa yang harus aku lakukan!"


Aku bingung harus bagaimana, tidak ada ponsel yang berarti tidak ada yang aku bisa hubungi. Apa lagi saat ini berada ditengah jalan yang sunyi.


"Apa aku harus jalan kaki? Argh… ."


Aku benar-benar frustasi, saat ini tidak ada lagi yang namanya Dewa penolong untukku. 


"Aku tidak memiliki Tuhan ataupun Dewa untuk menolong."


Namun, ditengah keputusan asaanku. Ada sebuah mobil yang berhenti dan keluar lelaki yang sangat aku benci. 


"Apa maumu!"


"Hahahahaha…, ini nasib seorang Mister MP?  Ternyata tidak bisa mengelak dari yang namanya musibah," ejeknya kepadaku membuat darah ini mendidih. 


Dor… .


"Mati saja kau!"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...


__ADS_2